loading...


Para pelamar kerja saat mendatangi salah satu stand perusahaan di Job Fair Sragen 2018, Rabu (29/8/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN- Gebyar Job Fair 2018 yang digelar Pemkab melalui Disnaker yanh dibuka Rabu (29/8/2018), bisa jadi memang menjanjikan 7.000 peluang kerja. Namun, di balik itu, terselip pesimisme dan cerita ironis dari para lulusan yang ikut berburu lowongan pekerjaan.

Sebagian besar ternyata mengaku sudah berulangkali dan tak terhitung melamar pekerjaan di lokal Sragen namun selalu mental. Kendala bayaran terlalu kecil hingga sistem kontrak menjadi pertimbangan mereka akhirnya terus berburu loker.

“Sulit Mas, sudah nggak keitung lagi berapa lamaran yang saya  masukkan ke perusahaan lokal tapi nggak ada yang nyantol. Kemarin sempat masuk di pabrik tapi gajinya malah nggak sampai UMR. Itu pun kontrak,” ujar Yan, pemuda lulusan SMK saat ditemui di lokasi Job Fair.

Nasib tak kalah tragis dialami para lulusan SMK yang sempat bekerja di perusahaan nasional namun terpaksa pulang kembali jadi pengangguran. Mereka pulang karena kontrak sudah habis dan tak ada perpanjangan.

Baca Juga :  HUT RSUD Sragen, Kyai Pesan Direktur dan Karyawan Tak Saling Iri. Kini Punya 42 Bed Untuk Cuci Darah 

Sementara perburuan mencari kerjaan pengganti di kota besar, juga tak kunjung didapat.

“Saya lulusan SMK di Sragen tiga tahun lalu. Begitu lulus sebenarnya langsung dapat kerja di Komatsu Cikarang. Gajinya UMR tapi lumayan sebulan bisa Rp 4,5 juta. Tapi kontrak hanya tiga tahun dan kemarin habis bulan empat, nggak diperpanjang lagi. Terpaksa pulang kampung karena di sana nyari kerjaan lain juga susah. Saya mungkin mau merantau saja karena nyari kerja di daerah sulit sekali, padahal cuma UMR,” ujar Doni (22) asal Purwodadi, Dayu, Jurangjero, Karangmalang.

Doni mengisahkan karena tak kunjund dapat pekerjaan baru, dia dan beberapa teman lain yang bernasib sama, akhirnya pulang ke kampung halaman.

Perjuangan tanpa henti mencari pekerjaan dan mengirim lowongan di daerah juga tanpa hasil.

“Ya nganggur sejak bulan empat itu sampai sekarang. Pinginnya daripada nganggur ya cari pekerjaan seadanya dulu di Sragen, bayaran seadanta dulu juga nggak masalah tapi ternyata juga susah,’ urai Doni.

Baca Juga :  Hari Antikorupsi Sedunia, Kapolres Sragen Serukan Suap dan Pungli Termasuk Korupsi. Masyarakat Diminta Proaktif!  

Yanto (23), lulusan SMK juga mengaku seusai lulus, juga langsung diterima bekerja dengan Astra. Namun lagi-lagi dirinya dan pekerja seangkatan, juga terpaksa harus pulang karena kontraknya hanya dua tahun sedangkan perusahaan tak memperpanjang. Dia dan beberapa lulusan lain, bahkan sudah setahun lebih menganggur di rumah.

“Sebenarnya di rumah juga sambil nyari kerja terus. Ada lowongan di mana saja kami lamar tapi mungkin belum rejeki,” tutur pemuda lulusan teknik mesin itu.

Antusiasme pemburu lowongan pekerjaan di Job Fair tersebut memang sangat tinggi.

Kepala Diskaner Sragen, Pujiyatmoko mengatakan tujuan Job Fair adalah mengurangi kesenjangan informasi antara perusahaan pengguna tenaga kerja dengan pencari kerja, terkait dengan pemenuhan kebutuhan tenaga kerja. Lewat Job Fair diharapkan mampu menyerap sebanyak mungkin calon tenaga kerja yang sesuai dengan kualifikasi.

Baca Juga :  Lokasi Kecelakaan Maut di Tol Sragen-Ngawi Tewaskan 2 Nyawa Tepat 7 Kilometer Dari Lokasi Peresmian Oleh Presiden Jokowi

Sehingga diharapkan di Kabupaten Sragen terbentuk iklim sosial, ekonomi dan budaya yang layak.

Menurutnya ada 33 perusahaan yang mengikuti Job Fair Sragen dengan junlah lowongan tersedia 7.000 formasi.

“Sasarannya angkatan kerja usia produktif yang belum bekerja, sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran terbuka di Kabupaten Sragen,” paparnya kepada wartawan. Wardoyo

 

Loading...