loading...
Loading...
Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Pasca kisruh seleksi perangkat desa yang hingga kini belum kunjung selesai, Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati mendadak mengumpulkan semua kepala desa (Kades), Selasa (25/9/2018). Menariknya, selain memberi wejangan dan meminta dukungan, dalam rapat berbahasa koordinasi itu, orang nomor satu di jajaran Pemkab Sragen itu dikabarkan sempat menyinggung istilah 2020 Ganti Bupati yang belakangan dikabarkan berembus dan jadi perbincangan di bawah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, rakor itu digelar di Ruang Sukowati Setda Sragen. Dari semua Kades berjumlah 196 yang diundang dengan bahasa wajib datang, ternyata hanya sekitar 80 persen Kades yang dikabarkan hadir.

Rakor dipimpin langsung oleh Bupati didampingi Wabup Dedy Endriyatno dan Sekda Tatag Prabawanto. Menurut sejumlah sumber, rapat dibuka dengan paparan biasa dan harapan agar semua Kades mendukung program bupati.

Baca Juga :  Viral Bendera HTI di SMKN 2 Sragen, Bupati Mengaku Langsung Ditelepon Gubernur. Sebut Jika Ada Guru Terbukti Beri Pemahaman Salah, Pecat! 

Kemudian bupati mulai menyinggung soal seleksi Perdes yang berbuntut kisruh dan polemik. Di hadapan Kades, ia mencoba meyakinkan bahwa dirinya benar-benar lepas dan tak ikut campur dalam seleksi Perdes.

Namun pernyataan bupati itu tak memantik respon apapun. Semua Kades yang sebagian dikabarkan sempat kecewa atas seleksi Perdes, juga terdiam. Tak ada tanggapan maupun pertanyaan atas pernyataan bupati itu.

Tak hanya Perdes, bupati juga mendadak sempat menyinggung soal isu 2020 ganti bupati yang belakangan menjadi perbincangan di kalangan Kades dan akar rumput sebagai buntut kisruh seleksi Perdes.

Bupati menegaskan bahwa Pilkades akan dihelat lebih dulu yakni digelar 2019 sedangkan Pilkada baru 2020.

Baca Juga :  Viral Pengibaran Bendera HTI di SMKN 2 Sragen, Gubernur Ganjar Ragukan Alibi Guru Yang Mengaku Tak Tahu Bendera HTI. Ancam Siapkan Sanksi Tegas

Setelah menyentil isu itu, ia pun akhirnya berharap dukungan para Kades tak hanya sebatas dukungan lisan.

Yang menarik, sepanjang rakor, Kades yang biasanya aktif dan responsif, kali ini berubah lain. Mereka lebih banyak terdiam.

Bahkan saat dibuka sesi tanya jawab pun, semua kades yang hadir memilih diam. Karena tak ada yang merespon maupun bertanya, rakor pun ditutup nyaris tanpa ekspresi.

“Iya memang membahas banyak hal. Ya disebut juga katanya ada isu 2020 ganti bupati. Disampaikan seleksi Perdes juga. Tapi intinya agar Kades lebih kompak dan mendukung bupati,” ujar beberapa Kades seusai rakor.

Kabar soal rakor itu juga sudah terdengar oleh DPRD. Anggota fraksi PKB DPRD Sragen, Faturrahman menyampaikan dari informasi yang ia terima, dalam rakor itu bupati memang sempat menyinggung soal seleksi Perdes, termasuk isu 2020 ganti bupati.

Baca Juga :  Kasus Boikot Hajatan di Hadiluwih Sragen Berakhir di Meja Balai Desa. Pak RT Akhirnya Minta Maaf, Pernyatan Bu Tini Malah Bikin Trenyuh 

Ia memandang hal itu sebagai bentuk kegelisahan yang muncul atas rentetan persoalan hukum yang mendera desa hingga seleksi Perdes yang berdampak membuat hubungan bupati dengan Kades serta relawan menjadi renggang.

“Ya memang informasi yang kami terima juga seperti itu. Mungkin ada kegelisahan karena ada kabar Ketua Paguyuban Kades mengajukan pengunduran diri dampak dari seleksi Perdes kemarin. Barangkali ingin mengklarifikasi ke Kades dan berharap semua kompak kembali. Karena sempat dilontarkan pula soal minta dukungan,” tandasnya. Wardoyo

 

 

 

Loading...