loading...
Loading...

 

Ilustraso. Pixabay

JAKARTA– Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Nasional (Perbanas) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan jumlah perusahaan perbankan di Tanah Air akan berkurang signifikan. Bank-bank yang masih ada sekarang diprediksi akan melakukan konsolidasi satu sama lain.
Nantinya hanya ada bank-bank yang punya skala, baik fisik maupun digital, yang kuat untuk bertahan dalam jangka panjang.

“Sekarang ini waktunya konsolidasi sehingga nantinya jumlah bank di Indonesia akan berkurang signifikan dan nanti hanya ada bank-bank yang punya skala, baik fisik maupun digital, yang kuat untuk survive dalam jangka panjang,” kata Kartika di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu, (14/11/2018).

Kartika mengatakan konsolidasi menjadi hal yang wajib dilakukan perbankan di masa mendatang. Alasannya, dunia perbankan Indonesia kini tengah menghadapi tantangan, salah satunya adalah likuiditas yang semakin ketat. “Loan to deposit ratio di Indonesia sehabis krisis itu 45 sampai 50 persen, sekarang sudah mencapai 90 persen.”

Presiden Direktur Bank Mandiri itu melihat ke depannya persaingan dana pihak ketiga juga bakal semakin menantang. Hanya perusahaan perbankan dengan teknologi dan kapabilitas dalam mengembangkan platform digital, serta memiliki banyak cabang yang punya cukup massa menggalang dana pihak ketiga lebih banyak.

Baca Juga :  Bongkar Anggaran Janggal, Nasib William PSI Di Tangan Ketua DPRD DKI

Adapun proses konsolidasinya, menurut Kartika, tak melulu harus terjadi secara terstruktur dan diarahkan. “Secara natural dan komersial pasti akan terjadi,” ujar dia. Itu tampak dari peristiwa konsolidasi sejumlah perbankan beberapa waktu ke belakang. Beberapa contoh konsolidasi itu antara lain proses MUFG Bank, Ltd mengakuisisi Bank Danamon Indonesia. Selain itu juga Bank Tabungan Pensiun Nasional yang merger dengan Bank Sumitomo Mitsui Indonesia.

Kartika menegaskan konsolidasi perusahaan perbankan secara natural pasti terjadi, khususnya untuk meningkatkan investasi teknologi, membangun merek, dan lainnya. “Juga adanya kebutuhan sumber funding untuk jangka panjang, itu menjadi keharusan untuk bertahan menghadapi tantangan di masa mendatang.”

Ke depannya, selain harus berhadapan dengan sesama perusahaan perbankan, pesaing di sektor industri keuangan adalah perusahaan-perusahaan teknologi finansial yang mulai menjamur. Sehinggam, pengembangan teknologi, menurut Kartika, adalah hal yang tidak bisa dihindari lagi. Penerapan teknologi termutahir sudah diaplikasikan di berbagai sektor usaha. Teknologi teranyar seperti robotik hingga internet of things, kata dia, sudah menjadi perbincangan, tak terkecuali di sektor keuangan.

Baca Juga :  "Bisnis" Online di Gresik, Pasutri Sediakan Janda Muda 30-35 Tahun dengan Tarif Rp 400.000

“Itu bukan omongan masa depan, tetapi masa sekarang dan sudah diaplikasikan,” kata Kartika. “Ini adalah tantangan bagi kita, bagaimana revolusi industri 4.0 akan mengubah wajah perbankan.”

Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Tigor Siahaan mengatakan persoalan revolusi industri 4.0 sudah berada di depan mata. “Bukan 5 sampai 10 tahun ke depan, tapi sekarang,” ujar dia.

Untuk menghadapi tantangan yang ada, Tigor mengatakan perbankan juga dituntut berkolaborasi dengan perusahaan teknologi finansial, perusahaan pembayaran digital hingga pemain platform guna menghadirkan layanan terkini. “Bukan hanya dibutuhkan sekarang, tapi juga di kemudian hari.”

www.tempo.co

Loading...