loading...
Sejumlah siswi tampak berpose dengan membentangkan bendera HTI dan bendera Palestina. Foto/Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kasus pembentangan bendera berlambang Ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di acara pelantikan rohis SMKN 2 Sragen memantik reaksi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jateng.

Kepala Cabang Dinas Wilayah VI Disdikbud Jateng, Eris Yunianto mengaku sudah menerima laporan terkait insiden bendera HTI di SMKN 2 Sragen  yang mendadak menjadi sorotan di media sosial tersebut.

“Sudah menerima laporan itu,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Kamis (17/10/2019).

Eris mengatakan atas kejadian itu, pihaknya sudah menyiapakan agenda untuk menggelar pembinaan ke sekolah yang bersangkutan.

“Sudah kita agendakan untuk pembinaan,” ujarnya melalui pesan WhatsApp (WA).

Sebelumnya, Gerakan Pemuda (GP) Anshor Sragen langsung mengeluarkan pernyataan sikap agar pihak terkait segera menindaklanjuti. GP Anshor curiga bahwa guru atau pembina kegiatan di SMKN itu mengetahui kegiatan pengibaran bendera HTI tersebut.

“Saya kira siswa tidak ada inisiatif ke situ, namun perlu dipantau pembina atau gurunya. Karena tidak mungkin suatu kegiatan tanpa sepengetahuan pembina,” papar Ketua GP Ansor Sragen Endro Supriyadi, Rabu (16/10/2019).

Atas alasan itu ia meminta Pemkab Sragen untuk koordinasi dengan provinsi ataupun instansi lain agar serius melakukan pengawasan terhadap sekolah agar terhindar dari pengaruh radikalisme.

Ia juga meminta instansi untuk melakukan teguran pembinaan atau sanksi terhadap guru dan pegawai serta seluruh pihak yang terbukti menyebarkan paham radikalisme kepada anak didik.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut 2 Motor di Patihan Sragen. Hendak Belok Kanan, Kakek-Kakek Tewas Dipenggal Motor Pak Guru dari Belakang

”Saya yakin tidak mungkin suatu kegiatan tanpa sepengetahuan pembina,” ujarnya.

Endro menyerukan kepada seluruh wali murid dan elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga generasi muda agar tidak tertular radikalisme dan ekstrimisme.

Selain itu sekolah sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan mencetak generasi bangsa yang beradab dan memiliki wawasan kebangsaan maka sekolah harus steril dari virus intoleransi dan radikalisme.

Menyikapi hal ini, GP Ansor siap memberikan pendampingan pada setiap sekolah yang akan menyelenggarakan pembinaan agama.

”Jangan sampai generasi muda bangsa ini menerima pemikiran yang salah,” tandasnya.

Aksi pembentangan bendera berdasar hitam dengan kalimat tauhid itu kini ramai menjadi perbincangan dan menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan.

Aksi pengibaran bendera HTI itu terungkap ketika beredar foto para siswa itu di jejaring sosial.

Dalam foto yang beredar, tampak sejumlah pelajar di SMKN ternama di Sragen itu membentangkan bendera lambang HTI yang sudah dinyatakan merupakan organsiasi terlarang oleh pemerintah.

Dalam foto yang beredar, tampak puluhan siswa berpose bersama bendera itu. Bendera HTI itu dibentangkan dalam salah satu kegiatan Ekstra Kulikuler sekolah yang digelar pada tanggal 5-6 Oktober 2019 lalu. Sejumlah siswa juga tampak menunjukkan ekspresi ceria berpose dengan latar belakang bendera HTI itu.

Salah satu foto bahkan menampakkan dua orang siswi membentangkan bendera itu.

Baca Juga :  Pasien PDP Corona Sragen Yang Meninggal Dunia Berjenis Kelamin Perempuan, Berdomisili di Sragen Kota

Di foto yang lain para siswa dan siswi berfoto bersama dengan latar belakang bendera itu di belakangnya di halaman sekolah. Selain itu juga ada bendera Palestina dalam foto-foto itu.

Saat dikonfirmasi, Wakil Kepala Sekolah Kesiswaan SMKN 2 Sragen Setyanjadi membenarkan pelajar yang di dalam foto adalah pelajar SMKN 2 Sragen. Namun ia menjelaskan kegiatan ini saat digelar pada pelantikan rohis sekolah setempat dan diluar sepengetahuan maupun seizin sekolah.

”Kalau siswanya ikut rohis banyak, nanti saya buat laporan dulu. Ini kita tangani,” terangnya dikonfirmasi wartawan Rabu (16/10/2019).

Pihaknya membantah jika siswanya mulai terpapar organisasi terlarang. Menindaklanjuti beredarnya foto kegiatan dengan bendera HTI itu, pihak sekolah sudah  bertemu dengan pihak kepolisian untuk membahas persoalan itu.

Ia juga meyakinkan bahwa murid-muridnya tidak punya maksud untuk mengibarkan bendera itu dan bendera Palestina tersebut.

”Ini ada Proposalnya dan ada gurunya juga, hanya nggak nyangka sampai seperti ini,” tuturnya. Wardoyo