loading...
De Tjolomadoe menggelar acara Festival Timus. Foto:Triawati

KARANGANYAR– De Tjolomadoe menggelar acara Festival Timus dengan puncaknya pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pembuatan replika pabrik Colomadu dengan timus terbanyak. Festival timus yang digelar sejak tanggal 15 Agustus 2018 dan berakhir Minggu (19/8/2018) tersebut berhasil mengabadikan 17.845 timus yang disusun sesuai replika Pabrik Gula Colomadu.

Kegiatan pemecahan rekor yang diadakan untuk memeriahkan HUT RI Ke 73 tersebut digelar Sabtu (18/8/2018). Direktur Utama De Tjolomadoe sekaligus Ketua Penyelenggara, Rachmat Priyatno menuturkan, peringatan HUT RI tidak harus dengan menyelenggarakan kegiatan hura-hura atau pesta saja. Melainkan juga dengan pengembangan potensi masyarakat.

“Seperti dalam Festival Timus ini, kami menggandeng UKMKM, sehingga kegiatan ini bisa memberikan dampak pertumbuhan perekonomian. Sekaligus untuk lebih mengenalkan De Tjolomadoe ke masyarakat luas,” urainya.

Baca Juga :  Persiapan New Normal di Solo, Polresta Solo Akan Lakukan Langkah Strategis Ini

Pembuatan 17.845 timus sendiri dilakukan mendadak yaitu di hari yang sama timus disusun dan dibentuk replika. Timus dibuat dari 2,1 ton ubi ungu dan ubi kuning sebagai makanan khas dari Karanganyar. Pembuatan timus sendiri ini melibatkan lima kelompok UMKM dimana satu kelompok terdiri dari lima sampai dengan sepuluh anggota. Timus yang tersaji ini dibuat dalam bentuk replika pabrik gula (PG) Colomadu yang sekarang sudah berubah menjadi De Tjolomadoe.

Untuk penyusunan replika ini melibatkan para siswa dari SMKN Karanganyar sebanyak 20 siswa, dari Indonesian Chef Association (ICA) sebanyak 10 orang. Dalam kesempatan yang sama, Chef Brian Wicaksono yang berlaku sebagai ketua dalam penyusunan replika mengatakan, bahwa timus yang dibuat memiliki ukuran panjang lima sentimeter dan berdiameter tiga sentimeter.

Baca Juga :  Sidak Persiapan PPDB Online, DPRD Solo: Zonasi Tak Lagi Gunakan Rute Google, Tapi Jarak Udara, Apa Efeknya?

“Pemilihan timus ini untuk mengangkat budaya kuliner yang ada di Karanganyar. Selain itu, supaya keberadaan makanan tradisional seperti timus ini tidak tergerus oleh zaman,” urai Rahmat.

Ditambahkan Eksekutif Manajer MURI, Sri Widyati, untuk bisa masuk dalam MURI haruslah memenuhi empat hal yakni paling, pertama, unik dan langka (PPUL). Dan festival ini masuk dalam kategori tersebut.

“Dan kami sudah melakukan penghitungan jumlah timus yang akan dibuat replika bangunan PG Colomadu. Kalau jumlah timusnya pasti jauh lebih banyak, tetapi ini hanya diambil dengan angka cantik disesuaikan dengan tanggal bulan dan tahun kemerdekaan,” tukasnya. Triawati PP