Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Lumpur dan Gas Kembali Menyembur di Oro-oro Kesongo Blora, Warga Dilarang Mendekat

Ilustrasi semburan lumpur | Pngtree

BLORA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Fenomena alam yang selama bertahun-tahun menyimpan potensi bahaya di Kabupaten Blora kembali menunjukkan aktivitasnya. Gunung lumpur Oro-Oro Kesongo di Desa Gabusan, Kecamatan Jati, kembali memuntahkan lumpur, air, dan gas pada Jumat (7/8/2026), memicu kewaspadaan pemerintah daerah mengingat lokasi tersebut memiliki sejarah panjang semburan berbahaya yang bahkan pernah merenggut korban jiwa.

Menanggapi kejadian tersebut, Bupati Blora Arief Rahman langsung meminta seluruh pihak terkait bergerak cepat untuk mengamankan kawasan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah desa, hingga pihak kecamatan diminta segera melakukan pemantauan sekaligus membatasi aktivitas warga di sekitar titik semburan.

“Untuk pasang tanda peringatan ke warga agar tidak mendekat ke lokasi,” katanya, tak lama setelah kejadian.

Data Pemerintah Kabupaten Blora mencatat, semburan kali ini melontarkan material setinggi sekitar 4 hingga 6 meter. Hingga Jumat siang, aktivitas dari kubah lumpur telah terjadi sebanyak sembilan kali, dengan setiap letusan berlangsung sekitar dua sampai tiga menit.

Oro-Oro Kesongo bukanlah fenomena baru. Aktivitas gunung lumpur tersebut pertama kali tercatat pada 2009. Beberapa tahun kemudian, tepatnya Maret 2013, titik semburan bergeser ke arah timur dari lokasi awal.

Sejumlah peristiwa yang terjadi setelahnya menunjukkan bahwa kawasan itu memiliki tingkat risiko yang tidak bisa dianggap sepele. Pada 27 Agustus 2020, getaran akibat aktivitas semburan bahkan dirasakan hingga radius sekitar satu kilometer. Insiden tersebut menyebabkan empat orang mengalami keracunan gas, sementara 18 ekor kerbau dilaporkan hilang.

Aktivitas kawasan itu kembali meningkat pada September 2021 hingga aparat harus memasang garis polisi untuk mencegah warga mendekat. Puncaknya terjadi pada 11 April 2023 ketika sedikitnya 12 semburan muncul secara beruntun. Peristiwa itu mengakibatkan satu orang meninggal dunia akibat menghirup gas beracun.

Kasus warga terdampak gas juga masih terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2 dan 3 Desember 2024, sejumlah warga dilaporkan mengalami sesak napas setelah terpapar gas yang keluar dari kawasan semburan.

Selain mengeluarkan lumpur dan air, Oro-Oro Kesongo juga memuntahkan gas dengan kandungan metana yang sangat tinggi, mencapai sekitar 78 persen. Gas tersebut bersifat beracun sekaligus mudah terbakar sehingga keberadaan masyarakat di sekitar lokasi saat aktivitas meningkat dinilai sangat berisiko.

Karena itu, masyarakat diimbau mematuhi seluruh peringatan yang dipasang petugas dan tidak mendekati area semburan hingga kondisi dinyatakan benar-benar aman oleh pihak berwenang. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Exit mobile version