JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Tanam Pohon di Citarum, Jokowi Ingin Selamatkan Lingkungan

Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar akan melakukan penanman bibit pohon Manglid di area penanaman pohon Kampung Pajaten, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Kamis (22/2/2018). Foto: Tribunjabar.com
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar akan melakukan penanman bibit pohon Manglid di area penanaman pohon Kampung Pajaten, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Kamis (22/2/2018). Foto: Tribunjabar.com

KABUPATEN BANDUNG – Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke lahan rehabilitasi di Situ Cisanti yang merupakan hulu Sungai Citarum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (22/2/2018).

Jokowi bersama elemen masyarakat melakukan penanaman 1.000 pohon pohon endemik Jawa Barat jenis manglid guna menyelamatkan dan menjaga kelestarian Citarum.

Sekitar pukul 10.00 WIB, Jokowi tiba di lokasi penanaman pohon di area petak 73, Gunung Wayang, Kampung Pajaten, Desa Tarumajaya. Jokowi didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, menanam pohon manglid serentak bersama murid-murid SD, SMP, SMA dan ibu-ibu PKK.

Selain itu hadir Menteri PUPR, Pramono Anung, Teten Masduki, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, Pangdam III Siliwangi dan Kapolda Jawa Barat serta Bupati Bandung, Dadang M Naser.

Usai melakukan penanaman, didampingi oleh Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam III Siliwangi, Kapolda Jawa Barat dan Gubernur Jabar, Presiden Jokowi langsung memantau titik-titik lokasi yang dijadikan sebagai area pembibitan pohon.

Presiden Jokowi didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar akan melakukan penanman bibit pohon Manglid di area penanaman pohon Kampung Pajaten, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Kamis (22/2/2018).

Baca Juga :  Mahfud MD Kumpulkan Sekjen Parpol Bahas Protokol Kesehatan Pilkada 2020

“Jadi karena ini pekerjaan besar Mungkin insyaallah bisa diselesaikan dalam waktu tujuh tahun. Tetapi bukan hanya di hulunya saja tapi juga tengahnya dan nanti di hilir, semua terintegrasi,” ujarnya kepada wartawan.

Jokowi mengatakan proses rehabilitasi sudah dimulai dan dilakukan sejak 1 Februari lalu. Kedatangannya ke hulu Sungai Citarum di Kecamatan Kertasari dalam rangka melihat gerakan rehabilitasi di wilayah daerah aliran sungai Citarum. Rehabilitasi yang dilakukan mulai dari lahan, limbah dan polusi industri.

“Semuanya akan dikerjakan secara terintegrasi oleh pemerintah pusat pemeintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota terlibat. Semua kementerian yang terlibat termasuk Pangdam dan Polda semuanya ikut bersama-sama mengerjakan secara bergotong royong untuk rehabilitasi wilayah aliran sungai Citarum ini,” ungkapnya.

Untuk memastikan program rehabilitasi berjalan, Jokowi akan secara kontinue turun langsung melihat perkembangannya dalam kurun waktu per 3 bulan atau per 6 bulan.

Baca Juga :  Kini, Pasien Covid-19 Dapat Dideteksi Melalui Napas

“Ini sudah diberikan lahan PTPN seluas 980 hektar untuk persemaian, untuk ditanami, dan untuk relokasi. Kemudian Perhutani juga memberikan lahannya yang kita harapkan lahan yang ada ini bisa kita hijaukan kembali,” katanya.

Jokowi mengatakan tanaman yang bisa ditanami dengan tanaman ekologis dan ekonomis seperti kopi, karet, damar dan manglid, puspa, rasamala.

Lebih lanjut Jokowi belum mau mengomentari masalah pencemaran limbah oleh sejumlah pabrik. Karena rehabilitas merupakan pekerjaaan sangat besar. Namun, dirinya memastikan akan menindak perusahaan pencemar limbah.

“Satu-satu dulu, di hulu dulu. Kita akan fokus perbaikan hulu dulu, karena ini pekerjaan berat. Jangan kemana-mana dulu. Kita cerita disini saja,” ungkapnya.

Jika program ini berhasil, Sungai Citarum ini, bisa menjadi contoh bagi Daerah Aliran Sungai (DAS) lainnya di Indonesia, seperti di Das Bengawan Solo dan lainnya. Usai melakukan penanaman dan memantau, Jokowi langsung beranjak melihat ke Situ Cisanti.

“Belum terlambat, kalau enggak bergerak cepat bisa terlambat,” katanya. Tribunnews.com