JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Mendekati Pilpres, Jokowi Siapkan Senjata Tim Bravo 5. Tugasnya Tangkal Serangan Isu-Isu Dari Lawan

Tim Bravo 5. tempo.co
Tim Bravo 5. tempo.co

JAKARTA – Banyaknya serangan isu yang digulirkan kubu lawan, membuat Calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi mulai gerah. Jokowi tegas bakal membentuk dan mengarahkan tim Bravo 5 untuk menyiapkan isu-isu untuk menangkal isu yang dilemparkan oleh kubu lawan.

Jokowi mengatakan Bravo 5 harus siap menghadapi isu-isu yang sangat mungkin dilemparkan secara mendadak.

Jokowi mengatakan hasil survei di atas kertas mengunggulkan pihaknya dengan angka yang cukup signifikan. Namun, menurut Jokowi, di era serba terbuka ini, terutama dengan dominannya media sosial, isu dapat mudah dibangun dan disebarkan.

Munculnya isu yang secara tiba-tiba itu bisa memengaruhi pemilih.

“Karena isunya memang sudah disiapkan. Tapi kita juga siap-siap dengan isu-isu, kalau di sana siap, kita juga harus siap seperti itu,” kata Jokowi di hadapan tim Bravo 5 di Hotel Putri Duyung, Ancol, Jakarta Utara, 10 Desember 2018.

Baca Juga :  Korban Lapindo Sambut Baik Rencana PUPR Ajukan Usulan Rp 1,5 T untuk Ganti Rugi

Bravo 5 adalah salah satu organ relawan pendukung Jokowi di pilpres 2019.

Jokowi mencontohkan kasus pertarungan pilpres Amerika antara Hillary Clinton dan Donald Trump. Saat itu, kata Jokowi, mayoritas lembaga survei mengatakan Hillary akan melenggang ke Gedung Putih. Bahkan Jokowi sempat bertanya pada Obama, dan jawabannya sama, Hillary menang.

Salat itu sama sekali tak ada yang pernah menduga bahwa pemenangnya adalah Donald Trump yang sejak awal tak diunggulkan. Hal ini, kata Jokowi, menjadi bukti landasan politik sudah berubah.

Baca Juga :  Langgar PSBB Jilid 2, 293 Rumah Makan Ditutup, 1 Restoran Didenda Rp 50 Juta

“Itu tadi yang saya katakan bahwa landscape politik kita sudah berubah, landasan politik nasional pun sudah berubah,” ujar dia.

Menurut Jokowi posisi inkumben itu bagai dua sisi mata pisau. Program di satu sisi dapat menjadi pendongkrak elektabilitas, di sisi lainnya justru menjadi bumerang untuk balik diserang.

Program yang gagal dijalankan, kata dia, sudah pasti akan terus digunakan untuk menyerang. Maka untuk menangkalnya, program yang berhasil harus terus diangkat.

“Baik infrastruktur, baik dana desa, baik program keluarga harapan, baik kartu sehat, baik kartu pintar itu harus diangkat terus. Harus,” ucap dia.

www.tempo.co