JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Geger Koridor Jensud Diviralkan Seperti Jalan Salib, Walikota Solo: Kalau Bikin Salib di Jalan, Berarti Saya Bodoh!

Desain batu andesit di kawasan Jl Jenderal Sudirman Solo. Istimewa
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Desain batu andesit di kawasan Jl Jenderal Sudirman Solo. Istimewa

SOLO- Pembangunan koridor Jenderal Sudirman Solo belakangan menyita perhatian lantaran mendadak viral. Pembangunan koridor yang tampak seperti gambar salib jika dilihat dari atas itu kini menjadi perbincangan.

Menanggapi hal itu, Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo menegaskan bahwa dirinya tidak mungkin secara sengaja memasukkan unsur agama dalam desain Koridor jalan. Rudy juga membantah bahwa Dinas Pekerjaan Umum selaku perancang dan pelaksana mendapat arahan darinya.

“Kalau saya bikin salib di jalan, berarti saya ini orang bodoh. Salib itu kan lambang sakral kok ditaruh di bawah, dilewati kendaraan. Berarti saya tidak memahami arti Iman kepada Kristus. Gambar yang diunggah akun Pemkot Solo tersebut tidak menyerupai salib. Dan dalam Agama Katolik, lambang Salib memiliki ketentuan khusus. Mulai dari ukuran panjang, lalu harus ada gambar Yesus dan lainnya. Sehingga, sangat salah jika ada yang menyebut desain tersebut sebagai salib,” tegasnya.

Baca Juga :  Mahasiswa dan Dosen Uniba Solo Tuntut Fungsi Dewan Pembina Yapertib Dikembalikan

Di sisi lain, Kepala Bidang (Kabid) Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Solo, Taufan Basuki menambahkan, revitalisasi koridor Jenderal Sudirman dimaksudkan untuk mengembalikan fungsi filosofi Sitihinggil Pagelaran Keraton Surakarta hingga Tugu Pamendangan atau titik nol di depan Balai Kota Solo.

Baca Juga :  Kejari Solo Musnahkan Barang Bukti Kejahatan, Ada Pil Ekstasi, Ganja, hingga Sabu-sabu

“Jika melihat desainnya harus secara keseluruhan grand design dari Pamendengan sampai Gladag. Di sana mengenai bentuk dan sebagainya itu sudah mencerminkan beberapa kearifan lokal. Salah satunya arah mata angin. Jadi tidak ada yang mengarah ke salah satu agama. Desainnya ini akan mengakomodir beberapa kepentingan kota. Maka masyarakat sebaiknya tidak melihat desain koridor jalan tersebut hanya secara parsial namun secara keseluruhan. Jika ada persepsi lain, Taufan memastikan jika basic dasar dari filosofi desain kawasan Jenderal Sudirman, tidak ada tendensi dari simbol agama apapun,” pungkasnya. Triawati PP