Sebelum Merapi Meletus Tahun 1994, Mbah Mardjo Bermimpi Bertemu Sosok Bercelana Komprang dan Membawa Tongkat

    559
    BAGIKAN

    Bekas bangunan rumah yang hancur karena diterjang Merapi. Di tempat ini , ketika itu, Selasa Kliwon,  22 November 1994 sedang digelar pesta pernikahan.
    Joglosemarnews/ Kiki Dian

    Rumah Mbah Mardjo Utomo (75) di dusun Turgo RT 03 RW 02 Kelurahan Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, DIY itu terletak cukup dekat dari Gunung Merapi, hanya sekitar 5, 5 KM saja. Rumah ini merupakan bangunan ketiga dari Merapi yang berdiri tegak, dikelilingi aneka vegetasi hijau yang menyegarkan mata dan pernafasan. Bahkan kicau aneka burung semakin menambah keramaian di dusun yang pernah menyimpan kisah pahit itu.

    Sementara sekitar 20 meter di atas rumah Mbah Mardjo Utomo , terdapat sebuah bangunan rumah mangkrak, tak berpenghuni yang memang dibiarkan apa adanya. Di atasnya bertengger larangan bagi setiap orang yang mendatanginya untuk melakukan ritual di tempat tersebut. Ya, bangunan yang terlihat angker itu merupakan saksi bisu letusan Merapi yang sangat dahsyat tahun 1994 lalu.

    Bangunan mangkrak tersebut adalah kediaman salah satu kerabat Mbah Mardjo yang kala itu hendak menggelar hajatan pernikahan. Namun, sesungguhnya Mbah Mardjo sempat mencegah penyelenggaraan pesta tersebut, pasalnya dini hari tepatnya pukul 02.30 WIB, Mbah Mardjo yang kala itu berusia 55 tahun mendapatkan sebuah mimpi yang cukup mengejutkan, bahkan dirasanya menjadi sebuah pertanda dari Merapi.

    “Waktu itu aku mimpi ketemu lelaki tua, mengenakan celana komprang, bebedan jarik lasem, dan membawa tongkat terus ngomong le..le anakku sing tak pangku saben dinane awan bengi. Sesuk iki kiro-kiro jam 10 punjul sitik, kurang sitik, podo sumingkiro ngulon. Iki Eyang Sapu Jagad Merapi arep arak-arakan ning Nyai Roro Kidul. Ngimpiku kui jam setengah 3 esuk. (Putraku,  anakku yang kupangu setiap hari, besok pagi ini kira-kira jam 10 lebih  atau jam 10 kurang, pergilah menyingkir ke arah barat karena Eyang Sapu Jagad akan mengadakan arak-arakan  ke Nyai Roro Kidul. Saya mimpi jam setengah 3 pagi,”tutur Mbah Mardjo dengan bahasa Jawa ngoko.

    Rumah Mbah Mardjo Utomo yang terletak hanya 5,5 KM dari Merapi. Di tempat ini, saat ini MBah Mardjo tinggal bersama sang istri dan anak-anaknya.
    Joglosemarnews/Kiki Dian

    Mbah Mardjo terbangun dengan hati tidak karuan, namun ia bergegas menceritakan mimpi tersebut kepada keluarganya dan kerabatnya agar menunda hajatan dan mengungsi, namun mereka justru menganggap itu hanyalah bunga mimpi. Apalagi tetua dan masyarakat kala itu berkeyakinan Merapi sudah punya jalur sendiri kalau meletus. Ini tak lepas dari keberadaan Merapi yang terletak di antara Gunung Turgo  dan Gunung Plawangan. Gunung Turgo dianggap bibi (biyung) dari Merapi, sehingga masyarakat setempat menyakini bahwa tidak mungkin Merapi memuntahi “biyungnya” sendiri. Pesta pernikahan pun akhirnya tetap digelar.

    “Aku dipaido (dibantah) paklik dan keluarga besar. Mereka ngeyel, dan yakin Merapi tidak akan memuntahkan materialnya (meletus-red), karena Merapi sudah punya jalan sendiri yakni arah kulon (barat) (Magelang) dan wetan (timur) (Klaten). Aku mung mimpi dan niat menyampaikan kepada orang-orang, percoyo rapopo, ora juga rapopo. Sing penting ngati-ati (Aku hanya bermimpi, dan niat menyampaikan kepada orang-orang, percaya tidak apa-apa, tidak percaya juga tidak apa-apa yang penting hati-hati ,”kata Mbah Mardjo

    Dan, siapa sangka, mimpi mbah Mardjo tersebut menjadi kenyataan. Ia bermimpi pukul 02.30 WIB, dan Merapi kemudian memuntahkan material panasnya pukul 10.30WIB.  Histeris, kepanikan, teriakan, kesedihan, tangisan  terdengar dari berbagai sudut, pun bau terbakar menghambur. Pagi yang harusnya indah dengan lantunan gending  Jawa Kebo Giro temanten itu berubah menjadi kenyataan menyakitkan. Bahkan 68 nyawa melayang. Kiki Dian