loading...
Loading...
Dalang muda jawara nasional asal Sragen, Gadhing Panjalu saat mementaskan wayang kulit di Taman Krido Anggo, Selasa (31/7/2018) malam. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Seni budaya wayang kulit selama ini barangkali lebih diidentikkan dengan tontonan monoton yang hanya digemari generasi lawas. Namun ungkapan itu akan sirna melihat sosok dalang muda nan piawai ini.

Ya, sosok itu adalah Gadhing Panjalu Wijanarko Putro,  dalang muda asal Jalan Serayu No 4, Sumengko, Sragen. Remaja kelahiran Sragen 19 tahun silam itu seolah menegaskan bahwa wayang kulit juga layak menjadi  tontotan seni untuk generasi milenial.

Kepiawaiannya mengolah peran wayang kulit di atas panggung, tak diragukan lagi. Salah satunya terlihat saat mementaskan wayang kulit dengan lakon “Babat Alas Wono Marto” di acara pengukuhan Pengurus Pepadi Sragen di Taman Krido Anggo Sragen, Selasa (31/7/2018) malam.

Baca Juga :  Geger Balita di Sukodono Ditemukan Tewas Mengambang di Kolam Ikan. Kedua Orangtua Langsung Histeris dan Syok Saat Lihat Jenasah Putranya 

Meski masih muda, kepiawaiannya memainkan wayang kulit tak kalah hebat dengan dalang kondang lainnya. Kehebatannya mendalang malam itu seolah menegaskan predikat juara nasional festival dalang bocah yang pernah ia sandang tahun 2009 di Jakarta.

Namun prestasi gemilang itu lahir lewat perjuangan dan proses yang panjang.  Gadhing yang kini duduk di semester 3 ISSI Surakarta Jurusan Pedalangan itu memang mewarisi darah seni dalang dari bapaknya, Putut Wijanarko. Putut selama ini dikenal dalam jajaran dalang kenamaan di Bumi Sukowati.

Gadhing Panjalu (tengah) saat menerima wayang dari Wabup Sragen, Dedy Endriyatno sebelum pentas wayang di Taman Krido Anggo Sragen, Selasa (31/7/2018) malam. Foto/Wardoyo

Saat ditemui usai pentas, Gadhing mengungkapkan kecintaannya terhadap wayang kulit memang sedikit banyak lahir dari warisan darah seni orangtuanya. Sering diajak mentas bapaknya sejak usia dua tahun, membuat bakat seninya tumbuh dengan sendirinya.

Baca Juga :  Diwarnai Tangis Haru, Almarhum Bripka Kurniawan Dimakamkan dengan Prosesi Upacara Kedinasan. Almarhum Tinggalkan 3 Putra Masih Kecil 

“Sejak umur 2 tahun saya memang sudah diajak manggung sama Bapak. Duduknya dipangku Bapak sambil ndalang. Dari situ saya akhirnya senang dengan wayang. Bahkan saat diajak mentas, saya mulai diajari dan ikut megang wayang juga, ” ujarnya didampingi bapaknya,  Putut Wijanarko.

Saking seringnya ikut mentas, membuat Gadhing kecil mulai terbiasa dengan suasana pentas wayang kulit. Tak pernah tidur dan manggung semalam suntuk menjadi hal yang biasa dilakoninya.. (bersambung) . Wardoyo

 

Loading...