WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ribuan peserta memadati Pondok Pesantren Baitul Izza, Jatipurno, Wonogiri, dalam kajian keputrian bertema “Cintai Diri dengan Ilmu dan Adab Mulia” yang digelar Minggu (19/4/2026). Dari pagi hingga menjelang siang, suasana penuh antusias terasa kuat—bukan sekadar datang, tapi benar-benar menyerap pesan yang disampaikan dua pemateri dari Pondok Pesantren Gading Mangu, Perak Jombang Jatim: Dyah Puspitarini dan Miftahulati.
Acara yang digagas Yayasan Baitul Izza ini langsung mencuri perhatian. Ketua yayasan, H. Kardi Zicko, tak menutup rasa bangganya melihat lautan peserta yang hadir. Ia menegaskan harapan besar dari kegiatan ini.
“Kami berharap kegiatan ini terus istiqamah dan mampu melahirkan perempuan-perempuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia serta memberi manfaat bagi keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Kajian ini tidak bermain di permukaan. Materi yang disampaikan langsung menohok realita yang sering diabaikan. Dyah Puspitarini secara lugas mengangkat fenomena yang makin sering terlihat di kehidupan sehari-hari.
“Banyak yang pintar secara akademis, tetapi miskin adab. Atau sebaliknya, rajin ibadah tapi tidak mendalami ilmu,” ujarnya.
Kalimat itu seperti tamparan keras. Tidak sedikit peserta yang langsung terdiam, merenung, bahkan terlihat berkaca-kaca.
Materi dibagi dalam dua sesi yang saling mengunci. Miftahulati menekankan pentingnya perempuan menuntut ilmu tanpa kompromi. Sementara Dyah Puspitarini mengupas tuntas soal adab—mulai dari hubungan dengan orang tua, suami, hingga sesama manusia. Contoh nyata pun dihadirkan, termasuk keteladanan Aisyah dan para sahabat perempuan yang mampu menyeimbangkan ilmu dan akhlak.
Tidak sekadar duduk dan mendengar, suasana kajian hidup. Sesi tanya jawab berubah menjadi ruang curhat terbuka. Pertanyaan mengalir deras:
✓ Cara membagi waktu antara karier dan rumah tangga
• Strategi menjaga diri dari pergaulan bebas
✓ Tips tetap konsisten menuntut ilmu di tengah kesibukan
• Cara memperbaiki kebiasaan buruk yang sudah mengakar
Beberapa peserta bahkan terlihat sibuk mencatat, seolah tak ingin satu poin pun terlewat. Ada juga yang tak kuasa menahan haru saat kisah-kisah inspiratif disampaikan.
Kajian ini bukan acara sekali jadi. Ini agenda rutin bulanan yang sengaja dipusatkan di Masjid Baitul Izza untuk membangun kebiasaan positif. Dampaknya mulai terasa nyata di kalangan peserta.
Salah satunya diungkapkan Evhi (37), yang merasakan perubahan signifikan setelah mengikuti kajian.
Ia mengaku kini lebih memahami pentingnya mendahulukan adab sebelum ilmu, bahkan melihat perubahan lingkungan sekitarnya—kebiasaan menggunjing mulai berkurang, dan minat mengikuti pengajian meningkat.
Yang menarik, panitia tidak berhenti di sini. Mereka sudah menyiapkan langkah lanjutan yang lebih serius:
✓ Pembentukan kelompok mentoring kecil (halaqah)
• Penyusunan modul kajian tematik berkelanjutan
✓ Pendalaman materi agar tidak berhenti di teori
• Penguatan komunitas perempuan berilmu dan beradab
Di penutup kajian, Dyah Puspitarini kembali menegaskan pesan yang sulit dibantah.
“Perempuan harus terus menuntut ilmu, karena tanpa itu, perempuan berpotensi disibukkan oleh hal-hal yang kurang bermanfaat.”
Pesan ini terasa sederhana, tapi dampaknya dalam. Kajian ini bukan sekadar peringatan Hari Kartini—ini gerakan sunyi yang pelan tapi pasti mengubah cara berpikir perempuan tentang ilmu dan adab.
Jika konsisten dijalankan, digadang-gadang dari tempat ini lahir gelombang baru perempuan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kuat secara moral. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















