JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Jumlah Pasien DB Sragen Terus Meledak. Sehari 14 Pasien  Sukodono Dilarikan ke RS, Total Pasien Tembus 236

Ilustrasi petugas di Bangsal Anggrek RSUD Sragen saat memeriksa salah satu pasien anak yang terdiagnose DB Rabu (16/1/2019). Foto/Wardoyo
Petugas di Bangsal Anggrek RSUD Sragen saat memeriksa salah satu pasien anak yang terdiagnose DB Rabu (16/1/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN- Wabah KLB Demam Berdarah (DB) di Sragen terus menebar ancaman. Dalam sehari Kamis (17/1/2019), total ada 48 pasien baru se-Sragen yang dilarikan ke tempat pelayanan kesehatan dengan diagnosa positif DB.

Kecamatan Sukodono menjadi kecamatan dengan tambahan paling banyak. Dalam sehari, 14 warga di kecamatan Sragen Utara itu dilarikan untuk mendapatkan perawatan intensif.

Data di Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen Kamis (17/1/2019) mencatat hingga petang pukul 17.00 WIB, jumlah total pasien DB yang dirawat di berbagai tempat pelayanan sudah menembus angka 236 orang.

Jumlah itu melonjak 48 orang dibanding sehari sebelumnya, Rabu (16/1/2019) yang tercatat bafu 188 pasien.

Dari sebarannya, pasien DB itu juga sudah merata di 20 kecamatan. Kecamatan Mondokan sementara masih menjadi kecamatan tertinggi kasus DB selama kurun dua pekan Bulan Januari ini.

Baca Juga :  Geregetan Aksi Viral Sepasang ABG Nekat Mesum dan Bercumbu Siang Bolong di Alun-alun Sragen, Satpol PP Bakal Perbanyak Patroli. Berdua-duaan Mencurigakan, Langsung Dibubarkan!

Kepala DKK Sragen, Hargiyanto mengungkapkan tingginya penambahan kasus DB itu tak lepas dari faktor cuaca yang memasuki musim penghujan. Kondisi curah hujan yang tak begitu deras, memicu munculnya genangan yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Selain itu, sejak ditetapkan KLB, semua lini pelayanan mulai dari bidan desa, kecamatan, Puskesmas hingga rumah sakit juga digerakkan memberikan laporan secara cepat sehingga setiap perkembangan data dan pasien di lapangan bisa cepat terlaporkan.

Atas status KLB dan tambahan kasus yang cukup signifikan itu, Hargiyanto menyampaikan pihaknya terus berupaya menggerakkan semua lini untuk mengintensifkan monitoring dan penyuluhan ke lapangan. Bidan desa, petugas Puskesmas, desa hingga kecamatan terus digerakkan untuk mengefektifkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara serentak dan menyeluruh.

Gerakan PSN tuntas itu digerakkan mengingat temuan hasil penyelidikan epidemologis (PE) di beberapa titik indeks kasus menunjukkan angka House Indeks (HI) atau bebas jentik masih di atas ambang batas yakni melebihi 5 persen. Menurutnya hal itu menunjukkan PSN yang dilakukan hanya secara kuantitas namun kurang dari aspek kualitas.

Baca Juga :  Rumah Seharian Tertutup, Marmi asal Ngargosari Sragen Ternyata Ditemukan Sudah Tergeletak Tak Bernyawa di Ranjangnya

“Mungkin kualitas PSN harus ditingkatkan lagi. Semua kontainer dan genangan air atau semua tempat yang berpotensi jadi tempat berkembangbiak nyamuk harus dikuras dan dibersihkan. Kegiatan abatisasi ke kontainer juga digencarkan,” terangnya.

Hargiyanto menilai kasus KLB DB di asal tahun ini dimungkinkan adalah siklus lima tahunan. Sebab lima tahun silam, kasus DB di Sragen juga mencapai titik tertinggi dengan jumlah kasus menembus 850 kasus dengan korban meninggal ada 7 orang.

“Tahun lalu padahal kasus DB hanya 140 dan tidak ada korban jiwa,” tandasnya. Wardoyo