JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat mulai memaksa pemerintah turun tangan lebih agresif.
Tak hanya mengandalkan Bank Indonesia, Kementerian Keuangan kini ikut masuk ke pasar obligasi demi menjaga sentimen pasar dan menahan gejolak rupiah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah telah mulai melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dengan memanfaatkan dana kas negara. Strategi itu dilakukan melalui mekanisme cash management atau pengelolaan kas pemerintah dengan cara membeli kembali obligasi negara yang beredar di pasar.
Purbaya mengatakan, pemerintah menargetkan dana sekitar Rp 2 triliun digelontorkan setiap hari untuk menjaga harga obligasi tetap stabil. Langkah tersebut mulai dijalankan sejak Kamis (14/5/2026).
“Kemarin saja saya sudah targetkan serap Rp 2 triliun, hanya dapat Rp 600 miliar. Artinya yang jual juga sedikit sebetulnya. Jadi kami memastikan harga bond tetap terkendali,” ujar Purbaya usai sidang terbuka Satgas Debottlenecking di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, pemerintah menyiapkan dua skema untuk membantu menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah. Pertama melalui bond stabilization framework dan kedua lewat pengelolaan kas pemerintah.
Namun untuk sementara, langkah yang ditempuh masih terbatas pada penggunaan kas pemerintah. Adapun opsi kedua dengan melibatkan special mission vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan disebut belum diperlukan karena kondisi pasar dinilai masih relatif terkendali.
Sebelumnya, rencana intervensi menggunakan dana kas negara itu sempat diungkap Purbaya usai mengikuti rapat di Istana Negara pada Senin (18/5/2026). Saat itu ia menegaskan pemerintah siap masuk ke pasar obligasi secara rutin setiap hari.
“Saya minta masuk Rp 2 triliun setiap hari,” ujarnya.
Purbaya menjelaskan, strategi pembelian kembali surat utang pemerintah dilakukan untuk menjaga kepercayaan pasar. Ia menilai stabilitas pasar obligasi bisa mempengaruhi pergerakan investor asing dan turut membantu menjaga rupiah agar tidak semakin tertekan.
“Supaya ada sedikit sentimen positif di pasar obligasi. Biasanya kalau sentimen positif di situ, biasanya (investor) asing juga ikut masuk dan rupiah cenderung terkendali,” katanya.
Meski demikian, Purbaya belum membeberkan secara rinci total anggaran yang disiapkan pemerintah untuk operasi tersebut. Ia hanya menyebut pemerintah memiliki cadangan dana kas yang cukup besar dari saldo anggaran lebih (SAL).
“Kan saya punya Rp 420 triliun cash yang SAL itu, saya bisa putar di sana (pasar obligasi). Bisa juga saya putar uang cash saya ke sana,” tuturnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














