loading...
Loading...
Direktur IKP Kementerian Kominfo, Wiryanta (kiri) saat menjadi pembicara di acara talk show pencegahan stunting di Dhoho TV Nganjuk, Jatim, Selasa (6/2/2019). Foto/Wardoyo

NGANJUK- Kasus gagal tumbuh pada anak karena kekurangan gizi atau stunting di Indonesia dinilai cukup mengkhawatirkan. Bahaya dampak stunting dan ancaman terhadap masa depan generasi muda serta bangsa, membuat pemerintah terus menggalakkan upaya pencegahan kasus stunting.

Salah satunya dilakukan oleh Kementerian Kominfo melalui Direktorat Jenderal IKP yang menggencarkan sosialisasi terkait stunting. Tak hanya sosialisasi langsung, Direktur IKP Kementerian Kominfo, Wiryanta juga terjun langsung menyampaikan sosialisasi lewat talk show interaktif di televisi daerah.

Termasuk di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Direktur IKP tampil dalam dialog terkait persoalan stunting langsung di dua stasiun televisi lokal, Bayu TV dan Dhoho TV pada Rabu (6/2/2019).

“Tahun 2030, Indonesia diprediksi mengalami bonus demografi. Pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan makin menguat. Namun, masalahnya saat ini di Indonesia, 1 dari 3 balita mengalami stunting. Jadi, Bonus demografi terancam sia-sia apabila persoalan stunting tidak ditangani dengan serius,” papar Direktur IKP Kemenkominfo, Wiryanta dalam paparannya.

Ia menguraikan secara grafik, angka kasus stunting memang menunjukkan tren menurun dari tahun ke tahun. Menurutnya, Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) Tahun 2018 kasus stunting mengalami penurunan sebesar 6,4%. Dari angka 37,2% (Tahun 2013) menjadi 30,8% (Tahun 2018).

Kasus balita dengan stunting selama ini masih didominasi di pedesaan, namun angkanya berbeda tipis dengan perkotaan. Hanya ada satu provinsi yang tidak mengalami Gizi Kronik atau stunting yaitu DKI Jakarta.

“Pencegahan Stunting memang menjadi salah satu program prioritas pemerintah. Dalam hal ini, kami dari Kementerian Kominfo membantu mendiseminasi informasi dan mengkoordinasikan, karena penanganan stunting ini kan tidak tunggal. Tidak hanya urusan Kementrian Kesehatan. Ini juga menyangkut masalah sosial. Kita semua menyatu, bergotong royong diselesaikan secara bersama-sama,” urai Wiryanta.

Baca Juga :  Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Pertanyakan Urgensi 4 Hari Kerja ASN

Dalam kesempatan itu, Wiryanta menyampaikan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla memang menempatkan persoalan stunting sebagai salah satu prioritas program. Salah satunya disampaikan saat sidang umum MPR 2018 di mana Presiden menegaskan salah satu tugas pemerintah adalah bekerja memastikan bahwa setiap anak Indonesia dapat lahir dengan sehat, dapat tumbuh dengan gizi yang cukup, bebas dari stunting atau tumbuh kerdil.

“Stunting, adalah prioritas nasional dan sudah masuk rencana kerja pemerintah tahun 2015-2019, total 100 Kabupaten/kota (tahun 2018) dan 60 kota (2019). Sehingga memang perlu komitmen serius pemerintah daerah dalam mengkampanyekan program penurunan prevalensi stunting,” tandas Wiryanta.

Sementara, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Nganjuk, Guruh Hari Wibowo saat memaparkan segmen intervensi pencegahan stunting, mengupas soal hal yang harus dilakukan untuk mencegah serta menanggulangi stunting.

Diantaranya pola makan, jangan pilih-pilih makanan dan berpatokan pada empat pilar. Yakni makanlah beraneka ragam menu di dalam satu piring, tidak boleh pilih makanan, buah dan sayur sebagai sumber vitamin dan mineral, dan jangan hilangkan karbohidrat dan perbanyak protein.

“Kampanye isi Piringku, sajian satu piring terdiri dari 50 persen buah dan sayur, sedangkan 50 persen sisanya terdiri dari karbohidrat dan protein. Agar Kampanye ‘Isi Piringku’ berjalan efektif harus disesuaikan dengan daerah masing-masing,” urainya.

Baca Juga :  Moeldoko: Rocky Gerung Memandang Jokowi dengan Kacamata Buram

Ia juga mengimbau agar menghindari pernikahan dini. Sebab kondisi wanita yang belum cukup umur saat menikah dikhawatirkan menjadikan minim pengetahuan bagi ibunya yang masih muda.

“Lakukanlah hal kecil misalkan minum air  mineral yang cukup, cuci tangan pakai sabun, olahraga dengan teratur (30 menit per hari),” jelasnya.

Ia menambahkan kasus stunting bisa memicu dampak buruk sangat serius. Pencegahan stunting sangat penting untuk mencapai SDM Indonesia yang berkualitas dan pertumbuhan ekonomi yang merata, serta memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Lantas ketika dewasa, anak yang mengalami kondisi stunting berpeluang mendapatkan penghasilan 20 persen lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami stunting.

“Stunting menghancurkan masa depan anak, bahkan sebelum mereka memulainya. Anak yang kekurangan gizi memiliki performa buruk di sekolah serta cenderung putus sekolah dibandingkan dengan teman-temannya yang mendapatkan gizi baik. Kondisi itu berpengaruh ke pendapatan dan masa depannya,” tandasnya. Wardoyo

Loading...