loading...
tribunnews

Dalam lagu  atau cerita anak-anak, suara katak biasa ditulis dan dilafalkan “kungkong”, dan jengkerik dilafalkan “krik… krik….” Tapi, sekarang bunyi kriikk… krikk… belum tentu suara jengkerik sejak penemuan jenis katak baru si Kalimantan ini.

Suaranya mirip dengan jengkerik.  Para ahli menemukan  dua jenis katak baru  di Kalimantan. Penemu sekaligus ahli herpetologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Amir Hamidy menyebut suaranya mirip jangkrik.
“Ukurannya kecil kurang dari 2 cm, tapi suaranya nyaring sekali tidak terputus-putus seperti suara jangkrik,” ujarnya.

Katak dengan genus Leptorachella itu berhasil diidentifikasi setelah 18 tahun berada dalam koleksi Djoko Iskandar, ahli zoologi Indonesia dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga terlibat dalam penemuan ini.
Spesies baru ini diberi nama Leptorachella fusca dan Leptorachella bondangensis.
Pada keduanya, ditemukan pupil mata berbentuk vertikal.
Ada pula kelenjar di sisi tubuhnya, terentang dari bawah kaki depan hingga selangka.
Kelenjar ini berfungsi menjaga kelembaban kulit katak.

Bedanya, kelenjar pada L. bondangensis terputus-putus sementara kelenjar L. fusca terlihat memanjang.

Kedua spesies katak ini juga memiliki warna yang berbeda. Katak jangkrik hanya dapat ditemukan di daerah hutan tropis sekitar Borneo dan Natuna.

Berudunya hidup di pasir-pasir di dasar sungai.
Katak dewasa biasa bertengger di daun-daun pohon yang tidak terlalu tinggi.
Menurut Amir, meski baru ditemukan, katak jangkrik bisa jadi sudah langka atau bahkan punah.

Kelangsungan hidup katak ini memang sangat bergantung pada kondisi habitatnya.

Selanjutnya, peneliti akan menentukan status konservasinya untuk dimasukan dalam daftar kelangkaan spesies Iinternational Union for Conservation of Nature (IUCN). #tribunnews


Loading...