loading...
Loading...
Dyah Retno Sulastri (paling kiri) Ketua Komunitas Lovelypink bersama para penyintas kanker menyempatkan berkumpul dan saling mendukung satu sama lain.
Jsnews/Kiki Dian

Sebuah cafe di daerah Banjarsari, Kamis (2/8) siang itu terlihat lengang. Namun begitu masuk terdengarlah senda gurau dan candaan dari sekumpulan kaum ibu. Beberapa di antara mereka tampak mengenakan pakaian berwarna pink, sementara lainnya ada blue jeans dan merah.

“Silakan masuk mbak, “terdengar suara dari seorang perempuan, berbaju blue jeans, dengan potongan rambut cepak. Ia pun mempersilakan Joglosemarnews.com untuk masuk ke dalam.

Kali ini keriuhan mendadak berkurang. Dengan pelan perempuan tomboy bernama Dyah Retno Sulastri itu memperkenalkan diri. Sedikit berbasa-basi sembari menata hati, ia pun lantas menuturkan sebuah peristiwa getir dalam hidupnya, tepatnya ketika terdeteksi benjolan pada payudaranya sekitar Oktober tahun 2015 lalu.

“Jadi waktu itu saya tau dan kena kanker itu Oktober 2015, segera ditindak dengan operasi pada Desember 2015. Nah lucunya waktu itu ibu Yani ini dulu menunggui saya operasi, karena suaminya adalah teman suami saya, “jelas Dyah Retno sembari menunjuk perempuan berkerudung merah di depannya.
Siapa sangka, Ibu Yani yang dimaksud itu menyela cepat, ya waktu itu dia hanya menemani sahabatnya tersebut untuk operasi kanker, namun ternyata ia pun divonis penyakit yang sama hanya berselang beberapa bulan dari sahabatnya itu.

Lovelypink

“Waktu itu saya hanya menunggu beliau (Dyah Retno-red) ini operasi. Saya juga gak mikir kalau bakal kena penyakit ini, apalagi saya kan gak sembarang makan, alias pilih-pilih. Tapi ternyata bulan April 2016 saya kena, dan langsung operasi pada Mei 2016,”tandas Bu Yani.

Selain kedua perempuan itu, terlontar pula sejumlah cerita dari beberapa perempuan yang hadir siang itu. Perjuangan yang harus dilalui Bu There ketika dinyatakan kena kanker pada 12 tahun turut melengkapi cerita para perempuan-perempuan tangguh itu. Ya, mereka adalah para penyintas kanker. Dalam Kamus Bahasa Baku Indonesia, penyitas adalah orang yang bertahan hidup. Dalam keseharian,meski mereka harus berjuang melawan penyakitnya, namun semangat mereka untuk sembuh dan memberikan dukungan satu sama lain patut diacungi jempol.
Tergabung dalam komunitas Lovelypink Solo (LPS), para perempuan pejuang ini mencoba berbagi rasa sakit mereka satu sama lain, memberi masukan, nasehat, menjadi tempat curhat bagi sesama yang juga harus berjuang hidup.

Baca Juga :  Dampak Bom Bunuh Diri Medan, Polresta Solo Perketat Keamanan

Komunitas Lovelypink Solo (LPS) ini sesungguhnya masih berusia seumur jagung. Berdiri pada 12 April 2016, baru 2 tahun, dipelopori seorang dokter bernama DR.dr Kristanto Yuli Yarsa Sp.B (Onk).

siaran di radio untuk berbagi informasi tentang kanker.
Lovelypink

Menurut Dyah Retno yang ditunjuk menjadi Ketua Komunitas Lovelypink Solo, komunitas ini terbentuk awalnya dari sharing antar pasien di ruang tunggu dokter Onkologi di sebuah RS swasta di kota Solo. Dari belasan pasien yang sedang berobat tersebut ingin bersatu dalam sebuah wadah untuk saling memberikan informasi terkait penyakit khususnya kanker dan nantinya bisa saling menguatkan satu sama lain. Ide yang cukup sederhana namun sarat kemanusiaan itu lantas disetujui oleh DR.dr Kristanto Yuli Yarsa Sp.B (Onk) yang selama ini menjadi rujukan para pasien tersebut.

Tak selang lama, dibentuklah sebuah komunitas yang lantas diberi nama Lovelypink Solo. Lovely dari arti kata menyenangkan, dan pink adalah warna pita simbol penderita kanker payudara. Sehingga Lovelypink dapat dikatakan sebagai wadah dan pendampingan para survivor (penyintas) yang menyenangkan. Awalnya komunitas ini hanya beranggota belasan, kini jumlahnya mencapai 300 orang. Jumlah ini menghimpun tidak hanya dari Solo saja, namun juga Sragen, Wonogiri, Sukoharjo, Boyolali, Ungaran, Semarang, Madiun, Ponorogo, Surabaya dan masih banyak lainnya. Untuk anggotanya, tandas Dyah Retno, tidak hanya para penyitas kanker semata, namun ada juga pendamping (pasangan, anak, suami, istri), dan relawan. Usianya pun beragam mulai dari 21 tahun hingga 68 tahun.

salah satu kegiatan yang melibatkan para penyintas kanker dan masyarakat,
Lovelypink

