loading...
Loading...
Ilustrasi puluhan PSK yang sebagian berkedok pemandu karaoke di Gunung Kemukus Sumberlawang saat dikumpulkan dan diberi sosialisasi pada beberapa waktu silam pascs penutupan prostitusi Kemukus. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Obyek wisata Makam Pangeran Samudera atau yang dikenal dengan nama Gunung Kemukus di Sumberlang, Sragen memang tak henti mengundang kontroversi. Obyek wisata yang konon identik dengan ritual berbumbu seksualitas itu hingga kini ternyata memang belum bisa lepas dari bayang-bayang praktik prostitusi.

Meski warung remang-remang dan karaoke yang konon menjadi tempat mangkal para pekerja seks komersial (PSK) di kompleks Kemukus sempat ditutup akhir 2014, hal itu tak lantas menjadi akhir dari kehadiran wanita penjaja syahwat di Kemukus.

Buktinya kini para PSK itu dilaporkan kembali marak di sana. Bahkan sejumlah pihak menyampaikan jumlah PSK yang mangkal hampir mendekati sebelum ditutup.

“Masih ada sekitar 100an bahkan lebih. Tapi sekarang mereka nggak mangkal di warung-warung dalam kompleks wisata. Tapi menyebar di warung-warung sekitar luaran Kemukus. Tapi ya masih di dekat situ,” ujar TP (45) salah satu pegiat sosial yang menangani persoalan PSK dan fenomena sosial di Sragen, Sabtu (17/11/2018).

Ia yang selama ini getol mengkampanyekan pencegahan AIDS di berbagai kelompok risiko tinggi (Risti) bersama Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Sragen itu menuturkan meski pernah ditutup untuk prostitusi, faktanya keberadaan PSK di Kemukus tetap menjamur.

Baca Juga :  Kasus Dugaan Skandal Selingkuh Hingga Hamil di Jenar Sragen, Polisi Bakal Periksa Oknum Bayan di Ngepringan 

Hal itu diperkuat keterangan sejumlsh tokoh di Desa Pendem, Sumberlawang, PAR (50). Ia mengungkap sebenarnya para PSK di Kemukus memang ibarat sayur dan garam yang tak begitu saja bisa dipisahkan.

“Dulu 2014 waktu penutupan oleh propinsi itu pun, sehari setelah ditutup, besoknya semua pada balik lagi. Tapi mereka nggak terang-terangan mangkal. Sampai sekarang pun, sebenarnya kalau nggak selak (berkilah) aslinya ya masih kembali lagi sama seperti dulu. Cuma mereka lebih menjaga dan nggak vulgar. Jumlahnya pun juga hampir sama dengan dulu. Biasanya puncaknya ya pas hari ritual yaitu malam Jumat. Enggak ada rubahnya,” tuturnya.

Menurutnya, mayoritas PSK yang ada di Kemukus memang bukan asli Sragen melainkan pendatang. Rata-rata dari wilayah Pantura hingga Jatim.

Ironisnya, keberadaan PSK itu seolah ibarat misteri. Acapkali digelar razia, mereka mendadak menghilang mengelabuhi petugas.

Seperti razia besar-besaran oleh Satpol PP Pemprov Jateng dan Satpol PP Sragen yang digelar akhir bulan lalu. Razia yang digelar malam Minggu itu tak mendapati satu pun tangkapan PSK.

Rumor bahwa razia diduga sudah bocor pun menjadi perbincangan hangat di internal petugas.

Baca Juga :  Jeritan Petani Sragen Didera Kelangkaan Pupuk. Gerilya ke Kios-Kios Tapi Kosong, Harga Non Subsidi Pun Mencekik 

Saat dikonfirmasi belum lama ini, Kepala Dinas Satpol PP Sragen, Tasripin tak menampik razia PSK di Kemukus oleh Pemprov dan Satpol PP Sragen malam itu memang nihil hasil. Soal kabar kembali maraknya PSK di Kemukus, ia mengatakan razia sebenarnya terus dilakukan.

“Kewenangan kami kan hanya penegak Perda dan melakukan penertiban dan pembinaan saja,” tandasnya.

Seperti diketahui, Gubernur Ganjar Pranowo telah menutup obyek wisata pada November 2014 setelah menggemparkan dunia dengan berita pesta seks ribuan pengunjung dengan PSK di Kemukus yang ditulis jurnalis Australia.

Sempat tiarap setelah penutupan 2014, kini fenomena PSK Kemukus seolah menghadirkan ironi baru di tengah wacana Pemkab yang gembar-gembor akan membersihkan image dan merubah Kemukus menjadi Wisata Religi maupun Islamic Center. Wardoyo

Loading...