JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Demokrat Merapat, Sinyal AHY Jadi Cawapres Prabowo?

Tempo.co

JAKARTA – Ada ungkapan “tak ada yang abadi dalam politik, kecuali kepentingan”. Ungkapan tersebut tampaknya mirip-mirip dengan posisi PKS dalam koalisi dengan Gerindra yang mengusung Prabowo sebagai Capres 2019.

Posisi PKS ditengarai, bakal sedikit tergeser oleh Demokrat, yang resmi bergabung menajadi satu koalisi dengan Gerindra.  Prediksi tersebut  diungkapkan oleh Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti.

Ray  memperkirakan PKS terancam diabaikan keberadaannya oleh Gerindra setelah Partai Demokrat memastikan berkoalisi dengan partai yang didirikan Prabowo Subanto itu. Alasannya, koalisi Gerindra dan Demokrat saja sudah cukup mendapat syarat 20 persen presidential treshold untuk pemilihan presiden atau pilpres 2019.

“PKS tak akan dominan,” ujar Rangkuti Kamis (26/7/2018). Karena itu, ia memprediksi pasangan bakal calon presiden dan calon wakil presiden yang akan diajukan koalisi ini adalah Prabowo-AHY.

Baca Juga :  Dijerat Pasal Berlapis, Pelaku Penusukan Syekh Ali Jaber Terancam Pidana Maksimal Hukuman Mati

Rangkuti berpendapat, PKS bisa diabaikan karena dua alasan yakni; Pertama, karena tidak pernah dengan tegas menyatakan Prabowo adalah calon presiden mereka. #GantiPresiden yang diusung PKS, kata Rangkuti, juga mengosongkan nama capres yang memberi jalan interpretasi bahwa memang PKS membuka kesempatan kepada nama-nama lain untuk dicalonkan sebagai capres. “Sikap ini, dirasa seperti mengabaikan Prabowo bahkan seperti sikap tidak menginginkan Prabowo sebagai capres,” ujar dia.

Kedua, PKS telah mengunci diri, hanya berkoalisi dengan siapapun lawan Jokowi. “Kuncian ini menemukan ironinya sekarang.”

Di lain sisi, saat seperti diabaikan, PKS juga tak memiliki jalan alternatif. Hanya satu jalan yang tersedia, yakni bergabung dengan koalisi baru antara Gerindra dengan Partai Demokrat. Sedianya, saat Partai Kebangkitan Bangsa menyatakan bergabung dengan koalisi Jokowi, ujar Rangkuti, politik zig zag berakhir.

Baca Juga :  Hotel-hotel di 7 Provinsi Sudah Siap Menampung Pasien Covid-19 Kritis

“PKS terlambat membacanya. Koalisinya bukan lagi Gerindra-PKS tapi Gerindra-Demokrat, PKS akan disertakan di dalamnya,” ujar dia.

Spekulasi hubungan Gerindra dengan PKS merenggang muncul setelah Prabowo Subianto rajin safari, termasuk bertemu dengan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atau pertemuan SBY – Prabowo. Padahal, PKS adalah satu-satunya partai yang tegas menyatakan berkoalisi dengan Gerindra.

Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon membantah bahwa partainya tidak meninggalkan PKS. Dia menyebut, kehadiran Demokrat sebagai teman baru, tidak berarti bagi Gerindra untuk meninggalkan teman lama seperti PKS. “Bagi Gerindra, Demokrat itu teman baru, tapi PKS saudara segajah, bukan sekutu lagi,” kata Fadli Zon, 19 Juli 2018.

www.tempo.co