SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Nama Kubilai Khan selama ini lebih sering dikaitkan dengan sosok penguasa besar keturunan Genghis Khan yang berhasil mendirikan Dinasti Yuan di Tiongkok. Namun, di balik reputasinya sebagai penakluk, tersimpan warisan budaya dan peradaban yang jauh lebih luas.
Perspektif itulah yang coba diangkat melalui novel “Menghadang Kubilai Khan” karya AJ Susmana. Buku tersebut mengulas sosok Kubilai Khan bukan hanya dari sisi sejarah politik, tetapi juga dari sudut pandang budaya yang membentuk perjalanan peradaban Asia.
Kubilai Khan merupakan cucu Genghis Khan yang berhasil memimpin Dinasti Yuan dan menyatukan wilayah yang sangat luas. Kepemimpinannya dinilai tidak hanya meninggalkan jejak kekuasaan, tetapi juga melahirkan peradaban yang kaya akan keberagaman budaya.
Novel karya AJ Susmana ini berupaya mengajak pembaca memahami bagaimana kepemimpinan Kubilai Khan mampu membentuk peradaban melalui pendekatan budaya, bukan semata-mata melalui ekspansi militer.
Dalam novel tersebut, AJ Susmana mengupas berbagai dimensi budaya yang berkembang pada masa pemerintahan Dinasti Yuan. Berbagai aspek kehidupan masyarakat, tata pemerintahan, hingga proses interaksi antaretnis menjadi bagian penting yang diuraikan untuk memberikan gambaran mengenai kehidupan pada masa itu.
Selain itu, buku tersebut juga menempatkan Dinasti Yuan sebagai jembatan penting yang menghubungkan budaya Asia Tengah dengan peradaban Tiongkok. Kubilai Khan disebut berhasil mengintegrasikan tradisi Mongol dengan budaya Tionghoa sehingga melahirkan era multikultural yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Asia.
Kebijakan-kebijakan yang diterapkan Kubilai Khan juga dinilai memberi dampak besar terhadap perkembangan ekonomi dan budaya. Jalur Perdagangan Sutra berkembang semakin pesat, sistem administrasi multietnis mulai diterapkan, sementara seni dan arsitektur hasil perpaduan budaya Mongol dan Tiongkok berkembang menjadi warisan yang bertahan hingga kini.
Melalui novel ini, AJ Susmana ingin menunjukkan bahwa warisan Kubilai Khan bukan hanya soal kekuatan militer ataupun perluasan wilayah saja, melainkan juga tentang kemampuan membangun harmoni melalui adaptasi budaya.
Novel inilah yang akan dibedah bersama, dijadikan bahan diskusi untuk saling mencerahkan, bertempa di aula kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Surakarta, pada Sabtu (25/7/2026).
Akan hadir sebagai Pembedah, Dr. Sawitri, S.Sn., M.Hum, seorang dosen di UNIVET Sukoharjo, Halim HD, seorang budayawan dan Dr. Jarot, S.Pd, S.Th., M.Si, ketua Imanda Sarva Indonesia. [*]
