loading...
Ilustrasi 13 PSK Gunung Kemukus yang ditangkap dan sempat mengaku sebagai PR karaoke menangis saat mengikuti sidang praperadilan di PN Sragen, Rabu (18/4/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Penutupan lokalisasi Sunan Kuning Semarang membuat pihak Satpol PP Sragen mulai meningkatkan kewaspadaan. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya eksodus pekerja seks komersial (PSK) bekas penghuni di Sunan Kuning ke sejumlah lokasi wisata dan titik di Sragen yang selama ini masih identik dengan praktik prostitusi terselubung.

Salah satu lokasi yang diwaspadai jadi incaran eksodus eks PSK Sunan Kuning adalah Gunung Kemukus. Kepala Dinas Satpol PP Sragen, Heru Martono mengatakan sudah melakukan langkah antisipatif untuk mencegah masuknya eks PSK Sunan Kuning ke Sragen.

Langkah pengawasan makin diintensifkan di titik yang berpotensi jadi sasaran pelabuhan bagi eks PSK Sunan Kuning.

“Kami sudah antisipasi dengan mengintensifkan pantauan dan pengawasan di sana (Gunung Kemukus). Kemarin sudah kita lakukan operasi, hasilnya belum ada. Tapi kami tidak mau kecolongan, sehingga tim Trantib dan petugas di wilayah Sumberlawang kita sudah minta lebih mengintensifkan lagi pengawasannya,” papar Heru, Kamis (24/10/2019).

Ia menguraikan hingga kini belum ada laporan perihal masuknya PSK eks Sunan Kuning ke Kemukus maupun ke obyek lain seperti Nglangon, maupun Bayanan.

“Mudah-mudahan dengan pengawasan intensif, bisa dicegah,” tandasnya.

Salah satu tokoh di wilayah Kemukus Desa Pendem, Sumberlawang, Yan, menuturkan meski sudah ditutup untuk prostitusi oleh Pemprov 2014 silam, fakta di lapangan praktik prostitusi terselubung di Obyek Wisata Gunung Kemukus masih tumbuh subur seperti sedia kala.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut 2 Motor di Patihan Sragen. Hendak Belok Kanan, Kakek-Kakek Tewas Dipenggal Motor Pak Guru dari Belakang

Hanya saja, kini para wanita penjaja jasa pemuas syahwat itu tak lagi vulgar saat beroperasi. Ia juga tak menampik, sebagian besar warga binaan (PSK) yang bersemayam di Kemukus memang berasal dari luar Sragen seperti Pantura dan sebagian Jatim.

“Ramainya pas malam jumat waktu hari ritual dan pengunjungnya banyak itu. Tapi sekarang istilahnya mereka (PSK) itu sudah agak syariah, dandannya nggak mencolok banget an mereka nggak lagi nongkrong di pinggir-pinggir jalan kayak dulu. Sekarang ya modusnya di warung-warung, tapi aslinya praktiknya ya begitu (PSK). Kalau ada lokalisasi di luar daerah yang tutup, kadang ada yang larinya ke sini,” terang Yan.

Seperti diberitakan, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan resmi menutup lokalisasi Sunan Kuning pada Jumat (18/10/2019) silam.

“Ketika ada edaran Kementerian Sosial kalau 2019 prostitusi hilang, ini saatnya kita insaf, kembali ke kehidupan lebih baik,” kata Hendrar di Semarang, Jumat (18/10/2019).

Ia kemudian meminta 448 warga binaan yang terdiri dari wanita pekerja seks ini pulang ke daerah asalnya masing-masing, menemui orangtua masing-masing dan meminta maaf.

Baca Juga :  Terpukul Badai Corona, Dunia Usaha dan Industri di Sragen Mulai Menjerit. Omset Anjlok Hingga 50 Persen Lebih

“Saya doakan saudara sekalian mendapat pekerjaan yang lebih baik dan menghasilkan rezeki dan kesuksesan,” katanya.

Pemerintah Kota Semarang resmi menutup kompleks resosialisasi Argorejo atau yang lebih dikenal dengan lokalisasi Sunan Kuning Semarang hari ini, Jumat, 18 Oktober 2019.

Penutupan tersebut ditandai dengan pembacaan ikrar oleh beberapa perwakilan warga binaan yang dipimpin oleh Ketua Pengelola Resos Argorejo Suwandi. Ikrar itu sendiri menyatakan para warga binaan Resos Argorejo bersedia meninggalkan profesi wanita pekerja seks dalam rangka meningkatkan harkat martabat sebagai perempuan.

Sebagai tanda resminya penutupan kompleks lokalisasi tersebut, WaliKota Semarang Hendrar Prihadi membuka tirai papan pengumuman yang bertuliskan “Wilayah Argorejo (SK) Kawasan Bebas Prostitusi”

Menurut Wali Kota, kawasan Resos Argorejo ini nantinya akan diubah menjadi kampung tematik.

“Akan difokuskan untuk optimalisasi wisata religi Sunan Kuning,” katanya. Wardoyo