GUNUNGKIDUL, JOGLOSEMARNEWS.COM — Kebakaran yang sempat mengganggu aktivitas belajar 109 siswa MI YAPPI Natah, Nglipar, Gunungkidul, ternyata menyimpan fakta mengejutkan. Polisi mengungkap dugaan pelakunya bukan orang dewasa, melainkan dua anak perempuan yang masih berusia 14 dan 15 tahun.
Lebih mengejutkan lagi, kedua anak tersebut merupakan kakak-adik.
Polisi mengamankan keduanya setelah melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan keterangan sejumlah saksi serta melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian. Meski identitas dan peran keduanya telah diketahui, polisi belum mengungkap motif di balik pembakaran gedung sekolah tersebut.
Kasat Reskrim Polres Gunungkidul AKP Tri Hartanto mengatakan, penyidik telah meminta keterangan dari kedua anak yang diduga terlibat.
“Berhasil mengamankan dan meminta keterangan daripada terduga pelaku anak. Dua orang pelaku anak ini kakak adik. Semuanya perempuan,” kata Tri dalam konferensi pers di Mapolres Gunungkidul, Jumat (21/8/2026).
Penanganan perkara tersebut dilakukan dengan melibatkan sejumlah pihak karena kedua terduga pelaku masih berstatus anak. Setelah menjalani pemeriksaan, keduanya telah dikembalikan kepada orang tua masing-masing.
Meski demikian, proses hukum dan penyelidikan belum dihentikan. Polisi masih mendalami rangkaian kejadian, termasuk latar belakang dan motif pembakaran.
Dibakar Malam Hari
Dari pemeriksaan sementara, polisi menduga aksi pembakaran berlangsung pada Selasa (18/8/2026) malam.
Bahan bakar solar diduga digunakan untuk memicu api. Selain itu, pelaku diduga memanfaatkan sejumlah bahan yang mudah terbakar, termasuk kertas dan jerami.
Petunjuk mengenai penggunaan solar ditemukan polisi di lokasi kejadian.
“Dari TKP tersebut ditemukan ada satu botol Aqua berisikan sisa-sisa solar dan satu botol air mineral,” kata Tri.
Kapolsek Nglipar AKP Paryadi menambahkan, kedua anak yang diamankan berasal dari keluarga kurang mampu. Ibu mereka diketahui sehari-hari bekerja mencari barang rongsokan.
“Ibunya ini sebagai orang pencari rongsok,” kata dia.
Sebelumnya, pihak sekolah pertama kali mengetahui adanya kerusakan pada Rabu (19/8/2026) pagi. Penjaga sekolah menemukan kondisi bangunan sudah mengalami kerusakan ketika hendak membuka sekolah sekitar pukul 06.30 WIB.
Kepala MI YAPPI Natah Dedy Irawan mengatakan, bagian bangunan yang terdampak berada di area dapur hingga ruang kantor. Salah satu pintu terbakar, sementara bagian blandar dan beberapa reng juga mengalami kerusakan.
“Di dapur itu yang jelas satu pintu kami terbakar, di atas ruang kantor blandar kurang lebih 1 meteran terbakar, beberapa Reng terbakar kemudian jatuh menimpa di asbes,” kata Dedy saat ditemui di lokasi, Rabu (19/8/2026).
Temuan di lokasi saat itu mengindikasikan adanya tindakan yang disengaja. Ceceran yang diduga solar ditemukan mulai dari ruang dapur hingga menuju ruang kelas 4 di bagian ujung sekolah.
Sejumlah titik di belakang gedung juga ditemukan bekas yang mengarah pada dugaan penggunaan bahan bakar tersebut.
Di depan ruang kelas, pihak sekolah juga menemukan kertas yang tampak sengaja ditata.
“Di depan ruang kelas ada kertas yang ditata sedemikian rupa kelihatannya disengaja,” kata Dedy.
109 Siswa Terpaksa Pindah Tempat Belajar
Kerusakan gedung dan masih berlangsungnya proses penyelidikan membuat aktivitas belajar mengajar belum dapat dilakukan secara normal di sekolah.
Sebanyak 109 siswa untuk sementara harus mengikuti pembelajaran di lokasi lain.
Pihak sekolah memanfaatkan tiga tempat yang berada di sekitar sekolah sebagai ruang belajar sementara, yakni Masjid Arohma, Mushala Al Azmi, dan Balai Padukuhan Blembeman 1.
Sekolah bersama pemerintah kalurahan, Kementerian Agama, dan pihak kapanewon juga mulai memikirkan skenario jika proses penyelidikan membutuhkan waktu cukup panjang.
Dedy mengatakan, sekolah perlu menyiapkan lokasi alternatif yang lebih memadai agar kegiatan belajar siswa tidak terus terganggu.
“Ini kita lakukan untuk kedepannya,” ucap Dedy.
Terungkapnya dua terduga pelaku yang masih anak-anak membuat perkara pembakaran MI YAPPI Natah tidak berhenti pada persoalan kerusakan bangunan. Polisi kini masih harus mengurai apa yang melatarbelakangi tindakan tersebut, sementara di sisi lain proses pendidikan puluhan siswa tetap harus berjalan meski gedung sekolah mereka belum dapat digunakan secara normal. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
