
JOGLOSEMARNEWS.COM – Video adegan mesum yang diperankan oleh dua murid SD di Magetan, Jawa Timur viral di media sosial dan whatsapp (WA).
Sejumlah fakta dari terkait kasus video mesum dua anak SD ini terungkap setelah video tersebut viral medsos dan grup-grup WhatsApp (WA) masyarakat Magetan
Berikut SURYA.co.id rangkum sejumlah fakta di balik kasus video mesum dua anak SD di Magetan, Jawa Timur, yang viral di medsos dan whatsapp (WA)
1. Identitas Pelaku
Saat ini anak laki-laki di video itu masih duduk di bangku kelas VI SDN di Kabupaten Magetan.
Sedang anak perempuannya sudah lulus dan melanjutkan di sebuah madrasah tsanawiyah.
2. Orangtua Pelaku
Video ini diperkirakan dibuat di rumah anak laki laki itu, dilakukan sepulang sekolah.
Ayah anak laki laki itu menjadi TKI Malaysia dan ibunya saat kejadian di sawah.
3. Klarifikasi Kepala Sekolah
Kepala sekolah bersangkutan, membenarkan kalau pemeran video itu siswa di sekolahnya.
Sedang yang perempuan alumni SDN Lembeyan 2, Magetan.
“Sekolah sudah memanggil orangtua siswa bersangkutan, untuk memberikan nasihat dan pengarahan agar siswa tersebut tidak kembali melakukan perbuatan yang sama,” kata Supeno, singkat.
4. Tanggapan Pengamat pendidikan
Kalangan masyarakat di Magetan sangat prihatin dengan beredarnya video mesum yang seharusnya belum waktunya dilakukan oleh sepasang anak SD ini.
Namun karena longgarnya pengawasan dari orangtua dan sekolah, perilaku orang dewasa ini sudah dilakukan anak anak usia sekolah dasar.
Mestinya penggunaan gawai canggih seperti smart phone ini perlu diawasi dan didampingi orang tua dan sekolah.
“Memang ini dilema, karena ada pelajaran tertentu yang memerlukan smartphone seperti Tikom dan pengumuman berkaitan dengan mata pelajaran,”kata pengamat pendidikan Kabupaten Magetan Muhammad Anis kepada Surya.co.id, Kamis (18/7).
Tapi, lanjut Muhammad Anis, penggunaan smartphone itu, terutama kalau gawai itu dibawa ke sekolah, setiap pelajaran dimulai, gawai yang dibawa siswa-siswi itu harus dikumpulkan di sekolah.
“Makanya, sebagai bentuk pengawasan, sekolah harus rajin razia. Kecuali kalau pelajaran Tikom, memang mengharuskan bawa gawai atau smartphone.”
“Tinggal orangtua dan sekolah harus aktif, selain pengawasan juga nasihat atau perhatian dari orangtua,” ujar Muh Anis salah satu guru di SMPN Magetan ini.