Site icon JOGLOSEMAR NEWS

517 Juta dari Film Pesta Babi Mengalir ke Pengungsi Papua, Kisah Solidaritas Penonton yang Menembus Daerah Konflik

Pesta babi

Penyerahan bantuan penonton Pesta Babi. Dok. Tim penyalur bantuan kemanusiaan

JAYAPURA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sebuah film ternyata tidak hanya mampu menghadirkan ruang diskusi, tetapi juga melahirkan aksi nyata yang menyentuh kehidupan banyak orang. Film Pesta Babi–Kolonialisme di Zaman Kita menjadi jembatan solidaritas setelah dana tiket sukarela dari para penonton berhasil dikumpulkan dan disalurkan sebagai bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi internal di Papua.

Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp517.928.770. Seluruh dana tersebut, berdasarkan rilis yang diterima, berasal dari kontribusi sukarela para penonton selama rangkaian pemutaran dan nonton bareng (nobar) di berbagai daerah. Sejak awal, penyelenggara memang telah menyampaikan bahwa hasil donasi tiket akan diberikan kepada warga Papua yang terpaksa meninggalkan kampung halaman akibat konflik bersenjata.

Pengungsi internal Papua berasal dari sejumlah wilayah yang selama beberapa tahun terakhir menjadi lokasi operasi militer maupun konflik bersenjata, di antaranya wilayah Provinsi Papua Pegunungan, Provinsi Papua Tengah, hingga Kabupaten Maybrat di Provinsi Papua Barat Daya. Karena mempertimbangkan kondisi lapangan serta akses penyaluran bantuan, tim kolaborasi film kemudian bekerja sama dengan Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua agar bantuan dapat diterima masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Bantuan yang disalurkan berupa bahan makanan pokok serta bantuan tunai kepada para pengungsi di beberapa titik. Penyaluran dilakukan pada pertengahan Juni 2026 dan menyasar wilayah yang selama ini menjadi tempat tinggal sementara warga yang mengungsi akibat situasi keamanan.

Di Papua Tengah, bantuan diserahkan kepada para pengungsi di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak pada 16 Juni, kemudian dilanjutkan ke Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya pada 18 Juni. Penyaluran dilakukan oleh Ketua Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua, Pdt. Yahya Lagowan, bersama Pdt. Warius Enumbi, Pdt. Elianus Tabuni serta seorang staf Sekretariat Sinode Kingmi.

Di hadapan para pengungsi di Sugapa, Pendeta Yahya Lagowan menyampaikan bahwa bantuan tersebut sepenuhnya berasal dari kepedulian masyarakat yang telah menonton film tersebut.

“Ini anak-anak Tuhan–mereka membuat film Pesta Babi dan memberi sumbangan untuk yang sedang dalam pengungsian. Mereka tidak bisa datang ke sini dan meminta kami yang datang mengantarkan bantuan kemanusiaan,” ujar Pdt. Yahya Lagowan.

Perjalanan tim menuju Intan Jaya tidak berlangsung mudah. Mereka harus menghadapi situasi keamanan yang masih belum kondusif. Selama berada di lokasi, tim mengaku melihat sejumlah pesawat nirawak (drone) beroperasi di sekitar wilayah pengungsian, termasuk di sekitar tempat mereka bermalam dan gereja yang dijadikan lokasi perlindungan sementara bagi warga.

Sementara itu, tim kedua yang terdiri dari Pdt. Marthen Keiya, Pdt. Nataniel Tabuni, dan Pdt. Yairus Elopere juga bergerak menuju wilayah Papua Pegunungan. Mereka menyalurkan bantuan kepada para pengungsi asal Nduga yang berada di dua titik pengungsian di Wamena, yakni Ilekma dan Kimbim, Kabupaten Jayawijaya, serta Distrik Mbua, Kabupaten Nduga pada 17 hingga 18 Juni.

Wilayah tersebut menjadi tempat mengungsi masyarakat dari Distrik Yigi dan Distrik Mbulmu Yalma yang memilih meninggalkan kampung halaman karena kondisi keamanan.

Saat menyerahkan bantuan, Pdt. Marthen Keiya menegaskan bahwa seluruh bantuan yang diberikan berasal dari amanah para penonton film tanpa ada pengurangan maupun penambahan.

“Kami datang dalam rangka membawa sesuai dengan apa yang mereka minta. Kami tidak tambah-tambah dan tidak kurangi, tapi sesuai yang mereka minta–para penonton Pesta Babi, sehingga kami salurkan barang ini. Barang sudah sampai di sini. Kami punya tugas di kantor Sinode, hanya tangisan yang selalu kami naikkan kepada Tuhan. Dengan adanya bantuan demikian ini, kami berani datang kunjungi ibu dan bapak. Kalau tangan kosong, bertemu dengan kami punya umat ini, kami juga rasa sedih,” ungkap Pdt. Marthen Keiya.

Tim kolaborasi film Pesta Babi–Kolonialisme di Zaman Kita menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah membeli tiket sukarela dan berpartisipasi dalam aksi solidaritas tersebut. Mereka menilai kepedulian para penonton telah menghadirkan bantuan yang sangat berarti bagi masyarakat yang hingga kini masih hidup dalam keterbatasan di lokasi-lokasi pengungsian.

Meski seluruh dana donasi telah berhasil disalurkan, tim kolaborasi menilai persoalan pengungsi internal Papua masih memerlukan perhatian berbagai pihak. Kebutuhan pangan, pendidikan, kesehatan, hingga tempat tinggal yang layak masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak keluarga pengungsi.

Pendeta Yahya Lagowan juga menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya perlindungan terhadap masyarakat sipil serta penyelesaian konflik melalui pendekatan damai.

“Negara perlu bertanggung jawab melindungi masyarakat sipil dan mencari solusi untuk bagaimana menyelesaikan konflik ini. Militer dan moncong senjata itu bukan solusi. Kami orang Papua juga merasa negara perlu sekali mengevaluasi pembangunan untuk Papua. Hutan dan tanah yang besar di Papua bukan tanpa pemilik. Ini semua dari nenek-moyang turun-temurun, punya batas-batas, dan sudah diwarisi oleh semua suku bangsa di Papua ini. Tidak ada tanah yang kosong. Jika negara mau membawa perusahaan masuk, tanya dan hargai orang Papua sebagai pemiliknya,” ujar dia.

Solidaritas yang lahir dari layar lebar ini menunjukkan bahwa sebuah karya dapat melampaui fungsi hiburan. Bagi ratusan keluarga pengungsi di Papua, kepedulian ribuan penonton telah berubah menjadi bantuan yang bisa langsung dirasakan di tengah kondisi yang masih penuh tantangan. Aris Arianto

Exit mobile version