Beranda Nasional Jogja Sleman Dibayangi 2 Ancaman: Erupsi Merapi  dan Karhutla

Sleman Dibayangi 2 Ancaman: Erupsi Merapi  dan Karhutla

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan / pixabay

SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Merapi di Kabupaten Sleman kini tak hanya diarahkan pada ancaman erupsi. Di tengah kondisi kemarau dan vegetasi yang mengering, lereng gunung juga menghadapi potensi kebakaran yang bisa dipicu luncuran awan panas guguran (APG).

Pemerintah Kabupaten Sleman telah menetapkan status Siaga Darurat Erupsi Gunung Api Merapi menyusul status aktivitas Merapi yang masih berada pada Level 3 atau Siaga.

Status tersebut berlaku hingga 30 September 2026 dan dapat diperpanjang sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman pun memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan. Salah satu perhatian khusus diarahkan pada ancaman kebakaran vegetasi di kawasan lereng Merapi yang kondisinya relatif kering selama musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan, kebakaran vegetasi menjadi salah satu ancaman yang harus diantisipasi karena sebelumnya sempat terjadi kebakaran di kawasan lereng.

“(Upaya yang kami lakukan) satu, ya jelas siaga kebakaran. Karena kemarin sempat kebakaran, dan habis vegetasi atas lereng Gunung Merapi,” ujar Bambang, ditemui di kantornya, Selasa (1/9/2026).

Potensi kebakaran tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi cuaca. Luncuran APG juga dapat membakar vegetasi di sepanjang jalur yang dilaluinya.

Sebelumnya, titik kebakaran sempat terpantau di kawasan barat daya Merapi yang mengarah ke Jurangjero, Srumbung, Magelang, Jawa Tengah. Api tersebut tidak sampai memasuki wilayah Sleman.

Meski demikian, BPBD Sleman tetap meningkatkan kewaspadaan. Sebab, kawasan lereng Merapi di Sleman memiliki sejumlah jalur sungai yang memiliki fungsi penting bagi masyarakat, salah satunya Kali Krasak.

Karena itu, selain memantau potensi kebakaran, pengamanan jalur-jalur air dan berbagai infrastruktur yang berkaitan dengan mitigasi bencana juga menjadi perhatian.

Kesiapsiagaan tersebut dilakukan melalui dua skema, yakni mitigasi struktural dan nonstruktural.

Pada sisi struktural, BPBD melakukan pengecekan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS), memperkuat sejumlah tebing sungai, melakukan talutisasi, menyiapkan jalur evakuasi serta membersihkan barak-barak pengungsian.

Baca Juga :  Kendaraan Warisan Dicatat Aset Mewah, Kloset Jongkok Ditulis Duduk, Listrik 900 jadi 1.300, DPRD Yogya Kritik Keras Pendataan Desil Awur-awuran

Namun, kesiapan sarana evakuasi tersebut masih menghadapi kendala anggaran.

Bambang mengungkapkan, anggaran pemeliharaan barak pengungsian tahun ini hanya sekitar Rp4 juta. Dengan keterbatasan tersebut, perbaikan yang membutuhkan biaya besar, seperti plafon yang rusak, belum dapat dilakukan.

Pemeliharaan akhirnya diprioritaskan pada kebutuhan yang dianggap paling mendesak, antara lain perbaikan pintu serta memastikan fasilitas air bersih dan jaringan listrik tetap berfungsi.

Di sisi lain, mitigasi nonstruktural dilakukan dengan meningkatkan edukasi kepada masyarakat dan sekolah di kawasan rawan bencana.

Salah satu program yang didorong adalah penerapan sister school serta Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program tersebut diharapkan membuat sekolah yang berada di kawasan rawan memiliki kesiapan menghadapi kemungkinan evakuasi jika aktivitas Merapi meningkat secara signifikan.

37 EWS Disiagakan

Dalam sistem peringatan dini, BPBD Sleman saat ini memiliki 37 unit EWS yang masih aktif.

Sebanyak 34 unit ditempatkan di kawasan Merapi, sedangkan tiga unit lainnya digunakan untuk mendeteksi potensi longsor di wilayah Prambanan.

Perangkat tersebut memiliki fungsi yang beragam. Selain sistem pengeras suara untuk menyampaikan peringatan kepada masyarakat, terdapat pula kamera CCTV serta perangkat pemantau potensi lahar dingin.

Bambang menekankan pentingnya pemeriksaan berkala terhadap seluruh perangkat tersebut. Sebab, meski EWS dinyatakan dalam kondisi baik, terdapat perangkat yang tetap berpotensi mengalami gangguan teknis.

Hal itu berkaca pada kejadian di Kemiri Turi ketika perangkat EWS sempat mengalami korsleting dan berbunyi sendiri selama sekitar tiga menit. Gangguan tersebut kemudian ditangani oleh petugas jaga.

“EWS kondisinya baik semua. Cuman, memang butuh pengecekan, karena ada EWS yang berpotensi korslet itu,” kata dia.

Dengan status Merapi yang masih berada pada Level 3, keberadaan sistem peringatan dini menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat memperoleh informasi secepat mungkin apabila terjadi perubahan aktivitas gunung.

APG Bakar Vegetasi

Sementara itu, Kepala Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) T. Heri Wibowo mengatakan, ancaman kebakaran vegetasi sudah sempat muncul akibat aktivitas Merapi.

Baca Juga :  Desil “Awur-awuran” Ancam Akses Pendidikan, Komisi X DPR Perjuangkan KIP-PIP Tanpa Desil

Pada Sabtu (29/8/2026), APG dengan estimasi jarak luncur sekitar 2.000 meter bergerak ke arah barat daya atau hulu Kali Sat.

Luncuran tersebut mencapai batas kawasan vegetasi dan menyebabkan sebagian vegetasi terbakar. Namun, berdasarkan hasil pemantauan, api tidak berkembang menjadi kebakaran besar dan akhirnya padam.

Untuk mencegah kejadian serupa berkembang lebih luas, pemantauan kawasan terus dilakukan. TNGM menggunakan beberapa metode, mulai dari pengamatan visual, pengecekan langsung ke lapangan hingga pemantauan melalui Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI).

Selain pemantauan, TNGM juga menyiagakan pos koordinasi kebakaran hutan di Kantor Resort Pengelolaan Taman Nasional Wilayah Srumbung, Magelang.

Personel disiapkan untuk melakukan pemantauan dan merespons apabila ditemukan kebakaran di kawasan taman nasional.

“(Personelnya dari) ASN, manggala agni, dan masyarakat mitra polhut atau masyarakat peduli api untuk berjaga atau standby,” kata Heri.

TNGM juga membuka layanan pengaduan bagi masyarakat yang menemukan kebakaran di kawasan taman nasional melalui call center 081555777002, Kepala Seksi PTN Wilayah I 0811-2909-512, Kepala Resort PTN Wilayah Srumbung 0822-2147-2817, serta Koordinator Polhut 0813-2692-6325.

Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas.

Di tengah status Siaga Merapi dan musim kemarau, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran menjadi bagian tak terpisahkan dari mitigasi bencana. Kondisi vegetasi yang kering, ditambah kemungkinan luncuran APG, membuat kawasan lereng Merapi tetap membutuhkan pengawasan ketat.[*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.