Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Momen Milad ke-109 Aisyiyah Sragen Diwarnai Aksi Nyata Dengan Tema Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan Melalui GACA

Momen ratusan perempuan berkain dan berkerudung rapi tampak memadati Gedung IPHI, Kelurahan Nglorog, Sragen kota pada Kamis (23/7/2026). hURI

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM — Momen ratusan perempuan berkain dan berkerudung rapi tampak memadati Gedung IPHI, Kelurahan Nglorog, Sragen kota pada Kamis (23/7/2026).

Terlihat suasana hangat penuh kekeluargaan menyeruak kala ratusan kader dan simpatisan Aisyiyah berkumpul dalam gelaran Pengajian Akbar Milad ke-109 Aisyiyah yang digelar bersamaan dengan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42.

​Mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan melalui GACA (Gerakan Aisyiyah Cinta Anak), Wujudkan Anak Indonesia Bahagia”, forum tersebut menjadi panggung penegasan komitmen Aisyiyah dalam memeluk isu-isu kemanusiaan dan perlindungan anak.

​Bupati Sragen Sigit Pamungkas yang hadir langsung di lokasi mengapresiasi tinggi konsistensi Aisyiyah. Menurutnya, selama lebih dari satu abad, organisasi otonom Muhammadiyah ini berhasil menjembatani nilai-nilai religiusitas dengan aksi kemanusiaan di garis depan.

​”Sering kali dunia memandang agama dan kemanusiaan sebagai dua hal terpisah. Namun, Aisyiyah membuktikan sebaliknya: keduanya adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan,” ujar Sigit dalam sambutannya.

​Dengan menyitir Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 32 tentang luhurnya memelihara kehidupan manusia, Sigit menggambarkan dedikasi para kader Aisyiyah di pelosok daerah yang bekerja tanpa lelah.

​”Ketika seorang kader merawat anak disabilitas di desa terpencil, mendampingi korban KDRT, atau bekerja keras mencegah stunting pada bayi dari keluarga miskin, mereka tak sekadar melakukan aksi sosial. Mereka sedang menjalankan bentuk ibadah tertinggi,” tegasnya.

​Sigit menambahkan, deretan jaringan PAUD, rumah sakit, panti asuhan, hingga klinik kesehatan yang dikelola Aisyiyah menjadi bukti sahih bahwa dakwah mereka berwujud karya nyata, bukan sekadar retorika di atas mimbar.

​Sementara itu, Penyampai Pidato Milad, Dwi Astuti, membakar semangat para kader untuk terus berdikari. Ia menegaskan bahwa masa depan organisasi berada di tangan anak-anak hari ini. Karena itu, sikap rela berkorban harus lahir dari kesadaran internal kader, tanpa bergantung pada uluran tangan pemerintah.

​”Berani berkorban itu artinya mau mengeluarkan apa yang kita miliki. Ingat tagline yang terus kita dengungkan: tiada hari tanpa memberi, tiada minggu tanpa membantu, tiada bulan tanpa iuran, tiada tahun tanpa membangun,” kata Dwi.

​Ia mengungkapkan, lahirnya Gerakan Aisyiyah Cinta Anak (GACA) bersumber dari perenungan mendalam atas Surat An-Nisa ayat 9, yang mengingatkan agar umat Islam tidak meninggalkan generasi yang lemah dan senantiasa mendidik anak-anak dengan tutur kata yang santun.

​Semarak Pembukaan dan Generasi Penerus

​Rangkaian acara diawali secara simbolis melalui pelepasan balon ke udara. Tak sekadar seremonial dan pidato, momen Milad kali ini juga menjadi tonggak sejarah baru dengan dikukuhkannya dua Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) baru, yakni PCA Miri dan PCA Sumberlawang.

​Atmosfer acara semakin semarak saat anak-anak dari TK ABA tampil percaya diri di atas panggung. Jemari mungil mereka lihai memainkan angklung, disusul penampilan tari kreasi “Ayo Sinau” yang memikat para tamu undangan. Keriuhan berlanjut saat pengumuman pemenang lomba serta penyerahan hadiah untuk kompetisi Dai Cilik (Pildacil). Huri Yanto

Exit mobile version