Selama ini, diakui Dyah, karena kurangnya informasi, banyak yang merasa malu ketika divonis menderita kanker, bahkan akhirnya mendapat stigma akan ketidakberdayaannya. Namun dengan keberadaan Komunitas Lovelypink Solo (LPS) ini, perlahan beragam informasi dapat dibagikan dan diterima oleh seluruh masyarakat. Entah itu informasi terkait deteksi dini, pengenalan terhadap tahapan pengobatan kanker, tahapan pengobatan yang panjang, resiko dan efek samping yahg akan dialami serta masih banyak lainnya.
“Yang pasti, lewat komunitas ini, kami jadi tidak merasa sendiri. Kami bisa sharing pengalaman, informasi dan juga meminimalkan rasa takut untuk berobat,”tandasnya.
Senada, Bu Yani dan Bu Meti yang sedari tadi mendengarkan, turut mengamini hal tersebut. Diakui Bu Meti, tahapan untuk menghadapi kanker itu sangat panjang dan kadang melelahkan. Ketika harus operasi, radiasi hingga kemoterapi.

Baca Juga :  Korem 074/Warastratama Gelar Upacara Peringatan Hari Pahlawan
Bertemu, berbagi dan saling support antar penyitas kanker menjadi salah satu misi komunitas ini.
Lovelypink

“Ini akan lama, dan juga menuntut waktu, tenaga dan pastinya biaya. Ada kalanya, para penyintas kanker ini dihadapkan pada titik jenuh. Mood boster yang harus kuat, meski lelah, capek karena berobat tiada henti dan was-was selalu,”imbuh Bu Metty.

Benar, kami ini sela Bu Yani, ibaratnya was-was karena alhamdulillah bila Lebaran ini masih bisa berkumpul, namun siapa tau apa yang terjadi tahun depan. Kalimat yang pastinya sulit diucapkan dan tidak nyaman didengar. Namun begitu terlihat mereka begitu kuat dan optimis tatkala berbagi kisahnya.
Kiprah Komunitas Lovelypink Solo (LPS) sejauh ini, cukup bermanfaat dan efektif membantu para penyintas kanker sendiri maupun lingkungan. Terhimpun dalam grup Whatsapp dengan nama yang sama Komunitas Lovelypink Solo, di dalamnya menjadi sarana berbagi pengetahuan dan informasi yang begitu penting. Termasuk pertanyaan-pertanyaan terkait kanker yang mereka alami, dan pastinya akan mendapatkan jawaban dari dokter yang ahli dan menangani mereka selama ini.

Begitu juga sejumlah kegiatan rutin mereka gelar. Mulai dari sosialisasi kepada masyarakat tentang kanker, faktor resiko kanker yang berbeda-beda , usia tua yang lebih beresiko besar menderita kanker dan lainnya. Kegiatan rutin per tiga bulan tak lupa digelar yakni sharing, sosialisasi dan ketemu antar anggota.
“Bercerita dengan orang lain, akan berbeda rasanya ketika sharing dengan sesama penderita. Sebab kami mengalami hal yang sama, jadi empatinya lebih dalam,”tukas Dyah Retno.

Baca Juga :  Anda yang Gendut, Awas Kanker Ginjal!
kartu anggota Komunitas Lovelypink
Jsnews/Kiki Dian

Gaung Komunitas Lovelypink Solo kini semakin terdengar. Perlahan namun pasti komunitas ini tumbuh dan mampu menjadi wadah yang cukup positif. Bahkan sejumlah hal diberlakukan bagi para anggotanya, termasuk wajib memilik kartu anggota. Kartu Anggota ini berisikan nama lengkap dan nomor anggota, data base dalam komunitas ini pun terbilang paling lengkap dibandingkan komunitas-komunitas lainnya. Istimewanya, komunitas ini menjadi komunitas satu-satunya di eks Karesidenan Surakarta yang memiliki sertifikat pendampingan skala internasional dari Yayasan Kanker Payudara Indonesia.

Hanya saja satu hal yang masih mengganjal dalam operasional komunitas ini terkait masalah anggaran atau dana. Pasalnya selama ini masih mengandalkan swadana dari anggota dan pengurus. Sponsorship hanya ada ketika event besar diselenggarakan.
“Sejauh ini memang belum ada donatur tetap. Kami mengandalkan donasi dari para anggota dan pengurus, misal untuk membantu mereka yang tidak punya biaya berobat, membeli oksigen untuk pasien, dan membeli kursi roda. Namun masih belum mencukupi, sehingga kamu mengharapkan donatur tetap,”kata Dyah Retno.

Biaya untuk kanker kata Bu Meti tidaklah sedikit, beruntung kalau selama ini masih tercover BPJS. Namun bagi yang tidak punya, maka harus berpikir keras. Seperti sekali kemoterapi bisa menelan biaya Rp 1,7 juta-Rp 12 juta tergantung obat. “Paling tidak minimal Rp 2,5 juta sekali berobatnya, “tukasnya.

Terlepas dari perjuangan dalam bentuk apapun, satu hal yang ditekankan Dyah Retno kepada para penderita kanker bahwasanya obat kanker adalah diri sendiri. Hal ini tak lepas dari kewajiban dan kewaspadaan untuk memantau pergerakan sel kanker masing-masing, melakukan cek berkala, minum obat secara disiplin dan optimis. # Kiki Dian

Nama : Komunitas Lovelypink Solo (LPS)
Sekretariat : Jalan Siwalan No.25 Kerten Solo
Cp : Dyah Retno (Hp 0898.5246.111)

Loading...