JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Antero Science Discussion, Dalam Promosi Gibran Rangkul Banyak Youtuber Muda dan Kreatif

Gibran Rakabuming Raka (3 dari kanan) dalam acara Antero Science Discussion digelar oleh Wikimedia dan saluran Youtube Kok bisa? bersama Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta di Auditorium G.P.H Haryo Mataram UNS, Sabtu (23/11/2019). Triawati PP

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Belajar ilmu pengetahuan seringkali memiliki kesan serius dan sulit. Terlebih jika belajar perihal sains. Untuk itu, sebuah diskusi dan gelar wicara bertajuk Antero Science Discussion digelar oleh Wikimedia dan saluran Youtube Kok bisa? bersama Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta di Auditorium G.P.H Haryo Mataram UNS, Sabtu (23/11/2019).

Hadir sebagai pembicara yakni Roby Muhammad, seorang dosen sekaligus saintis di Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, Bayu Skak dan Fergie JNX yang merupakan kreator konten Youtube, serta Gibran Rakabuming, seorang wirausaha muda yang memperkenalkan berbagai bisnis kulinernya dengan media sosial dan konten-konten menarik.

“Untuk membuat sebuah konten, apalagi mengenai sains, agar menyenangkan dan tidak monoton, yang diperhatikan pertama adalah visualnya. Visual yang memanjakan mata. Bagaimana kita memvisualisasikan beragam penjelasan akademik tersebut dengan suatu hal yang lebih ringan misalkan dengan animasi, motion dan lain-lain. Kemudian baru audio dan yang terakhir adalah teks,” jelas Roby membuka diskusi pagi itu.

Roby pun menyampaikan bahwa pembelajaran sains sosial dapat disajikan dengan menyenangkan apabila dikombinasikan dengan tiga hal. Yakni keahlian statistik, komputasi, dan kemampuan bercerita atau storytelling.

“Bercerita atau storytelling itu seperti drama. Ada plotnya, ada karakternya, pokoknya berkisah. Kontennya akan lebih masuk ke penonton dan mengajak penonton juga masuk ke konten kita. Jadi tidak bosan. Untuk menciptakan konten semacam itu, silahkan sering nonton drama, film dan baca karya sastra,” imbuh Roby.

Baca Juga :  Belum Bisa Direm, Total Positif Covid-19 Solo Jadi 609 Kasus

Sementara itu, Fergie JNX, mengajak para peserta diskusi untuk tetap menjadi diri sendiri ketika membuat sebuah konten. Tidak perlu selalu membuat konten yang sesuai dengan selera dan permintaan warganet.

“Masukan dan permintaan dari warganet tentu perlu didengarkan. Kita juga harus melihat perkembangan zaman dan pasar. Tapi tetap sajikan sesuatu yang menunjukkan diri kamu selama bermanfaat. Biarkan orang suka lihat konten kamu karena diri kamu, bukan karena kamu penghibur mereka,” tutur gadis lulusan Ekonomi ini.

Sementara itu, Gibran dan Bayu Skak yang ditampilkan dalam satu gelar wicara, sama-sama menekankan perihal semangat mempertahankan budaya dan produk lokal. Jika Bayu Skak membuat konten dengan tetap menggunakan bahasa Jawa, Gibran dalam berbagai bisnis kulinernya berusaha untuk terus menyajikan kuliner daerah.

Bagi Gibran, Semangat kedaerahan dan kekayaan Indonesia itu perlu dipertahankan. Yang perlu dilakukan di era millenial ini adalah mengemas produk-produk tersebut secara kekinian.

“Salah satunya dengan membuat konten-konten promosi yang menarik. Pengelolaan media sosial yang ringan. Saya juga berkolaborasi dengan banyak Youtuber kreatif dan muda seperti Arnold. Saya butuh tempat promosi, dia butuh konten. Jadi kolaborasi itu penting, bukan masalah uang tapi saling bertukar nilai apa yang bisa diberikan satu sama lain,” ujar Gibran.

Baca Juga :  Rekontruksi Penyerangan Mertodranan Solo, Tersangka Jalani 77 Adegan, Ternyata Provokasi Berawal dari Grup WA

Antero pertama kali digelar pada Desember 2018 dan telah menyambangi lima kota besar di Indonesia, seperti Surabaya, Malang, Semarang, Yogyakarta dan Jakarta. Akhir tahun 2019 ini, Antero menyambangi Solo atas banyaknya permintaan baik dari pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum.

“Kami ingin membuat diskusi pengetahuan tapi yang menyenangkan. Bagaimana menghadirkan ilmuwan sekaligus konten kreator atau influencer di satu panggung untuk berkolaborasi,” tutur Ketut Yoga Yudistira, Founder & CEO Kok Bisa?.

Antusiasme terhadap acara ini juga luar biasa. Sejumlah 2.500 orang mendaftar yang terseleksi menjadi 1.400 peserta. Kedepannya, Ketut berharap Antero terus menjadi media diskusi sains yang menyenangkan sehingga diskusi sains bukan lagi merupakan hal yang serius tetapi suatu hal yang mainstream.

“Di Antero ini juga menjadi ajang kolaborasi dengan banyak teman yang hadir. Kami berharap juga dapat berkolaborasi dengan dosen dan mahasiswa UNS,” pungkas Ketut dalam rilis, Minggu (24/11/2019). Triawati PP