loading...
Loading...
ilustrasi pemusnahan handphone. TRIBUNJATIM.COM/NDARU WIJAYANTO

JOMBANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Video penghancuran smartphone di MAN 3 Jombang viral di media sosial. Bertempat di halaman sekolah penghancuran smatphone tersebut disaksikan para guru dan seluruh murid di halaman sekolah.

Pihak sekolah membenarkan peristiwa itu di MAN 3 Jombang yang notabene berada di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang.

Alasan penghancuran, karena sudah menjadi peraturan di pondok pesantren. Seluruh anak didik diharamkan memakai handhone (HP) selama menempuh pendidikan.

Baca Juga :  Bangun 780 km Tol, Jokowi: Masih Tertinggal Jauh dari Cina

Dalam video tersebut terdapat tiga pria berpeci hitam dan mengenakan kaus. Di hadapannya sebuah meja yang penuh dengan smartphone.

Sejurus kemudian salawat burdah berkumandang. Seiring dengan itu, tiga pria berpeci mengayunkan martil berkali-kali ke arah deretan smartphone yang ditata sedemikian rupa.

Waka Kesiswaan MAN 3 Jombang Syifak Malik membenarkan kejadian yang terekam video tersebut berada di lembaga. Itu dilakukan saat masa orientasi siswa beberapa waktu lalu. Smartphone yang dihancurkan menggunakan palu adalah hasil rampasan dari siswa.

Baca Juga :  Kejam Sekali, Ibu di Palembang ini Tega Masukan Bayi ke Mesin Cuci Hingga Tewas, Alasannya karena Kekasih Tak Bertanggung Jawab

Pemusanahan itu, lanjut Syifak, merupakan bentuk transparansi atas barang-barang yang disita sekolah.

“Sekaligus untuk menghindari fitnah. Makanya, penghancuran HP ini disaksikan seluruh guru dan murid,” kata Syifak ketika dikonfirmasi Surya.co.id, Sabtu (6/7/2019).

Syifak yang juga Sekretaris Yayasan Bahrul Ulum ini menjelaskan, peraturan tentang larangan membawa HP selama menempuh pendidikan di pesantren sudah lama diterapkan. Bahkan, wali santri juga menyepakati aturan tersebut.

Baca Juga :  MUI Jatim Imbau Pejabat Tak Sampaikan Salam Lintas Agama Saat Acara Resmi, Begini Penjelasannya

“Makanya kami tidak mempermasalahkan jika ada pihak luar yang mengkritik kebijakan ini. Karena hal tersebut merupakan kearifan lokal yang dibangun oleh yayasan. Proses belajar santri akan terganggu jika masih memakai HP,” pungkas Syifak.

www.tribunnews.com

Loading...