JOGLOSEMARNEWS.COM Market Ekbis

Direktur IMF Kesengsem Wong Sragen

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde dan pendiri Bukalapak. com Achmad Zaky didampingi Rektor UGM Panut Mulyono dalam diskusi yang digelar di kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Kamis 1 Maret 2018. TEMPO/PRIBADI WICAKSONO
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde dan pendiri Bukalapak. com Achmad Zaky didampingi Rektor UGM Panut Mulyono dalam diskusi yang digelar di kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Kamis 1 Maret 2018. Foto: Tempo.com

Jakarta – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde terlibat diskusi seru saat dipertemukan dengan pendiri Bukalapak Achmad Zaky dalam acara yang digelar di kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM), Kamis(1/3/2018).

Pada diskusi bertajuk 2018 Youth Town Hall: The Future of Work tersebut, selama kurang lebih satu jam, dihadapan ratusan mahasiswa, baik Zaky maupun Lagarde saling lempar pertanyaan tentang pengalaman dan latar belakang masing-masing.

Begitu sesi diskusi tanpa moderator itu dibuka, Lagarde dengan bersemangat langsung mencecar Zaky dengan sejumlah pertanyaan seputar bisnis start up yang dibuatnya, Bukalapak.com. Gayanya mirip seorang pembawa acara talk show televisi.

“Apa yang kamu lakukan untuk mempertahankan bisnismu sekarang dan 20 tahun lagi? ” tanya Lagarde pada Zaky.

Pertanyaan itu diungkapkan setelah Lagarde menggambarkan sekilas tentang bisnis sumber daya yang dulu berjaya namun di abad ini meredup terganti bidang bisnis berbasis teknologi informasi salah satunya start up.

Zaky menuturkan mengelola bisnis start up yang saat ini seperti jadi pemimpin dibanding sektor lain, memiliki beban tersendiri. Pertanyaan yang selalu menghantui, siapa di antara para pemain start up itu kelak yang paling lama bertahan menghadapi persaingan serta gerak cepat zaman.

Baca Juga :  Kecelakaan Terbaru Sragen, Kesenggol Grandmax, Pengendara Motor Scoopy Asal Karangmalang Luka Parah dan Patah Bahu

“Kemampuan beradaptasi (dengan perubahan zaman) jadi hal mutlak yang harus selalu dilakukan,” ujar Zaky.

Zaky membeberkan, menjalankan bisnis start up, mau tak mau harus menerima konsekuensi untuk selalu siap dengan inovasi baru agar tak tergilas kompetitor. Tak cukup mempertahankan bisnis start up dengan cara cara biasa saja tanpa inovasi yang menjawab kebutuhan.

Oleh sebab itu, ujar Zaky, di bisnis start up yang dibangunnya itu, setiap karyawan diberi kebebasan melakukan dan mengeksekusi ide-ide baru untuk pengembangan.

“Setiap orang perlu memposisikan diri seperti seorang CEO (Chief Executif Officer) untuk dirinya sendiri, bagaimana menemukan ide baru lalu mengeksekusinya,” ujarnya.

Membangun iklim kebebasan untuk karyawan seperti itu, ujar Zaky, perlu dilakukan agar selalu muncul ide baru inovasi sehingga hasilnya baik untuk perusahaan.

Baca Juga :  Cabup Sragen, Mbak Yuni Terungkap  Punya Harta Kekayaan Total Rp 5,7 Miliar dan Utang Rp 1,5 Miliar. Harta Suroto Nggak Disangka Segini Banyaknya!

“Sangat sulit beradaptasi dengan perubahan tanpa kita membuka diri pada ide baru, mungkin ide baru itu awalnya saya anggap salah, tapi setelah berjalan ternyata saya yang salah,” ujarnya.

Tak puas, Lagarde mencecar, bagaimana cara Zaky memfilter ide-ide baru yang masuk. Mana yang bisa dijalankan dan mana yang tidak.

“Kami memiliki sejenis matriks untuk mengukur dan mengevaluasi bagaimana perkembangan inovasi yang telah dilakukan, biasanya hasilnya dilihat dalam waktu enam bulan,” ujar Zaky.

Lagarde pun berdecak manakala ia bertanya seberapa besar investasi yang harus dikeluarkan Zaky untuk melakukan inovasi demi pengembangan perusahaannya.

Zaky menuturkan inovasi lahir dari orang-orang yang menjalankan perusahaannya. Oleh sebab itu investasi terbesar diberikan untuk orang orang tersebut.

“Misalnya seperti apa untuk orang-orang yang inovasinya akhirnya dipakai, apa bonus (gaji) besar?” tanya Lagarde.

“Ya itu benar, bahkan digaji lebih tinggi dibanding bekerja di perusahaan minyak,” ujar Zaky, pendiri Bukalapak seraya tertawa.

Sumber: http://tempo.co