Beranda Nasional Jogja Warga Banyurejo Bentangkan Spanduk Protes Pagar Besi Exit Tol, UMKM Terancam Tersisih...

Warga Banyurejo Bentangkan Spanduk Protes Pagar Besi Exit Tol, UMKM Terancam Tersisih  

ilustrasi aksi unjuk rasa

SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Proyek jalan tol yang semestinya membuka akses dan peluang ekonomi baru justru dikhawatirkan menjadi pembatas bagi warga sekitar. Kekhawatiran itu mencuat setelah pagar besi dipasang di ruas Jalan Tempel-Dekso menuju Exit Tol Banyurejo, Sleman, yang dinilai berpotensi mempersempit ruang usaha masyarakat.

Puluhan warga yang tergabung dalam Forum Warga Terdampak Exit Tol Banyurejo menyampaikan keberatan tersebut dengan menggelar aksi di Jalan Tempel-Dekso, Banyurejo, Minggu (16/8/2026). Mereka membentangkan sejumlah poster dan spanduk sebagai bentuk protes terhadap pemasangan pagar di kawasan yang terdampak pembangunan Jalan Tol Yogyakarta-Solo tersebut.

Warga menilai keberadaan pagar besi di ruas jalan provinsi Tempel-Exit Tol Banyurejo bukan sekadar persoalan fisik bangunan. Lebih jauh, mereka khawatir pagar tersebut justru memutus akses dan peluang ekonomi bagi warga, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menggantungkan aktivitas ekonominya dari kawasan tersebut.

Koordinator Forum Warga Terdampak Exit Tol Banyurejo, Agus Wintolo, mengatakan pemasangan pagar tersebut berpotensi merugikan warga yang lahannya terdampak pembangunan tol dan berada di sisi jalan provinsi.

Baca Juga :  Kios Gas dan Warung Nasi di Kotagede Terbakar, 54 Tabung LPG 3 Kg Ludes

Menurut Agus, kondisi tersebut juga dinilai tidak sejalan dengan harapan serta arahan pemangku kebijakan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) agar pembangunan infrastruktur tidak mematikan aktivitas ekonomi masyarakat lokal.

“Pasalnya saat Ngarso Dalem HB X menyatakan sikap bahwa jalan di DIY jangan mematikan UMKM, jalan tol wajib menyediakan lokasi untuk UMKM dan gratis,” terang Agus.

Ia menilai, warga yang tanahnya telah digunakan untuk pembangunan jalan tol semestinya tidak kembali kehilangan kesempatan untuk memperoleh manfaat ekonomi dari keberadaan infrastruktur tersebut.

“Hal itu juga ditegaskan oleh Kepala Dinas Tata Ruang bahwa nanti masyarakat yang tanah digunakan untuk tol yang menghadap jalan provinsi dapat menjadi tempat usaha dan menjadi lahan kuning,” tegasnya.

Karena itu, warga berharap pemasangan pagar besi tersebut dievaluasi. Mereka meminta pemerintah dan pihak terkait memastikan pembangunan jalan tol tetap memberikan ruang bagi masyarakat sekitar untuk mengembangkan usaha, bukan justru membuat mereka semakin tersisih dari jalur ekonomi yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan warga.

Baca Juga :  100 Penyandang Disabilitas Semringah Masuk Istana Agung, Foto Bareng Tamu Penting dan Lihat Museum

Bagi warga, persoalan tersebut menjadi penting karena pembangunan jalan tol telah mengubah tata ruang dan pola aktivitas di kawasan Banyurejo. Jika akses terhadap ruas jalan provinsi justru dibatasi, manfaat ekonomi yang diharapkan dari keberadaan tol dikhawatirkan hanya dinikmati oleh pihak tertentu, sementara masyarakat yang terdampak langsung justru kehilangan ruang untuk bertahan dan berkembang.

Hingga berita ini ditulis, pihak operator pembangunan Jalan Tol Yogyakarta-Solo belum memberikan tanggapan terkait keberatan warga atas pemasangan pagar besi tersebut. [*]  Disarikan dari sumber berita media daring

 

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.