loading...
Loading...
Sekretaris Kopertais X Jateng, Ruswan saat menghadiri Pembinaan dan Monitoring di STIT Madina Sragen, Sabtu (19/10/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM-Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) X Jawa Tengah meminta semua stake holder perguruan tinggi swasta berbasis Islam bisa menyusun mimpi bersama. Pasalnya dengan mimpi bersama maka akan menyatukan visi dan membahas langkah untuk bisa meraih kemajuan.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Kopertasi Wilayah X Jawa Tengah, Ruswan saat memberikan pembinaan dan monitoring dalam kunjungannya ke Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Madina Sragen, Sabtu (19/10/2019) petang.

“Salah satu kunci untuk memajukan perguruan tinggi adalah menyamakan persepsi stake holder. Ketua, wakil ketua, ketua jurusan, dosen dan tenaga pengajar semuanya harus satu visi dan harus bisa mimpi bersama. Apa yang mau dimimpikan dan kemudian perlu membahas langkah bersama  berbagi tugas bagaimana bisa meraih mimpi itu. Insya Allah dengan begitu tidak ada kesulitan untuk membuat sebuah perguruan tinggi berkembang,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM, seusai acara.

Ruswan menguraikan di Jateng, jumlah perguruan tinggi swasta berbasis Islam yang bernaung di bawah Kopertais tercatat sebanyak 47 perguruan tinggi.

Menurutnya sejauh ini mayoritas masih eksis dan menunjukkan tren perkembangan positif.

Termasuk salah satunya STIT Madina Sragen, dinilai cukup bagus karena masih terus eksis di tengah realita sejumlah perguruan tinggi swasta Sragen yang akhirnya gagal bertahan.

Baca Juga :  Gelombang PHK Besar-Besaran di Sragen Terus Meluas, Ribuan Buruh Jadi Pengangguran Baru. Sejumlah Pabrik Mulai Terapkan Oglangan 

“STIT Madina Sragen ini berdiri sejak 2013 dan ada beberapa perguruan tinggi di Sragen tidak bisa bertahan. Ketika ada Perguruan Tinggi Islam yang bisa bertahan, tentu ini sebuah prestasi. Artinya ada kelebihan, ada kekuatan yang dimiliki STIT Madina ini yang tidak dimiliki PT lain,” urainya.

Ruswan (kanan) dan Muh Fadlan (kiri). Foto/Wardoyo

Lebih lanjut, Ruswan menguraikan ketika sudah mulai ads kepercayaan dari masyarakat, tinggal direspon, dijaga dan kemudian secara kontinyu beradaptasi memenuhi harapan dan kebutuhan di lapangan.

Ia memandang penting bagi sebuah perguruan tinggi untuk membaca apa yang dikehendaki masyarakat. Terlebih saat ini, prospek perguruan tinggi berbasis Islam terus menunjukkan tren positif dari waktu ke waktu.

“Perguruan Tinggi Islam melahirkan mahasiswa yang tidak hanya menguasai keterampilan sektoral sesuai bidang studinya. Tapi juga memiliki kemampuan bisa memiliki kemandirian, kreatif dan nilai lebih di lapangan. Itu yang selalu dibutuhkan masyarakat,” tukasnya.

Ia mencontohkan di STIT Madina, memiliki program studi PGMI, yang tak hanya menyiapkan tamatan yang punya kemampuan mengajar di MI. Namun juga punya kemampuan mengajar di SD.

Pendiri sekaligus Ketua STIT Madina Sragen, Muh Fadlan mengatakan STIT Madina berdiri sejak 2013 dan sudah enam tahun meluluskan mahasiswa.

Baca Juga :  UMK Sragen Terendah Kedua di Solo Raya, Dinas Klaim Belum Ada Keberatan dari Pengusaha 

Menurutnya, perkembangan dari tahun ke tahun cukup bagus dan jumlah mahssiswa selalu bertambah.

“Dosen-dosen di sini kami dorong kuliah S3. Kami juga terus berinovasi bagaimana menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat. Yakni kebutuhan tersedianya guru profesional, pendidik berakhlak, berbudaya dan beradab. Konsep itulah yang kita kembangkan. Jadi di STIT Madina ini kita berbasis riset tapi aspek kearifan lokal juga kita angkat jadi sebuah tren,” tuturnya.

Fadlan menyebut ada tiga program studi di STIT Madina. Yakni Manajemen Pendidikan Islam, PG PAUD/TK dan PG SD/MI. Dari ketiga prodi itu yang menjadi primadona adalah Manajemen Pendidikan Islam.

“Karena pendidikan bisa maju salah satunya ditopang faktor manajemennya,” pungkasnya. Wardoyo

Loading...