JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Warga 11 RT Korban Proyek Tol Soker di Masaran Sragen Gelar Demo. Tuntut Pengelola Tol Bertanggungjawab Atas Banjir Parah Dampak Talud Tak Standar

Warga 11 RT di Masaran, Sragen saat membentangkan spanduk aspirasi menuntut pertanggungjawaban pengelola Tol Soker yang memicu banjir parah di wilayah itu, Sabtu (10/3/2018). Foto/Wardoyo
Warga 11 RT di Masaran, Sragen saat membentangkan spanduk aspirasi menuntut pertanggungjawaban pengelola Tol Soker yang memicu banjir parah di wilayah itu, Sabtu (10/3/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN–  Puluhan warga di 11 RT di Desa Masaran,  Kecamatan Masaran Sragen yang berdekatan dengan proyek Tol Solo-Kertosono (Soker)  kembali menggelar aksi demo,  Sabtu (10/3/2018) pagi. Mereka mengecam para pejabat dan pengelola proyek Tol Soker yang membiarkan keberadaan proyek memicu bencana banjir dan kerusakan infrastruktur yang menyengsarakan warga.

Mereka pun mendesak agar pihak pengelola jalan Tol Soker untuk bertanggungjawab memperlebar dan meninggikan saluran drainase di Tol Soker yang selama ini dianggap terlalu kecil dan menjadi biang pemicu banjir.

“Kami minta talud dan drainase dibuat standar. Karena yang dipasang oleh pihak Tol itu hanya 60 sentimeter diameternya. Padahal ketinggian talud di warga saja sudah tiga meter. Akibatnya sejak ada Tol, kalau hujan air nggak bisa mengalir dan memicu banjir di lingkungan kami,” papar Ali Wiyanto,  Ketua RT 22.

Baca Juga :  Terungkap, 3 Kios Mewah di Pungkruk Sragen yang Disegel Ternyata Milik Pengusaha Batik

Menurut Ali,  sebelum ada Tol Soker,  memang selalu terjadi genangan akan tetapi paling lama 5-10 menit sudah hilang karena pembuangan air lancar. Namun sejak adanya Tol tahun 2016 dan talud serta drainasenya berukuran sangat kecil, dampaknya debit air meningkat dan genangan banjir semakin parah sampai ke permukiman warga.

Baca Juga :  Buntut Teror Kawanan Macan, Warga Diimbau Tak Keluar Malam

Tak hanya itu, kondisi itu juga memicu kerusakan beberapa infrastruktur seperti jembatan dan jalan di kampung.

“Yang paling parah di RT 22 B ada belasan rumah di Perum Tegalasri yang kemarin tergenang sampai 70 sentimeter. Padahal dulu-dulu nggak pernah begitu. Lalu sejak 2016 ke sini,  arua air di Pakis juga terus meningkat. Dulu hanya 40 km/jam, sekarang tambah deras jadi 50-60 km/jam. Beberapa jalan dan jembatan jadi rusak,” tukasnya.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com