loading...
Ustad Yusuf Mansur saat memberikan tauziyah di acara Sedekah Satu Suara di Gondang, Sragen. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Ulama Yusuf Mansur mengaku belum mau blak-blakan soal siapa Capres yang akan ia dukung di Pilpres 17 April mendatang. Meski di beberapa kesempatan ia terlihat lebih condong ke Jokowi-Maruf, pengasuh Ponpes Daarul Quran di Cipondoh itu mengaku masih terlalu dini untuk menyebutkan dukungannya.

“Kan Pilpres masih berapa belas hari lagi. Masih lama,” katanya saat ditemui wartawan di acara Sedekah Satu Suara di kediaman Ketua DPRD Sragen Bambang Samekto di Gondang, Sragen, Minggu (31/3/2019).

Ia juga membantah hanya  menyampaikan kebaikan Capres Jokowi saja. Menurutnya, ia memberitahu kebaikan semua Capres baik nomor satu maupun nomor dua.

“Bahkan capres yang akan datang pun tak bicarakan kebaikannya. Semua baik-baik Insyaallah. Karena omongan kita kan investasi. Kalau berdoa baik-baik untuk semua orang, itu adalah investasi kita,” terangnya.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut Truk Ringsek di Tol Soker Sragen, Satu Korban Tewas Mengenaskan Terjepit Bodi. Satu Korban Kritis Dilarikan ke Solo

Namun saat ditanya apakah sejauh ini sudah pernah diundang di acara paslon nomor urut dua, Yusuf mengaku belum pernah. Padahal ia menggaransi jika diundang pun, dirinya siap untuk datang.

Saat disinggung banyak hoax yang menyeret isu agama menjelang Pilpres, Yusuf menyebut mau diapain lagi.  Menurutnya memang saat ini waktunya lagi banyak hoax.

Bambang Samekto dan Ustad Yusuf Mansur. Foto/Wardoyo

Ia hanya mengajak semua untuk memperbanyak doa. Selain itu, ia meminta hoax tak perlu terus dibahas karena jika terus dibahas akan jadi besar.

“Dibanding Indonesia yang besar ini, hoax itu hanya riak-riak kecil saja. Mungkin mereka (pelaku hoax) itu lagi belajar. Hoax enggak akan jadi besar kalau kita berdoa. Enggak diam lho ya, tapi berdoa,” tukasnya.

Menurutnya yang terpenting saat ini adalah menjaga semangat perdamaian. Sebab jika suasana tidak damai, maka akan berdampak luas pada kehidupan.

Baca Juga :  Awas, Waspadai Transmisi Lokal Covid-19 Klaster Baru dari Pasar. Buntut 14 Pedagang Sragen Positif Rapid Test di Pasar Sine Ngawi!

“Kita mau ngapa-ngapain susah kalau gak damai. Kalau keluarga konflik, anak-anak pasti berantakan. Jika suatu kampung konflik, sebuah kota konflik semuanya akan berantakan. Lalu kalau negara konflik, Indonesia ini gede lho, mau lari kemana?” katanya.

Menurutnya hanya dalam situasi damai, orang bisa menjalankan aktivitas mulai dari sekolah, ngaji, dagang, salat hingga mengaji dengan tenang. Wardoyo