loading...
Loading...
Para peserta seleksi Perdes oleh LPPM AUB dari berbagai desa perwakilan 17 kecamatan saat menggeruduk dan beraudiensi dengan pihak LPPM AUB atas indikasi ketidakberesan dan kejanggalan proses seleksi, Jumat (10/8/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN- Kisruh seleksi penjaringan perangkat desa (Perdes) makin memanas. Setelah LPPM UMS menyatakan siap menggelar ujian ulang, ratusan peserta seleksi Perdes di 126 desa yang bekerjasama dengan LPPM AUB, juga mendatangi LPPM AUB di Solo, Jumat (10/8/2018).

Mereka yang datang merupakan perwakilan dari peserta seleksi yang gagal dari berbagai desa di 17 kecamatan. Mereka ke Solo menyusul indikasi kecurangan dan kejanggalan selama ujian berlangsung.

Koordinator aksi,  Yudi Ananda mengungkapkan aksi ke LPPM AUB digelar menyikapi banyaknya laporan kejanggalan dan indikasi kecurangan yang dirasakan oleh peserta seleksi Perdes yang bekerjasama dengan AUB.

Menurutnya, kejanggalan yang dirasakan adalah banyak komputer yang mendadak hang dan tidak ada toleransi perpanjangan atau tambahan waktu. Hal itu dinilai sangat merugikan peserta.

Kemudian ada beberapa peserta yang nilai ujian Tes Pengetahuan Umum (TPU) dari LPPM ternyata ditemukan berubah ketika sampai di tangan panitia desa.

“Saya sendiri ikut seleksi penjaringan di Desa Banaran, Sambungmacan. Yang saya rasakan banyak sekali kendala dan indikasi ketidakberesan di lapangan dengan komputer oleh pihak AUB. Seperti pengaturan page layout pada tes pengetahuan komputer, sebelum ujian ketua LPPM menyampaikan untuk pengetikan word tidak prrlu mengatur page layout tapi nyatanya khusus di ruangan sesi 4, jarak tulisan di komputer saja 10 cm.  Sehingga yang lain sudah ngetik, saya masih harus mengatur itu dulu. Ini kan sangat merugikan, ” paparnya.

Baca Juga :  Identitas Motor Penabrak Bripka Kurniawan Akhirnya Terlacak. Tim Polda Jateng Bakal Turun ke Sragen, Polres Bentuk Tim Khusus

Selain itu banyak peserta yang merasa dirugikan dengan komputer mendadak mati dan tidak ada tambahan waktu pengganti. Kemudian ada indikasi nilai print out ujian dari LPPM setelah ke panitia desa ternyata tidak sama.

“Ada beberapa peserta yang saat CAT nilai mereka muncul 74, tetapi yang turun dan diterima hasil penjaringan berubah jadi 71. Nilai saya TPU 64, ternyata ketika diterima di desa jadi 41,” tuturnya.

Tidak hanya itu, kejanggalan lain perhitungan nilai ujian word dan excel, juga dinilai menyalahi Perbup No 10/2017. Yudi menyebut di Perbup, nilai ujian word dan excel masing-masing berporsi 50 persen:50 persen.

Akan tetapi, nilainya ujian excel yang sudah selesai, hanya dapat 25. Sedangkab ujian word malah tidak ada nilainya karena kehabisan waktu akibat komputer sempat mati.

“Padahal saya punya ijazah komputer juara 1 komputer, persiapan sudah dejak 2015 dan sudah buat blogger. Gara-gara komputer mati dan jarak page layout akhirnya tak bisa ngerjakan word. Kami benar-benar merasa dirugikan dan ada ketidakadilan dari panitia AUB. Makanya kami minta hasilnya AUB dibatalkan semua dan dilakukan ujian ulang biar fair,” terangnya.

Baca Juga :  Pengunjung Kian Sepi Omzet Anjlok Hingga 50 %, Ratusan Pedagang Pasar di Sragen Menjerit

Peserta lain,  berinisial N dari Ngrampal juga mengendus ada kejanggalan saat mengikuti seleksi yang juga bekerjasama dengan AUB. Pertama kabar adanya pengondisian dan main uang diperkuat dengan fakta bahwa nama-nama calon terpilih ternyata juga sama persis dengan nama calon dikondisikan yang beredar beberapa hari sebelum ujian.

“Kemudian pada saat ujian, komputer saya itu waktu diklik hanya pending saja dan itu masih butuh 10 detik. Munculnya nilai CAT juga enggak serentak. Ini sangat mencurigakan seperti sudah ada setingan. Makanya kami juga meminta untuk dilakukan ujian ulang agar ada keadilan,” tandasnya.

Sayangnya, upaya mereka untuk menguak tabir itu terganjal kekehnya pihak LPPM AUB. Saat beraudiensi dengan perwakilan peserta, tim LPPM AUB menolak memberikan print out hasil ujian dan jawaban peserta dengan alasan hal itu tidak bisa dilakukan karena terganjal regulasi. Wardoyo

Loading...