loading...
Loading...
wikipedia

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerukan kepada umat Islam untuk meneguhkan semangat hijrah menuju yang lebih baik. PBNU juga mengajak umat ikut semangat mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dalam rangka HUT RI ke-74.

Wakil Ketua Umum PBNU, KH Mochammad Maksum Machfoed, menuturkan umat Islam harus ingat bahwa tahun Islam adalah tahun Hijriyah. Artinya bukan tahun kelahiran Nabi, turunnya risalah atau hari bersejarah lainnya.

Dia menerangkan, sahabat Usman ibn Affan RA berdalih, al-hijratu farraqat bain al-haqqi wa al-bathil. Artinya, hijrah itu pembeda nyata antara yang hak dan batil atau antara kebenaran dan kebatilan. “Semangat hijrah seperti itulah yang harus kita hayati dan lakukan sebagai orientasi perjalanan NKRI kedepan,” kata KH Maksum kepada Republika.co.id, Jumat (30/8).

Baca Juga :  Ustaz Abdul Somad Resmi Ceraikan Istrinya. Mantan Istrinya Bilang Tak Punya Salah yang Melampaui Syariat

Dia menyampaikan, umat harus semangat melakukan perjalanan dari kebatilan menuju kebenaran. Umat juga harus semangat berjalan dari kegelapan menuju terang benderang, dan dari kebaikan menuju yang lebih baik lagi.

Dalam tradisi NU, hijrah itu al-ishlahu Ilaa ma huwa al-ashlaah. Artinya senantiasa berubah menuju yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Kiai Maksum mengatakan, kebetulan tahun baru 1441 Hijriyah tidak lama setelah Indonesia memperingati 74 tahun kemerdekaannya. Sekaligus menyambut era baru pemerintahan pasca-Pemilu 2019.

“Tentu semangat Hijriyah menuju yang baik dan lebih baik, mari kita upayakan menjadi semangat dalam mewarnai kesyukuran itu menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” ujarnya.

PBNU juga mengajak umat untuk mengisi yang kosong dan memperbaiki yang kurang. Sesuatu yang telah baik harus dijaga dan diperbaiki lagi.

Baca Juga :  Direktur BTN Disebut-sebut Terpapar Radikalisme, Erick Thohir Kecolongan?

Kiai aksum mencontohkan, keadilan sosial sebagai sila kelima Pancasila, mari upayakan menjadi baik dari posisinya yang sekarang masih berantakan.

“Lihat butir-butir Pancasila, ketuhanan beres, kemanusiaan hampir beres, persatuan agak beres, kerakyatan nyaris beres, tapi keadilan sosial, lampu merah dan tidak beres, masih jauh sekali dari beres,” ujarnya.

www.republika.co.id

Loading...