Beranda Sosok Dyah Nur Widowati… Enjoy Dengan Tekanan

Dyah Nur Widowati… Enjoy Dengan Tekanan

135
BAGIKAN
Dyah Nur Widowati. Foto/JSnews

SRAGEN–  Bekerja di area yang bersentuhan dengan politik seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU), tentu bukan hal yang mudah, apalagi bagi seorang perempuan. Komplain, protes hingga tekanan sepertinya menjadi bagian tak terpisahkan dari tugas sebagai komisioner.

Namun, hal itu tak berlaku bagi Dyah Nur Widowati. Komisioner KPU Sragen periode 2013-2018 kelahiran 5 Januari 1977 itu mengakui komplain dan protes memang sering menghampiri, terutama jika ada sosialisasi aturan baru dari KPU RI yang mendadak dan tiba-tiba.

“Misalnya hari ini baru sosialisasi SE ini, besok tiba-tiba sudah ada SE baru dari KPU pusat. Di situ kadang kita sering dikomplain dikira kita yang bikin aturan mendadak. Padahal kita di daerah hanya menjalankan perintah hierarki dari KPU RI,” ujarnya.

Tak hanya komplain, istri Aiptu Toto Heru Sunarto itu juga mengakui tak jarang dihampiri ancaman dan tekanan. Pengalaman ini pernah ia terima dari beberapa calon yang gagal di pemilihan calon legislatif (Pileg) 2014 lalu.

Meski demikian, ia mengaku tetap enjoy dan tak keder. Selain jiwanya yang memang suka tantangan dan kerja keras, menurutnya tekanan itu sesungguhnya justru memberi hikmah dan kenikmatan apabila diterima dengan lapang hati.

“Biasanya soal pemahaman aturan. Tapi bagi saya enjoy saja karena tekanan itu kalau dinikmati justru enak. Dengan dikomplain atau ditekan, maka akan membuat kita semakin terpacu untuk banyak belajar karakter teman-teman. Belajar lebih intens lagi memahami regulasi dengan baik dan mengeksplor pemahaman soal peraturan,” urainya.

Ibu muda yang dikenal doyan fashion itu mengakui menjadi komisioner KPU memang dituntut untuk siap sibuk, terutama apabila sudah memasuki tahapan Pilkada seperti saat ini.

Baca Juga :  Usung 40 Wajah Baru, Gerindra Sragen Tebar Optimisme Bisa Raih 10 Kursi di Pileg 2019 

Apalagi divisinya yang menangani pencalonan dan sosialisasi, juga menuntut siap berjauhan dengan keluarga karena harus wira-wiri ke luar kota dan Jakarta untuk mengikuti rapat hingga bimbingan teknis (bintek) di KPU RI.

Meski begitu, hal itu tak mengurangi peran dan tanggungjawabnya sebagai ibu rumah tangga. Di tengah kesibukan dan padatnya jadwal tugas, ia masih mampu mengantarkan putrinya meraih prestasi masuk 10 besar alumni terbaik SMPN 5 Sragen tahun 2014/2015 dengan rata-rata nilai UN di atas 9,5.

Prestasi inilah yang membuat sulungnya, Ainayah Hanif Nabila, barusaja melenggang mulus masuk ke bangku SMAN 1 Sragen yang notabene SMAN terfavorit di Bumi Sukowati.

“Kuncinya selalu jaga komunikasi. Sekarang kan teknologi sudah canggih, perhatian dan kasih sayang tidak harus lewat tatap muka, tapi bisa dengan HP atau video call. Makanya setiap saya di luar kota, selalu saya sempatkan video call dengan suami dan anak. Biasanya ke anak, saya tanya tiga hal. Tanya keadaan, ibadahnya dan mengingatkan belajar. Ternyata alhamdulilah hasilnya juga baik,” pungkasnya. Wardoyo