loading...
Gunung Lawu. Foto/Istimewa

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Aksi motor trail atau trabas hingga ke Puncak Lawu, yang menjadi viral di media sosial, kini ramai jadi sorotan. Berbagai kalangan mengecam aksi trabas itu dan mulai menyuarakan penolakan Jalur Lawu dijadikan lokasi trabas.

Keprihatinan dan penolakan itu kini dituangkan dengan membuat sebuah petisi. Berbagai elemen masyarakat peduli gunung Lawu yang mengatasnamakan Relawan Gunung Lawu di situs website www.change.org.

Pantau JOGLOSEMARNEWS.COM , sejak diunggah empat hari lalu hingga malam ini, sudah lebih dari 7000 orang yang berpartisipasi untuk mendukung penolakan trabas trail di gunung Lawu.

Baca Juga :  Tahap Pertama New Normal Karanganyar Dibuka Untuk PKL. Bupati Ingatkan Boleh Jualan, Tapi Tanpa Masker Dihukum Berhenti Sehari, Pembeli Tak Pakai Masker Tak Boleh Dilayani!

Rasa keprihatinan juga disampaikan oleh Ketua Dewan Pemerhati Penyelamat Seni dan Budaya Indonesia (DPPSBI) Kusumo Putro.

Menurutnya keberadaan gunung Lawu harus dilindungi. Sebab pihaknya sudah mengajukan surat pendaftaran Gunung Lawu sebagai kawasan lanskap cagar budaya ke Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah.

Ditambahkan Kusumo pendaftaran Gunung Lawu sebagai kawasan lanskap cagar budaya ke Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah sudah dilakukannya pada tahun 2017.

Kusumo menyebut, gunung Lawu melahirkan peradaban. Terbukti di lereng gunung banyak terdapat peninggalan situs serta candi.

Baca Juga :  Harga Daging Ayam Meroket Hingga Rp 40.000, Tapi Pedagang di Karanganyar Mengaku Omzet Turun Hingga 5 Kali Lipat. Kok Bisa?

Juga melahirkan tradisi budaya kearifan lokal yang sampai sekarang masih tetap terus dipertahankan oleh penduduk sekitar.

Karena banyak peninggalan bersejarah di Gunung Lawu, pihaknya bertekad  menyelamatkannya dari berbagai hal yang bisa merusak apapun yang ada di dalam gunung Lawu.

“Untuk memberi dukungan kami dari DPPSBI hadir bersama Masyarakat Peduli Lawu dalam acara saresehan budaya untuk menjaga kelestarian gunung Lawu sebagai Landcape budaya  budaya,” jelas Kusumo kepada wartawan, Jumat (2/8/2019) malam. Wardoyo