loading...
Loading...
Guru Besar Bidang Sejarah Islam asal Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof Dr Hermanu Joebagiyo. Istimewa

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Di Indonesia bahkan dunia ulama memiliki peran yang penting dalam masyarakat. Ulama hadir dalam ranah kehidupan dunia dan akherat. Banyak tokoh ulama yang telah berperan sebagai inisiator dalam kawasan lokal maupun dunia.

Dedikasi yang diberikan oleh para ulama bukanlah hanya untuk kepentingan duniawi semata melainkan wujud keikhlasan dan kecintaan terhadap ajaran agama.

Guru Besar Bidang Sejarah Islam Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof Dr Hermanu Joebagiyo mengatakan, ulama merupakan cultural broker yang memiliki tugas sebagai pelayan masyarakat, menuntun ibadah masyarakat, membantu memberdayakan masyarakat serta membela kepentingan masyarakat. Namun selain keempat fungsi tersebut, ulama sejak dahulu juga acapkali ditarik dalam kancah perpolitikan. Sebab sejak zaman kolonial, Islam menjadi salah satu kekuatan politik. Ulama juga memiliki dukungan kuat dari masyarakat karena merupakan pemuka agama.

Baca Juga :  Reaksi Gubernur Ganjar Mobil Dinasnya Kalah Mewah dengan Mobdin Jeep Rubicon Bupati Karanganyar

“Sejak dulu, ulama merupakan pemimpin agama sekaligus pemimpin politik. Namun yang membedakan, dulu masjid steril untuk kegiatan politik hanya untuk agama saja. Kegiatan politik, dilakukan di pesantren,” terang Hermanu, Senin (6/5/2019) siang.

Disinggung mengenai kondisi yang berkembang saat ini, Hermanu mengaku, perlu adanya tokoh sentral untuk menjembatani rekonsiliasi antar ulama di masing-masing kubu politik. Pasalnya, pemilu 2019 kali ini sangat merenggangkan hubungan baik antar masing-masing ulama maupun ulama dengan masyarakat.

“Para ulama, perlu merenungi fungsi dan perannya di tengah kondisi masyarakat seperti sekarang ini,” jelas Hermanu.

Hermanu menghimbau kepada masyarakat untuk kembali lagi bersatu pasca Pemilu 2019 ini. Dalam upaya ini, ulama memegang peran yang cukup penting. Ulama harus menjadi panutan. Ulama perlu memberi solusi yang konstitusional di dalam menghadapi dinamika berbangsa dan bernegara.

Baca Juga :  12.12 Gibran Daftar ke DPD PDIP Jateng, Dengan 20 Bus, 890 Relawan Kawal Putra Sulung Jokowi

“Siapapun siap kalah dan siap menang. Pihak yang kalah juga harus legawa. Jika tidak, maka dibelakang masing-masing kubu rentan menimbulkan gesekan di masyarkaat,” katanya. Syahirul

Loading...