JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Miris.. Dilarang Untuk Pedagang, Alun-Alun Sragen Kini Dikabarkan Malah Jadi Ajang Pacaran dan Transaksi “Kimcil”

Kondisi Alun-Alun Sasana Langen Putra Sragen berubah sepi ketika petang hari setelah dilarang untuk berjualan para pedagang dan belakangan justru dikabarkan jadi arena negatif. Foto/Wardoyo
Kondisi Alun-Alun Sasana Langen Putra Sragen berubah sepi ketika petang hari setelah dilarang untuk berjualan para pedagang dan belakangan justru dikabarkan jadi arena negatif. Foto/Wardoyo

SRAGEN-  Kebijakan pembersihan Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen dari pedagang kaki lima (PKL) ternyata menghadirkan keprihatinan baru. Semenjak dinyatakan terlarang untuk PKL,  kawasan Alun-alun kini dikabarkan justru beralih fungsi negatif.

Ya, Alun-alun yang berubah jadi sepi ketika menginjak tengah malam, ternyata banyak dimanfaatkan anak muda untuk ajang berpacaran. Parahnya lagi,  jika sudah lewat dinihari, arena Alun-alun digunakan oknum untuk bertransaksi ABG atau istilah ngetrend-nya sering disebut “Kimcil”.

Fakta miris itu diungkapkan beberapa orang yang sering nongkrong dan beraktivitas di dekat Alun-alun Sragen. Salah satunya,  Yatin Hartono (55). Pria yang sering sebelumnya berjualan di dalam Alun-alun dan kini terpaksa menyingkir di tepi itu menuturkan fakta miris yang terjadi sejak Alun-alun dilarang untuk berjualan malam hari.

“Silakan bisa dicek sendiri. Kalau sudah pukul 21.30 WIB ke atas, Alun-alun sekarang sudah sepi. Yang ada hanya anak-anak muda yang pacaran. Lebih malam lagi,  malam yang ada juga cah jembegar-jembegar (ABG) yang nongkrong. Di situ transaksi,  nanti nggak lama ada yang jemput. Saya pernah mergoki ada anak muda bawah dua “cilikan” katanya dari Purwodadi. Nggak lama,  ada mobil yang njemput. Nggak tahunya anak untuk gituan (transaksi), ” paparnya Sabtu (21/4/2018) .

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Kecamatan Sidoharjo Terus Meningkat, Kapolsek Gerakkan Program Sidoharjo Bermasker. Izin Hajatan dan Keramaian Sementara Stop Dulu!

Ia menguraikan fakta berubahnya fungsi Alun-alun itu tak lepas dari kondisi saat ini yang sepi ketika malam hari hingga dinihari. Tidak adanya pedagang membuat mereka yang ingin berbuat pacaran atau bertransaksi, jadi leluasa karena tidak ada lagi yang mengusik atau mengingatkan.

“Beda waktu masih ada pedagang dulu. Mininal jam 23.00 WIB masih ada pedagang,  orang atau anak muda nggak berani macam-macam. Kalau ada pedaganh yang tahu nom-noman berdua mencurigakan,  pasti diperingatkan. Sekarang mereka jadi liar karena nggak ada lagi yang mengingatkan, ” tukasnya.

Senada,  salah satu pedagang di dekat Alun-alun,  Joko juga mengaku sering melihat pasangan muda berduaan hingga larut malam di Alun-alun. Soal transaksi ABG, dirinya juga sering mendengarnya.

Baca Juga :  Bukan 50 % Plus 1 Dari Jumlah Warga Yang Hadir, Ternyata Ini Syarat Menang Bagi Paslon di Pilkada Tunggal atau Lawan Kotak Kosong. Simak Ketentuan Surat Suara dan Hitungan Menangnya!

“Tapi biasanya nanti di bawa ke mana gitu. Kadang nongkrong di sini,  setelah itu dijemput atau diantar temannya. Karena sama-sama muda,  jadi mungkin orang awam enggak curiga dikira pacarnya. Padahal begituan, ” tukasnya.

Mendengar fenomena itu,  Kasat Sabhara Polres Sragen,  AKP Agung Ari Purnowo mengaku siap menindaklanjuti. Ia juga melihat sejak kepergian pedagang,  lokasi Alun-alun memang agak sepi jika malam hari.

Sebenarnya selama ini,  patroli juga sudah sering dilakukan di wilayah rawan seperti di sekitar Taman Krido Anggo yang dilaporkan banyak digunakan untuk ajang pesta miras. Hal itu sudah direspon dengan menyambangi lokasi tiap malam Minggu dan setiap malam secara berkala.

“Kalau untuk alun-alun dijadikan ajang transaksi itu, nanti akan kami tindaklanjuti dengan meningkatkan patroli lagi di jam-jam rawan. Terimakasih informasinya, ” tandasnya.  Wardoyo