Beranda Panggung Sastra Launching Antologi “Daun Pintu Setengah Terbuka”, Keluarga Menjadi Fokus Utama

Launching Antologi “Daun Pintu Setengah Terbuka”, Keluarga Menjadi Fokus Utama

66
BAGIKAN
Sastrawan Yuditeha (pegang mic) tengah mengulas antologi Daun Pintu Setengah Terbuka di Waroeng Ispirasi. Paling kiri Lintang Kartika (penulis), Andri Saptono (moderator) dan paling kanan Hamdani MW (penulis)/Dok Panitia

SOLO – Keluarga menjadi fokus utama dalam antologi Cerpen “Daun Pintu Setengah Terbuka” yang dilaunching di Waroeng Inspirasi, Solo, Rabu (9/5/2018) siang. Melalui Cerpen-cerpen itulah, dua orang penulis, Lintang Kartika dan dan Hamdani MW memotret problematika keluarga dalam balutan cerita yang menyentuh perasaan.

Penulis dan sebagian peserta berfoto bersama usai launching antologi Daun Pintu Setengah Terbuka di Waroeng Inspirasi, Solo, Rabu (9/5/2018)/Dok Panitia

“Banyak cerpen yang dalam antologi ini merupakan tamparan bagi kita, namun ada juga cerpen-cerpen yang membuat pembaca bisa meneteskan air mata,” ujar Sastrawan Yuditeha dalam ulasannya.

Cukup banyak tanggapan dan pertanyaan dalam forum kecil yang digelar santai tersebut, salah satunya terkait dengan  pentingnya gerakan literasi dengan hadirnya buku-buku baru dan keberadaan rumah dongeng yang semakin dibutuhkan di tengah era digitalisasi ini.

Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo dalam sambutannya yang diwakili Kepala Arpusda Surakarta, Sis Ismiyati mengatakan, budaya baca telah melahirkan para tokoh yang menakhodai bangsa-bangsa. Sejarah, ujar Walikota, membuktikan bahwa tokoh-tokoh besar adalah pemikir dan kutu buku.

“Karena itu saya mengapresiasi lahirnya buku-buku baru seperti ini sebagai sumber informasi untuk meningkatkan minat baca bagi generasi muda,”  harap Rudy sebagaimana dikutip Sis Ismiyati.

Sis mengatakan, lahirnya buku-buku baru sangat diharapkan dan penting bagi masyarakat. Apalagi, sekarang pihaknya tengah memberikan ruang yang luas untuk berkegiatan literasi di kantor Arpusda. Menurutnya, kemajuan era digital dalam wujud gadget adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak, namun harus diimbangi dengan makin banyaknya buku-buku baru dan kebiasaan literasi melalui buku-buku.

Sementara itu, Ketua PWI Surakarta, Anas Syahirul Alim yang juga hadir dalam kesempatan tersebut berharap, lahirnya  antologi Daun Pintu Setengah Terbuka akan mampu mendorong literasi sastra di kalangan generasi muda. Terlebih di era digital yang menawarkan banyak kemudahan.

“Penelitian menunjukkan, anak-anak zaman sekarang ini rata-rata hanya bertahan 5-6 menit untuk tidak membuka gadget,” ujarnya.

Direktur Solo Mengajar, Gentur Yoga Jati  yang menjadi tuan rumah dalam acara itu, dalam sambutannya sangat mengapresiasi lahirnya antologi cerpen  tersebut.  Menurutnya, lahirnya buku-buku baru bisa menginspirasi gerakan literasi demi melahirkan generasi-generasi muda yang tidak “korslet” atau tidak nyambung.

“Sekarang ini banyak anak yang ‘prejengannya’ Solo, tapi tidak tahu apa-apa tentang Solo. karena itu, selamat menginspirasi melalui buku,” ujarnya.

Dalam salah satu tanggapannya, Daryono, salah satu peserta yang hadir mengaku tertarik dengan tema “keluarga” yang diusung dalam antologi tersebut. Ia mengatakan keluarga memang menjadi kunci dari baik buruknya atau maju bundurnya sebuah bangsa. Keluarga menjadi kunci paling utama pembentukan karakter generasi muda.   *****