loading...
Kebakaran lahan di Gunung Belah Wonogiri

WONOGIRI-Wilayah Wonogiri memiliki kerawanan bencana tinggi. Bahkan setiap musim dipastikan terjadi bencana

Sekda Wonogiri, Suharno mengatakan, bencana datang tidak mengenal musim. Contohnya, setiap musim penghujan, sering terjadi tanah longsor atau angin puting beliung, sementara ketika musim kemarau ada bencana kebakaran atau kekeringan.

Menurut Sekda selama beberapa tahun terakhir, wilayah Wonogiri selalu dilanda bencana. Bahkan ada yang menimbulkan korban jiwa, seperti terkuburnya sejumlah warga akibat tanah longsor di Kecamatan Tirtomoyo akhir 2017 kemarin. Bencana-bencana itupun tidak sedikit menimbulkan kerugian material.

“Masyarakat agar selalu waspada terhadap potensi bencana,” tandas Sekda.

Baca Juga :  Catat, Segini Jumlah Penerima Sekaligus Anggaran BLTDD Tahap Pertama di Wonogiri

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto mengatakan, hampir semua kecamatan di Wonogiri rawan bencana alam, dengan kategori menengah, ringan, sedang, dan tinggi. Kecamatan berpotensi bencana alam tinggi misalnya Kecamatan Selogiri, Manyaran, Wonogiri, Karangtengah, Jatipurno, Tirtomoyo, Kismantoro, Bulukerto, Puhpelem, Slogohimo, Nguntoronadi, dan Jatiroto.

“Wilayah kecamatan itu rawan terjadinya tanah longsor dan angin puting beliung. Harus terus waspada. Selain itu saat ini bersama kecamatan lainnya juga rawan kebakaran,” kata dia.

Dia mengimbuhkan, berdasarkan koordinasi dengan BPBD Provinsi Jateng, ada satu jenis bencana lagi yang perlu diwaspadai. Yakni bencana tsunami akibat pergerakan lempeng kerak bumi di bawah Samudera Indonesia. Wilayah Wonogiri sisi selatan, khususnya di Kecamatan Paranggupito, berbatasan langsung dengan samudera tersebut. Terdapat sejumlah pantai di daerah itu.

Baca Juga :  Ciptakan Rasa Aman Saat Lebaran 4 Jalur Utama di Wonogiri Jadi Sasaran Patroli Skala Besar TNI Polri Satpol PP dan Dishub

Warning tsunami itu membuat kewaspadaan mesti ditingkatkan berlipat bagi warga yang tinggal di sekitar bibir pantai. Sebab jika tsunami benar-benar terjadi, merekalah yang paling banyak merasakan akibatnya.

Kendati demikian, hal tersebut tidak perlu membuat warga panik berlebih. Saat tsunami bakal terjadi, pasti sudah ada peringatan dini terhadap warga. Aris Arianto