JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Fakta Mengejutkan di Balik Ganasnya Penyebaran HIV/AIDS di Sragen Yang Menjangkiti 1.171 Warga. Ternyata 50 % Lebih Penyebabnya Karena Ini!

Tes HIV/AIDS di Pasar Bunder. Foto/Wardoyo
Tes HIV/AIDS di Pasar Bunder. Foto/Wardoyo

SRAGEN,JOGLOSEMARNEWS.COM Sebanyak 18 warga Sragen dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit HIV/AIDS di 2019 ini. Tak hanya itu, jumlah kasus penderita penyakit mematikan itu kini sudah mencapai 1.171 orang.

Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen pun menguak faktor pemicu penyakit yang konon disebut penyakit paling berbahaya dan hingga kini belum ada obatnya.

Kepala DKK Sragen, Hargiyanto melalui Kabid P2PL, Agus Sudarmanto mengungkapkan dari hasil analisa dan evaluasi penyakit HIV/AIDS yang terjadi di Sragen, penyebab tertinggi masih ada pada faktor hubungan seks.

Hubungan seks bebas dan gonta ganti pasangan merupakan penyumbang terbesar dari banyaknya kasus AIDS di Bumi Sukowati.

“Hampir 50 persen lebih penularannya karena seks dan gonta-ganti pasangan. Untuk penyebab tranfusi darah nol. PMI bagus screening donornya,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM kemarin.

Dari aspek profesi, juga menunjukkan grafik mengejutkan. Pengidap terbanyak AIDS di Sragen justru diduduki ibu rumah tangga.

Sedangkan wanita pekerja seks atau wanita tuna susila (WTS) justru malah sedikit. Agus menyebut tingginya ibu rumah tangga mengidap AIDS bukan melulu karena faktor tertular suaminya yang sering jajan di luaran.

Baca Juga :  Bikin Miris, Berikut Daftar 19 Warga Sragen Positif Terpapar Covid-19 Hari Ini. Ada 6 Orang asal Mondokan dan 7 Orang dari Sidoharjo

“Nggak juga begitu dan nggak selalu karena faktor suaminya. Karena populasi pria risiko tinggi atau high risk man juga nggak banyak. Mungkin yang bahaya laki suka laki dan di Lapas,” terangnya.

Untuk itu, ia menekankan salah satu upaya mencegah penularan adalah dengan memeriksakan VCT sejak dini. Kemudian menghindari perilaku-perilaku seks bebas yang memang rawan menularkan.

“Kalau hanya sekadar ciuman, pegangan tangan, handuk, itu sebenarnya nggak menularkan,” terangnya.

Berdasarkan data akhir September, jumlah kasus HIV/AIDS di Sragen mencapai 1.171 orang. Jumlah itu merupakan akumulasi dari tahun 2000 hingga 2019.

Untuk tahun 2019, jumlah kasusnya tercatat sebanyak 165 kasus dengan rincian 124 HIV dan 41 AIDS.

Sementara di 2018, jumlah kasus total selama setahun mencapai 227 kasus dengan 10 korban meninggal.

Agus mengakui dari segi jumlah, kasus AIDS di Sragen memang menunjukkan tren meningkat dari tahun ke tahun.
Namun peningkatan itu bisa dilihat dari aspek positif maupun negatif.

“Dari aspek negatif, kenaikan itu mengasumsikan kasusnya tambah. Tapi sisi positifnya, bisa saja kenaikan kasus itu karena makin aktifnya finding (pencarian) lewat deteksi dini dengan VCT mobile, konseling testing dari petugas. Sehingga jumlah yang diperiksa makin banyak, karenanya dimungkinkan kasus yang ditemukan juga tambah banyak,” urainya.

Baca Juga :  Pecah Rekor Baru Covid-19 Sragen, Hari Ini 47 Warga Positif Berhasil Sembuh dan Dipulangkan. Total Sudah 349 Pasien Covid-19 Sembuh, 62 Meninggal Dunia

Menurut Agus, angka kasus yang terdata memang kumulatif dari pertama kali ditemukan hingga saat ini.

Hal itu dikarenakan orang dengan HIV AIDS (ODHA) akan terus tercatat di data sebelum mereka pindah atau meninggal dunia.

Perihal meningkatnya jumlah korban meninggal, ia menyebut perlu pencermatan kasus per kasus.

Dimungkinkan peningkatan itu karena adanya infeksi oportunistik atau penyakit penyerta yang diderita ODHA.

“Mungkin juga menderita TBC atau Kanker sehingga memicu ODHA mengalami kematian. Karena secara karakteristik, HIV/AIDS itu tidak membunuh tapi membuat kita gampang dibunuh. Ini karena HIV/AIDS itu menyerang dan melumpuhkan sistem kekebalan tubuh,” tukasnya.

Ditambahkan, upaya pencegahan juga terus digencarkan. Bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), dinas terus menggencarkan sosialisasi bahaya AIDS, pemeriksaan dan deteksi dini serta pemberian layanan pemeriksaan dan pengobatan bagi mereka yang ditemukan positif.

“Yang ketemu (positif), bisa langsung ditangani dengan diobati ARV dan kalau rutin pengobatan, bisa survive,” tukasnya. Wardoyo