JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Marak Sumur Sibel di Sejumlah Kecamatan, Sumber Air di Sragen Kian Terancam. Pemkab Wacanakan Buat Aturan Pengetatan! 

Pengeboran sumur sibel di wilayah Tanon. Foto/Wardoyo

IMG 20190707 WA0008
Pengeboran sumur sibel di wilayah Tanon. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM -Maraknya sumur sibel atau sumur artesis yang dibor di areal persawahan kini menghadirkan dilema bagi Pemkab. Munculnya sumur sibel di beberapa wilayah pertanian, dikhawatirkan bakal mematikan sumber-sumber air dan memicu krisis air di banyak wilayah Sragen.

Pemkab pun berencana menerapkan aturan dan pembatasan terkait pembuatan sumur sibel. Hal itu disampaikan Sekda Sragen, Tatag Prabawanto seusai rakor persiapan antisipasi kekeringan, beberapa hari lalu.

“Jika tidak diatur atau dibuat aturan,maka jumlahnya semakin meluas. Maka akan membawa dampak semakin turunnya air tanah. Dan nggak menutup kemungkinan, harus ada ijin terhadap pembuatan sumur dalam seperti itu, supaya tidak terjadi eksploitasi terhadap air permukaan,” papar Sekda.

Baca Juga :  Kecelakaan Tragis di Fly Over Ngrampal Sragen, Pemotor Perempuan Digasak 2 Mobil Secara Beruntun. Satu Mobil Penabrak Malah Kabur dari Tanggungjawab

Sekda menandaskan, masyarakat diharapkan juga harus patuh dengan aturan yang berlaku.

Selama ini Pemkab Sragen juga terus berupaya menanggulangi masalah kekeringan.

Menurutnya, kehadiran sumur sibel memang sudah saatnya harus dievaluasi. Selama ini banyaknya sumur sibel sudah banyak berdampak memicu kekeringan sumur permukaan.

Di beberapa wilayah yang biasanya berlinpah air, juga sudah mulai mengalami krisis. Seperti di Tangkil, Sragen yang notabene dekat perkotaan, juga sudah mulai kekeringan dan meminta droping tahun lalu.

Terpisah, Direktur PDAM Sragen Supardi tak menampik, fenomena sumur sibel yang marak di sejumlah wilayah, menjadi ancaman baru bagi nasib ketersediaan air.

Baca Juga :  Breaking News: Anak Durhaka, Habis Lebaran Malah Nekat Bakar Rumah Orangtuanya di Sragen Kota

Supardi menyebut wilayah yang banyak sumur sibel adalah daerah pertanian. Seperti di Tanon, Masaran, Ngrampal, Sidoharjo, Sambungmacan dan beberapa wilayah berbasis pertanian lainnya.

“Memang dilematis. Kalau dilarang, nanti dianggap tidak pro petani. Tapi kalau dibiarkan makin banyak maka sumber air akan terus berkurang. Karena sumur sibel itu yang diambil sumber air permukaan. Lama kelamaan akan habis dan krisis air bisa makin meluas. Dampak panjangnya yang harus diantisipasi. Makanya perlu dicari solusi,” tandasnya. Wardoyo