Site icon JOGLOSEMAR NEWS

Outing Class ke Patung Slamet Riyadi, Siswa SD Marsudirini Solo Belajar Makna Perjuangan

Yohanes Prian Budi Purwanto, M.Pd berpose bersama siswa kelas 5 SD Marsudirini Surakarta di depan Patung Slamet Riyadi, Gladag, Solo, saat menggelar kegiatan outing class bertema kepahlawanan | Foto: Istimewa

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Mengenal sejarah perjuangan para pahlawan tidak cukup hanya dengan membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru di dalam kelas. Pengalaman belajar secara langsung di lingkungan sekitar dinilai dapat membuat materi lebih mudah dipahami sekaligus membekas dalam ingatan siswa dalam waktu yang panjang.

Hal itulah yang dilakukan oleh Yohanes Yohanes Prian  Budi Purwanto, M.Pd, guru IPAS SD Marsudirini Surakarta. Sebanyak 30 orang siswa kelas 5 diajak mengikuti outing class bertema kepahlawanan dengan mengunjungi Monumen Patung Slamet Riyadi di kompleks Tugu Gladag, Solo.

Kegiatan tersebut berlangsung sekitar pukul 10.30 hingga 11.00 WIB. Di lokasi tersebut, para siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai sosok Slamet Riyadi, tetapi juga melihat secara langsung patung pahlawan tersebut.

Menurut Prian, sapaan akrabnya, pembelajaran secara langsung di luar kelas merupakan bagian dari upaya menciptakan pembelajaran yang mendalam dan bermakna bagi siswa.

“Salah satu ciri pembelajaran yang mendalam adalah mengaktifkan seluruh panca indera murid-murid,” ujar Prian.

Ia mengatakan, dengan mengajak siswa berkunjung langsung ke patung Slamet Riyadi, rasa ingin tahu mereka diharapkan semakin tumbuh. Siswa dapat melihat dan meraba patung, sekaligus mendengarkan penjelasan mengenai sejarah perjuangan Slamet Riyadi.

Para siswa kelas 5 SD Marsudirini Surakarta tampak antusias menyimak penjelasan Yohanes Prian Budi Purwanto, M.Pd mengenai sejarah perjuangan Pahlawan Slamet Riyadi dalam kegiatan outing class di kompleks Tugu Gladag, Solo | Foto: Istimewa

“Dengan melihat dan meraba patung, serta mendengarkan penjelasan tentang sejarah Pahlawan Slamet Riyadi, diharapkan materi pembelajaran itu akan tinggal di memori murid-murid dalam jangka waktu yang lama karena berkesan,” katanya.

Untuk memberikan kesan dan suasana pembelajaran yang lebih kuat, Prian bahkan mengenakan baju veteran ketika menyampaikan materi kepada para siswa.

Ia kemudian mengajak siswa mengenal sosok Slamet Riyadi, termasuk perjuangannya melawan Belanda dalam Agresi Militer Belanda I di sejumlah wilayah, seperti Surakarta, Yogyakarta, Ambarawa dan Semarang.

Bagi Prian, perjuangan Slamet Riyadi tidak hanya penting dipahami dari sisi sejarah, tetapi juga dari nilai-nilai yang dapat diteladani oleh generasi muda.

“Sosok Slamet Riyadi menginspirasi kami tentang bagaimana beliau berjuang melawan Belanda dalam Agresi Militer Belanda I di Surakarta, Yogyakarta, Ambarawa dan Semarang. Beliau berjuang dalam keheningan tanpa harus memamerkan jasa dan pengorbanannya,” tuturnya.

Menurutnya, keteladanan tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi siswa tentang pentingnya sikap rendah hati dan tetap fokus pada tujuan.

“Beliau mengajarkan kami murid-murid tentang nilai kerendahan hati dan fokus dengan satu tujuan,” ujarnya.

Yohanes Prian Budi Purwanto, M.Pd menunjukkan gambar Slamet Riyadi sambil menjelaskan sejarah perjuangan sang pahlawan kepada siswa kelas 5 SD Marsudirini Surakarta dalam kegiatan outing class di Solo | Foto: Istimewa

Prian menambahkan, sebagai guru IPAS, dirinya berupaya memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar sekolah sebagai bagian dari proses pembelajaran. Ia berharap pembelajaran yang dilakukan secara langsung dan melibatkan pengalaman siswa dapat memberikan kesan yang lebih kuat dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung di dalam kelas.

“Saya selalu ingin memberikan pembelajaran yang mendalam dengan memberdayakan sumber daya yang ada di sekitar sekolah yang dapat mendukung proses belajar yang bermakna bagi siswa sehingga akan terekam dalam memori siswa dalam jangka panjang,” pungkasnya. [*]

Exit mobile version