Beranda Daerah Solo Potensi Menyebar ke Solo, Dinkes Minta Warga Tak Panik Hadapi Hantavirus

Potensi Menyebar ke Solo, Dinkes Minta Warga Tak Panik Hadapi Hantavirus

Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo, Retno Erawati Wulandari memberikan keterangan kepada awak media terkait langkah antisipasi penyebaran hantavirus di Kota Solo / Ando

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Solo mengimbau masyarakat agar tidak panik menyusul mulai munculnya kasus hantavirus di Indonesia. Meski demikian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Kepala Dinkes Kota Solo, Retno Erawati Wulandari mengatakan, salah satu langkah penting pencegahan adalah menjaga kebersihan lingkungan, terutama dari kotoran tikus yang berpotensi menjadi media penularan virus tersebut.

“Bersihkan debu-debu yang ada di rumah. Terutama yang ada kotoran, tinja atau kencingnya tikus. Bersihkan kencing tikus dan tinja tikus ini dengan sistem wet cleaning,” ujarnya saat ditemui, Rabu (13/5/2026).

Retno menjelaskan, masyarakat sebaiknya tidak membersihkan kotoran tikus secara kering karena debu yang beterbangan berpotensi terhirup dan membahayakan kesehatan. Ia menyarankan penggunaan lap atau kain pel basah serta memakai masker saat membersihkan area yang terkontaminasi.

“Itu supaya debunya tidak ke mana-mana sehingga tidak terhirup manusia. Karena kita tidak tahu apakah tikus tersebut terinfeksi hantavirus atau tidak. Jadi kalau ada kotoran tikus atau tercium bau urin tikus, bersihkan dengan sistem wet cleaning menggunakan lap atau kain pel basah,” sambungnya.

Baca Juga :  Tanggapi Banding AKUWI, Kuasa Hukum Jokowi Serahkan Kontra Memori Banding ke PN Solo

Menurut Retno, Kota Solo juga memiliki potensi terdampak hantavirus mengingat tingginya mobilitas masyarakat dari Yogyakarta ke Solo. Apalagi, akses transportasi seperti KRL membuat arus pergerakan masyarakat berlangsung sangat intens setiap harinya.

“Ada potensi karena Solo dekat dengan Jogja. Mobilitas masyarakat Jogja-Solo juga sangat tinggi. Ada KRL yang sehari berapa kali masuk ke Solo,” terangnya.

Meski demikian, ia menegaskan pencegahan tetap dapat dilakukan secara efektif melalui edukasi kepada masyarakat mengenai pola hidup sehat dan kebersihan lingkungan.

Retno menjelaskan, hantavirus merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengan dua manifestasi utama, yakni menyerang paru-paru atau ginjal. Untuk kasus di Indonesia, manifestasi yang dominan terjadi adalah pada ginjal.

“Kalau di Indonesia ini lebih banyak ke ginjal. Kalau di Amerika lebih banyak ke paru-paru dan angka kematiannya lebih tinggi,” jelasnya.

Baca Juga :  Koni Surakarta Gelar Event Sakputerrun Sekaligus Kukuhkan CDM Ketua Kontingen Porprov 2026

Ia menambahkan, pada kasus yang menyerang paru-paru, penderita dapat mengalami penumpukan cairan di paru-paru hingga sesak napas dan infeksi paru. Sedangkan pada kasus yang menyerang ginjal, risiko yang muncul adalah gagal ginjal.

Menurutnya, tingkat fatalitas penderita tidak hanya dipengaruhi oleh virus itu sendiri, tetapi juga kondisi penyakit penyerta atau komplikasi yang dialami pasien.

“Berat ringannya penyakit penyerta itu nanti juga mempengaruhi tingkat keberhasilan penanganan atau fatalitas dari hantavirus tersebut,” tandasnya. (Ando)

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.