JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Geger Sertifikat PTSL Ditarik Hingga Rp 1 Juta, Puluhan Warga Bukuran Sragen Rame-rame Labrak Petugas

Warga saat menggeruduk balai desa di Bukuran terkait tarikan biaya sertifikat PTSL Rabu (30/1/2019). Foto/Wardoyo
Warga saat menggeruduk balai desa di Bukuran terkait tarikan biaya sertifikat PTSL Rabu (30/1/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN- Pembagian sertifikat program pendaftaran sertifikat sistematik lengkap (PTSL) di Desa Bukuran, Kalijambe, Rabu (30/1/2019) diwarnai keributan. Puluhan warga menggeruduk petugas karena merasakan ketidakadilan dari penarikan biaya.

Aksi geruduk itu dilakukan lantaran sertifikat PTSL dibagikan dengan perlakuan berbeda-beda. Ada yang tidak ditarik biaya sama sekali, ada yang ditarik Rp 750.000, Rp 850.000 hingga satu juta rupiah.

Kemarahan warga juga dikarenakan tak pernah ada rembug atau musyawarah soal biaya PTSL. Selain itu, mereka keberatan dengan pembedaan biaya bahkan ada yang tak ditarik sama sekali.

Aksi protes itu dilakukan warga dari empat dukuh. Yakni Sendang, Kedungringin, Grogolan, dan Bukuran.

“Kami mau tahu, mengapa biayanya ditarik beda-beda. Bahkan ada juga yang enggak bayar, kenapa juga dikasih sertifikat. Saya 4 bidang ditarik Rp 3,2 juta. Satu bidang ditarik Rp 800.000 tapi enggak dijelaskan biaya untuk apa. Karena enggak pernah ada rembugan dan sosialisasi sebelumnya,” papar Ngatiyo, warga Dukuh Sendang, Rabu (30/1/2019) petang.

Baca Juga :  Sejarah, Penetapan Paslon Pilkada Sragen Rame-Rame Diboikot Wartawan. Kesal Kinerja KPU Dinilai Tidak Profesional

Sukliyanto, warga Dukuh Grogolan, menuturkan untuk 4 dukuh, ada lebih dari 100an warga penerima sertifikat PTSL. Warga tidak terima karena penarikan biaya tanpa ada sosialisasi, rembug atau musyawarah.

Penarikan biaya itu juga tak disertai alasan apapun. Hal itu sangat berbeda dengan desa lain yang ada musyawarah dan biaya pun jauh di bawah tarif Bukuran.

“Gak pernah ada rapat, tahu-tahu tadi dapat undangan hari ini bayar Rp 800.000. Ada juga yang ditarik Rp 1 juta untuk mereka warga Bukuran yang sudah tinggal di luar Bukuran. Ada yang gak bayar sama sekali juga dikasih. Ini yang bikin warga jadi ribut,” terangnya.

Warga saat melabrak petugas penerima uang biaya PTSL. Foto/Wardoyo

Semula puluhan warga menggeruduk ke balai desa untuk memprotes Kades. Namun sampai di balai desa, sudah tutup. Mereka kemudian berpindah menggeruduk rumah mantan modin Supono yang ditugasi Kades untuk menerima uang tarikan.

Baca Juga :  Kabar Duka, 3 Warga Sragen Kembali Meninggal Dunia Terkait Covid-19 Hari Ini. Dua Orang Berstatus Positif, Satunya Suspek, Total Sudah 62 Warga Meninggal

Saat mendatangi Supono, warga meminta penjelasan kenapa biaya ditarik berbeda dan ada yang tak membayar. Mereka juga meminta agar dibuatkan kuitansi.

Mendapat didesak warga, Supono tetap bersikukuh tak butuh kuitansi. Ia juga mengaku hanya dipasrahi Kades dan tak punya wewenang apa-apa.

Kula ra duwe solusi apa-apa. Jenengan arep ngarani kula ra tanggungjawab ora apa-apa. Kula ndak butuh kuitansi,” tuturnya.

Sempat terjadi ketegangan, sebelum kemudian beberapa tokoh menyarankan agar warga menyampaikan aspirasi ke Kades di balai desa. Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu kehadiran Kades Dimanto di balai desa. Wardoyo