loading...
Loading...
Tempo.co

JAKARTA, Joglosemarnews.com  –
Pertemuan antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) maupun dengan Megawati Soekarnoputri, diyakini tak bakal menjadi alasan bagi Partai Gerindra untuk merapat ke pemerintahan.

Demikian diungkapkan oleh pengamat politik, Dewi Fortuna Anwar. Dia meyakinkan, Gerindra akan tetap konsisten pada sikapnya.

“Pak Prabowo akan tetap berada di oposisi, karena justru tidak dignified bagi Pak Prabowo jika bergabung dalam pemerintahan Jokowi,” kata dia di Jakarta, Senin (29/7/2019).

Baca Juga :  NasDem Bantah Berpolitik Zigzag Demi 2024

Akan halnya adanya pertmuan dengan Jokowi dan Megawati, menurut Dewi, itu hanya bagian dari silaturahmi.

“Begitu selesai kontestasi, itu setiap pihak kembali merajut silaturahmi,” kata dia.

Pertemuan-pertemuan itu adalah suatu hal yang membuktikan silaturahmi berjalan baik dan itu bagian dari aturan main demokrasi.

Jadi ia heran kalau pertemuan-pertemuan itu diartikan seolah-olah kelompok yang tadinya mendukung Prabowo akan bergabung dalam koalisi, termasuk Gerindra.

Baca Juga :  Mirip-Mirip Vina Garut, Bu Guru Novi di Bali Ini Ajak Siswinya Berhubungan Intim Bertiga di Kosan Pacarnya

Ia memperkirakan Gerindra akan tetap berada di oposisi, utamanya sebagai komandan di kubu oposisi untuk memastikan pemerintahan berjalan dengan prinsip demokrasi melalui check and balances.

Diakui dia, perpolitikan di Indonesia selama ini memang agak berbeda dengan negara-negara demokrasi lainnya, terutama dinamika koalisi partai-partai yang sangat cair.

“Ketika Pak SBY pada periode keduanya, banyak partai yang tadinya di luar bergabung dalam koalisi besar. Sehingga tidak heran jika banyak orang kini berspekulasi begitu,” kata dia.

Baca Juga :  Siswi SMP Luka Bakar Disiram Cairan Kimia oleh Orang Tak Dikenal

Namun, Dewi mengingatkan bahwa silaturahmi politik itu baik dan penting dijaga, sementara kerja sama untuk membangun bangsa Indonesia penting juga adanya.

Bagi pihak pemenang, kata dia, tidak ngasorake, atau merendahkan yang kalah. Sedangkan pihak yang kalah harus mengakui dan menerima kenyataan.

www.tempo.co

Loading...