JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Lingkaran Setan Broker Rekrutmen Perangkat Desa di Sragen Diduga Diskenario dan Terorganisir. Patok Ratusan Juta, Ngaku Orangnya Bupati Hingga Sebar Kabar Calon Yang Disiapkan Untuk Jadi

Ilustrasi jualbeli jabatan calo CPNS
Ilustrasi

SRAGEN- Memasuki pendaftaran lowongan perangkat desa, aksi broker makin merajalela dan meresahkan. Belakangan,  mereka terang-terangan mencatut nama bupati, mengklaim suruhan bupati dan menjamin pasti jadi asalkan bisa membayar sesuai dengan tarif.

Tarif yang dipatok juga jor-joran. Mulai dari Rp 100 juta,  Rp 200 juta,  Rp 300 juta hingga Rp 750 juta. Tarif itu didasarkan jenis formasi perangkat desa dan luas serta kondisi tanah bengkok di masing-masing desa.

Aksi broker itu makin gencar memasuki masa pendaftaran yang sudah dibuka 26 Juni lalu. Salah satu warga Gesi,  Setiawan (35) menuturkan di desanya ada kekosongan formasi bayan. Belakangan,  para calon yang hendak mendaftar sebagian sudah didatangi oleh oknum yang mengaku relawan bahkan ada perangkat desa setempat yang mengklaim bisa membantu meluluskan asal mampu membayar.

“Ada perangkat sini juga yang ikut mbawa orang. Ngakunya orangnya bupati dan sudah pasti jadi. Kalau tarifnya nggak menyebutkan tapi dengar-dengar sampai Rp 100an juta lebih. Sini bengkoknya nggak begitu subur jadi tarifnya juga nggak setinggi daerah selatan bengawan Mas. Ada lagi yang jalur relawan, juga ada yang mendekati calon yang akan melamar. Bayarnya juga sekitar itu (Ratusan juta). Ini yang membuat calon yang ingin ikut jadi resah,” paparnya saat mengurus SKCK di Polres, Sabtu (30/6/2018).

Senada,  di wilayah Sambungmacan,   pola broker juga hampir sama. Salah satu warga Sambungmacan, MN (40) juga menuturkan menjelang rekrutmen perangkat desa,  aksi broker dan relawan makin meresahkan.

Sebab selain mencatut dan mengatasnamakan orangnya bupati, sebagian juga sudah mengumbar suara bahwa calon yang jadi adalah yang mereka bawa. Bahkan di Karanganyar, ada relawan yang sudah mengklaim anaknya yang bakal mengisi Sekdes.

Baca Juga :  Siap-Siap, Pemkab Bakal Operasi Masker Secara Besar-Besaran Libatkan Tim Gabungan Hingga Tingkat Kecamatan. Plt Bupati Sebut Penyebaran Covid-19 dari Klaster Keluarga Cukup Banyak!

“Menurut kami, ini malah makin buruk. Bagaimana tidak, siapapun calon yang pinter kalau nggak bisa bayar akhirnya juga sia-sia. Yang bikin warga marah, ada relawan yang sudah ngumbar suara ke sana kemari kalau yang jadi di desa A,  B, C itu sudah disiapkan. Bahkan ada relawan yang sudah bilang anaknya akan pasti mengisi Sekdes padahal nggak punya kemampuan dan latar belakang yang baik, ” terangnya diamini warga lainnya, Sabtu (30/6/2018).

Warga menduga relawan dan broker itu memang sengaja dipasang dan diskenario. Sebab berkaca dari proses mutasi perangkat desa sebulan lalu, hampir sebagian besar calon yang didekati relawan dan broker mengatasnamakan bupati itu, bisa lolos semua.

“Kemarin ada oknum yang sumbar juga pokoknya dari calon yang melamar mutasi ke Sekdes di desa kami,  nggak akan ada yang jadi karena itu jatahe sudah disiapkan calon di penjaringan. Nyatanya perangkat yang melamar Sekdes semuanya enggak ada yang lulus. Padahal ada yang pendidikan dan kompetensinya mumpuni. Dari situlah warga curiga dan yakin para broker dan relawan itu seolah memang disiapkan untuk nyari umpan di lapangan, ” timpal TO, warga Karangmalang,  Sabtu (30/6/2018).

Anggota Divisi Hukum dan HAM LSM Forum Masyarakat Sragen (Formas), Sri Wahono menilai broker yang bermain di rekrutmen perangkat desa memang seperti sudah diskenario dan mirip lingkaran setan. Ia juga meyakini mereka bermain dengan bekingan dan tetap memiliki keterkaitan dengan unsur pengambil kebijakan.

“Kami yakin, karena banyak laporan yang masuk memang menguatkan itu. Sepertinya memang sudah diskenario, terorganisir, dan dirancang rapi. Menyebar orang di lapangan lalu mematok tarif dan kami yakin tetap ada setoran. Faktanya saat mutasi Perdes kemarin yang jadi sebagian besar yang bayar dan lewatnya juga oknum-oknum seperti itu, ” tandasnya.

Baca Juga :  Barusaja Masuk Zona Oranye, Kasus Covid-19 Langsung Meledak Lagi Tambah 24 Warga Positif Hari Ini. Tersebar di 12 Kecamatan, Total Kasus Meroket Jadi 511, Warga Meninggal Sudah 68

Ia berharap masyarakat bisa melawan dan berani bertindak jika melihat calon yang jadi memang dianggap tak berkompeten dan terindikasi lolos dengan membayar.

“Sragen ini bukan hanya milik relawan dan penguasa saja. Warga juga punya hak. Kalau memang enggak bisa menggelar rekrutmen yang benar-benar obyektif dan hanya memprioritaskan yang bayar,  sekalian saja dibebaskan dan dibuka liar. Daripada labelnya independen dan transparan tapi nyatanya yang jadi juga bukan yang benar-benar punya kompetensi tapi yang bisa bayar, ” urainya kesal.

Terkait rumor itu,  Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati sempat membantah dan meminta masyarakat tidak terpengaruh dengan oknum yang mencatut namanya, kerabatnya dan menjanjikan bisa meloloskan jadi perangkat desa dengan imbalan uang.

“Kami pastikan seleksi perangkat dilakukan sesuai aturan. Kalau ada yang berjanji bisa meloloskan, itu adalah oknum yang ingin memanfaatkan situasi dan jelas tidak dibenarkan,” ujar Yuni di hadapan wartawan di ruang kerjanya, Selasa (26/6/2018).

Menurut Yuni, sudah banyak aduan informal yang masuk ke dirinya terkait permainan oknum tersebut. Meski tidak menyampaikan secara gamblang tarif yang diminta, namun oknum yang mengaku keluarga bupati, kolega di pemerintahan,  PNS atau relawan tersebut menjanjikan bisa meloloskan perangkat desa. Tentunya dengan imbalan sejumlah uang sesuai kesepakatan.

Yuni mengklaim sudah berusaha semaksimal mungkin agar seleksi perangkat desa kali ini bebas dari permainan. Melalui Peraturan Bupati (Perbup) yang diterbitkan, seleksi perangkat menjadi kewenangan penuh desa dengan menggandeng pihak ketiga. Wardoyo