JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Tokoh Koalisi Parpol Sragen Tuding Kegiatan Bersama PNS Tiap Jumat Memakai Kaos Bupati, Bentuk Kekhawatiran Jelang Pilkada 2020. Benarkah?

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati bersama jajaran PNS meninjau jaring pembatas di jembatan Sungai Garuda. Foto/Istimewa
Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati bersama jajaran PNS meninjau jaring pembatas di jembatan Sungai Garuda. Foto/Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Tokoh perintis koalisi parpol di luar PDIP menyoroti gencarnya kegiatan petahana sekaligus Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati menggelar kegiatan tiap hari Jumat dengan PNS.

Kegiatan berolahraga dan berkumpul bersama PNS dengan mengenakan kaos bergambar bupati itu dinilai sebagai bentuk kekhawatiran bupati menghadapi Pilkada Sragen 2020.

Pendapat itu disampaikan oleh Heri Kistoyo, salah satu tokoh politik sekaligus perintis poros parpol-parpol yang mengusung perubahan di Pilkada 2020.

Heri yang pada Pilkada 2016 mendukung Yuni-Dedy dan kini memutuskan pindah ke lain hati itu menuding kegiatan mengumpulkan PNS dengan kaos bergambar bupati tiap Jumat, adalah bentuk kekhawatiran berlebihan dari bupati.

“Kalau kami melihat, itu bentuk kekhawatiran bupati menjelang Pilkada. Kalau dia sudah merasa bagus dan di atas angin, mestinya hanya diam dan tinggal duduk saja, pasti akan menang. Karena khawatir, makanya sekarang gencar tiap Jumat mengumpulkan PNS dan memakai kaos gambar bupati,” paparnya kepada wartawan, Sabtu (28/12/2019).

Heri kemudian menyebut bahwa selama ini ia memandang bahwa bupati tidak memiliki produk eksekutif yang istimewa. Namun ia menyebut bahwa upaya mengondisikan PNS dengan gencar merangkul dan memakaikan kaos bupati itu, nantinya tak akan berpengaruh banyak.

Hal itu didasarkan pada tren mentalitas PNS terkait dukungan Pilkada selama ini, biasanya justru terbalik dan akan mengikuti riak yang terjadi di lingkungannya.

“Itu nggak akan ngaruh. Kami sudah membaca mentalitas PNS itu nanti akan kalah dengan kondisi di lingkungannya,” tukasnya.

Baca Juga :  Bona Sinaga, Amran Sinaga dan Suherno Siburian Digerebek Saat Asyik Main di Masaran Sragen. Polisi Amankan Satu Tikar dan Uang Rp 700.000

Ia juga memastikan saat ini poros parpol non PDIP sudah mengerucut untuk mengusung dua kandidat yang akan disiapkan guna melawan petahana.

Heri mengklaim parpol yang sementara sudah mengerucut untuk satu kemudi adalah Golkar, Nasdem, PAN, Demokrat, dan Gerindra plus PKB yang menurutnya juga sudah merapat karena tak ingin kehilangan meomentum.

“Untuk kandidat calon yang akan diusung sudah fix, dan kami tidak akan menunggu maupun tergantung pada siapa pasangan yang akan direkomendasi PDIP. Bagi kami, PDIP di Sragen tidak begitu harus ditunggu, siapa yang akan direkom di PDIP bagi kami tidak masalah. Justru yang terpenting saat ini, koalisi parpol sudah makin mantap dan kandidat juga sudah ada. Tinggal menunggu momentum untuk dideklarasikan,” tuturnya.

Sebelumnya, tokoh lainnya, Syaiful Hidayat menyebut dua kandidat memang sudah dibahas dan mayoritas parpol-parpol koalisi sepakat.

Tanpa menyebut nama, ia membocorkan bahwa dua kandidat yang akan diusung koalisi parpol itu berlatar belakang pengusaha dengan pendidikan mumpuni.

Yang satu profesor sekaligus guru besar universitas terkemuka dan pendampingnya adalah doktor yang juga pengusaha.

“Dua-duanya putra asli Sragen,” kata dia.

Sementara, sebelumnya, Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat dikonfirmasi perihal indikasi mobilisasi PNS dan Perdes, membantah telah melakukan mobilisasi PNS untuk kepentingan politiknya. Kegiatan yang selama ini diikutinya adalah murni kegiatan pemkab dan dirinya datang selaku bupati.

Baca Juga :  Gagal Maju Pilkada Sragen Karena Terjegal Rekom Parpol, Sukiman Tegaskan Tak Akan Bubarkan Tim Pemenangan. Tebar Isyarat: Tunggu Saya di 2024!

“Sekarang juga belum masuk tahapan Pilbup, jadi tidak ada istilah kampanye terselubung. Semua berjalan sesuai aturan dan tidak ada yang dilanggar,”
ujarnya kepada wartawan belum lama ini.

Yuni justru mengajak Bawaslu untuk ikut hadir dalam berbagai kegiatan pemkab yang melibatkan bupati. Disitu nanti Bawaslu bisa melihat apakah ada unsur kampanye atau tidak dalam kegiatan tersebut.

“Silakan teman-teman Bawaslu ikut kegiatan bupati untuk melihat langsung. Mari kita lakukan bersama-sama dengan semangat yang sama demi kebaikan Sragen,” tambahnya.

Bupati yang akrab disapa Mbak Yuni itu juga menanggapi santai soal tudingan kegiatan roadshow Gertak Germas dan pembinaan mental PNS dianggap diselipi kepentingan politisnya menuju Pilkada 2020 yang sempat disorot sejumlah fraksi DPRD beberapa waktu lalu.

Bupati menampik jika kehadirannya berkeliling di dua kegiatan itu sebagai kampanye terselubung menjelang Pilkada 2020.

Ia menguraikan kegiatan pembinaan mental PNS dan pengajian itu sebenarnya agenda rutin Pemkab. Jika dulu digelar sebulan sekali, karena anggarannya diadakan di perubahan, maka untuk tahun ini dipadatkan menjadi 20 hari berturut-turut.

Ia merasa tak menyelipkan ajakan untuk mengkampanyekan dirinya atau muatan politis. Ia juga menyebut apa salahnya jika dalam penyampaian di kegiatan itu, ada dukungan dan ajakan warga untuk ayo milih Mbak Yuni.

Ia justru memandang dukungan yang muncul dari warga itu bukti kecintaan kepadanya sebagai bupati.

“Apa ya akan saya tolak,” jelasnya. Wardoyo