loading...
Loading...
Ilustrasi

GARUT – Aksi seorang siswa kelas VI SD berinisial MH (12) ini sungguh keji.  Bocah yang duduk di bangku SD di Kawasan Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang itu nekat menikam teman sekelasnya berinisial FDL (12) dengan gunting hingga tewas.

Ironisnya lagi, peristiwa itu terjadi di tengah meriahnya peringatan Hari Anak Nasional dan Kabupaten Garut mendapatkan penghargaan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sebagai Kabupaten Layak Anak.

Informasi yang dihimpun, peristiwa yang menggemparkan itu berawal dari perkelahian yang terjadi antara korban berinisial FDL (12) dan pelaku berinisial MH (12) pada Sabtu (21/7/2018).

Hal ini dipicu kekesalan yang dirasakan pelaku karena telah kehilangan salah satu buku pelajarannya pada Jumat (20/7/2018).

Pelaku yang merupakan teman sebangku korban di sebuah sekolah dasar negeri di kawasan Cikandang Kecamatan Cikajang ini menaruh kecurigaan jika buku pelajarannya yang hilang itu karena disembunyikan oleh korban.

Kecurigaan pelaku kalau buku tersebut telah disembunyikan korban semakin besar manakala keesokan harinya bukunya tersebut ditemukan kembali di bawah bangku.

Buntut dari peristiwa tersebut, antara korban dan pelaku sempat terjadi perkelahian di belakang gedung sekolahan pada Sabtu (21/7/2018) sepulang mereka dari sekolah.

Namun perkelahian mereka saat itu tak berlangsung lama karena keburu dilerai oleh teman-teman mereka.

Petaka terjadi manakala korban dan sejumlah temannya sedang berjalan hendak pulang ke rumahnya di Kampung Barukai, Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang.

Baca Juga :  Saut Situmorang: Radikalisme Bisa Muncul Karena Korupsi

Tiba-tiba dari arah belakang, pelaku menusukan gunting ke arah kepala bagian belakang dan punggung korban hingga korbanpun tersungkur.

Korban sempat dibawa ke Puskesmas oleh warga untuk mendapatkan pertolongan dan setelah itu korban kembali diantarkan ke sekolah.

Pihak sekolah kemudian memberitahu orang tua korban yang tak lama kemudian datang untuk menjemputnya.

Keesokan harinya tepatnya Minggu (22/7/2018) kondisi korban bukannya membaik tapi terlihat lebih parah sehingga pihak keluarga berniat membawanya ke rumah sakit.

Namun sayang, ketika masih dalam perjalanan ke rumah sakit, korban meninggal dunia sehingga pihak keluarga kembali membawanya pulang.

Kapolres Garut Ajun Komisaris Besar Budi Satria Wiguna membenarkan adanya penusukan seorang siswa kelas VI sebuah sekolah dasar di Cikajang yang tewas karena ditusuk teman sebangkunya.

“MH ini mencurigai buku pelajarannya yang hilang telah disembunyikan korban FDL yang merupakan teman sebangkunya. Meski buku tersebut keesokan harinya sudah berhasil ditemukan kembali, akan tetapi kekesalan MH terhadap FDL belum juga hilang sehingga keduanya sempat terlibat perkelahian pada Sabtu (21/7/2018),” ujar Budi, Selasa (24/7/2018).

Dikatakan Budi, dalam perkelahian tersebut MH kalah oleh FDL dan mereka pun sempat dilerai oleh teman-temannya. FDL pun kemudian berniat pulang akan tetapi ketika tengah berjalan dengan sejumlah temannya, MH yangg diduga masih kesal terhadap FDL saat itu membuntutinya.

Tiba-tiba dengan menggunakan sebuah gunting, MH menusuk kepala bagian belakang dan punggung FDL.

Baca Juga :  KPK: Petinggi PT Garuda Indonesia Nikmati Dana Suap Senilai Rp 100 M

Kapolres menerangkan, gunting yang digunakan oleh MH untuk menusukl FDL dibawa karena murid kelas VI SD pada hari itu melaksanakan pelajaran seni rupa. Guru mewajibkan para murid untuk membawa kertas warna, gunting, karton, dan lem.

“Salah seorang warga yang melihat persitiwa itu kemudian membawa FDL yang sudah berlumuran darah ke Puskesmas Pembantu Cikandang dan korban mendapatkan pengobatan,” katanya.

Masih menurut Budi, luka akibat tusukan gunting itu mendapat dua jahitan dan selanjutnya korban dibawa kembali oleh warga ke sekolah.

Salah seorang guru kemudian memberitahukan hal itu ke orang tua korban.

Budi mengaku turut prihatin atas peristiwa yang telah menyebabkan korban meninggal tersebut. Apalagi baik korban maupun pelakunya masih anak di bawah umur dan merekapun ternyata masih ada ikatan keluarga.

“Pihak kelurag korban sendiri tidak melaporkan hal ini dan mereka menganggapnya sebagia sebuah musibah. Namun demikian kami masih melakukan penyelidikan atas kasus tersebut,” ucap Budi.

www.teras.id

 

Loading...